oleh

Aa Nasir : Kisah Sepucuk Surat KH Noer Iskandar SQ Dan Mimpi Bersama Kang Sa’id

KICAUNEWS.COM – Dari berbagai literasi tentang makna Mimpi secara ilmiah adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).

Lukisan yang berjudul “The Knight’s Dream” karya Antonio de Pereda, Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Pengecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan kadang-kadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut. Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Ilmu yang mempelajari mimpi disebut oneirologi.

Namun jika kita menilik sejarah dan banyaknya fakta yang terjadi, baik yang dialami para Nabi seperti misal kisah mimpi Nabi Yusuf AS , para Waliyulloh maupun manusia umum lainnya tidak sedikit kejadian-kejadian bermula dari sebuah ikhtibar mimpi. Namun ada yang diberitakan dan ada yang hanya menjadi catatan pribadinya.

Karena tiba-tiba semalamnya saya mimpi sholat berjamaah dengan ketua Umum PBNU Prof.DR.KH Said Aqil Siradj bertiga dengan salah seorang yang tak saya ingat tapi sepertinya kenal, beliau yang menjadi imamnya, saya duduk di shaf sebelah kanan dan yang menemani di sebelah kiri di lokasi seperti mirip masjidil harom yang anehnya dengan pohon kurma yang rindang bahkan seperti dalam kenyataan hingga langsung sampai proses doa berakhir.hal yang saya Kaget mimpi sholat berjamaah bersama seorang ulama besar di tempat yang mulia.

Semoga menjadi keberkahan. Walhasil paginya saya cari-cari file dan memang sangat minim dokumentasi akibat big data saya yang hilang 10 tahun lalu. hanya foto ini saja yang tersisa ini pun di dapat dari KH Aceng Mujib (ceng Jijib) pimpinan ponpes Fauzan Garut saat silaturahmi ke PBNU 5 tahun silam , ditambah dulu itu kalau foto ya tidak sehebat sekarang yang serba digital namun apapun itu sebuah catatan tidak akan pernah hilang dalam setiap perjalanan.

Baca juga :  Siapa Bakal Dampingi Isdianto Di Pilkada Kepri?

Saya sangat bersukur sering dipertemukan dan didekatkan dengan ulama-ulama soleh serta orang-orang pilihan lainnya, walaupun saya bukan siapa-siapa, saya hanya anak kampung dari Limbangan-Garut yang rendah secara ke ilmuan kalau bahasa sunda “teu harta teu harti”, namun subhanalloh walhamdulillah setidaknya ulama-ulama adalah guru-guru, baik secara langsung atau tidak langsung. Dan saya sangat meyakini dan banya merasakan keberkahannya.

Kisahnya saat saya masih jadi Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Islam Asyafi’iyah -Jakarta, kebetulan memiliki kedekatan khusus dengan Ulama besar di Jakarta KH Noer Iskandar SQ (GusNur) Pimpinan Ponpes Assidiqiyah, karena ada saudara yang memperkenalkan. Sering bersilaturahim dengan beliau dan diajak beberapa kali pada kegiatan di luar Jakarta seperti pada musyawarah Alim Ulama di Sukolilo – Surabaya sekitar Tahun 2000 bahkan saya dilarang istirahat beda kamar sama beliau.

Lalu Saya di perkenalkan oleh KH Noer Iskandar SQ tersebut pada tahun 1998 yang merupakan sahabat se kobong/sekamarnya, melalui sepucuk surat dari GusNur yang harus saya sampaikan langsung kepada KH Said Aqil saya tidak berani baca surat yang tertulis dengan bahasa arab tersebut bertuliskan arab dan berbahasa arab berkop kan ponpes asidiqiyah Jakarta hingga sampailah surat pribadi itu ke tangan beliau.

Semenjak itu alhamdulillah kedekatan terjalin, saya di telpon oleh Kang Said (Sapaan akrab KH Said Aqil) untuk hadir di Arena Mukhtamar NU di Ponpes Lirboyo-Kediri tahun 1999 saat itu beliau belum menjadi ketua umum masih dalam jajaran Ketua. Di sela-sela kesibukan mukhtamar saya di ajak mengunjungi kamar bekas Beliau Mondok di pesantren yang memiliki santri Puluhan ribu dengan toilet terpanjang. Ditemani malamnya sambil diskusi sama Prof.DR. Fachry Ali dan sama anggota dpr RI salahsatu ketua PBNU dari fraksi PG saya lupa namanya karena beliau sudah meninggal badannya agak tinggi.

Baca juga :  Bhabinkamtibmas Polsek Cisaga Monitoring Persiapan Kegiatan Pilihan Kades PAW Desa Tanjungjaya

Komunikasi dengan Kang Sai’d cukup intens hingga Tahun 2005. Sehubungan beliau kemudian menjadi Ketua Umum PBNU serta no kontak hilang maka terputuslah komunikasi cukup lama.

Terakhir bertemu di kantor PBNU dengan pimpinan PCNU dan ulama dari Garut sekitar 5 tahun lalu, dan menemani sarapan pagi di salahsatu penginapan di Cipanas -Garut, terlepas banyak yang memandang kontroversi saya cukup memahami, dan begitulah keunikan Kiya-kiyai NU, beliau sangat cerdas, tentunya diatas rata-rata dengan daya ingat yang luar biasa. karena dulu sesekali mengikuti kajian kitab kuning majelis reboan yang dihadiri terbatas, di Kediamannya dulu di Ciganjur sekomplek dengan Alm Gusdur sebelum pindah ke seputar Jagakarsa -Jaksel dan saya menjadi saksi berkali-kali bahwa beliau adalah orang yang sangat baik, rendah hati, suka membantu tanpa pamrih pada siapapun walaupun misal orang itu baru kenal, sangat ramah, dan banyak hal lain kebaikannya, Semoga sehat selalu Kyai dan subhanalloh semoga mimpi itu menjadi ikhtibar kebaikan untuk Umat .

Penulis : Aceng Ahmad Nasir ( Aa Nasir)
Ketua Karukunan Tatar Sunda (KTS)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru