oleh

Mereka Bukan Anggota NATO 

KICAUNEWS.COM – Diantara keistimewaan para ulama terdahulu adalah mereka bukan hanya kaya ilmu tetapi akhlaq mereka juga bermutu (akhlaqul karimah). Ilmu dan wawasan mereka sangat luas dan akhlaknya berkelas, mereka mewarisi ilmu dan akhlak Nabi. Mereka bukan anggota NATO (No Action Tak Only) mereka adalah kelompok “Talkless Do More” atau Rojulun Fa’al (manusia yang amalnya menyatu dengan perbuatannya, mereka lebih banyak berkarya dari pada berbicara) mereka adalah teladan dalam perbuatan dan ucapan.

Imam Syafi’ii misalnya, beliau bukan ulama biasa, beliau adalah ulama luar biasa yang ilmunya seolah seluas samudera dan akhlaknya sungguh mulia. Suatu hari saat beliau akan menunaikan ibadah haji, ditengah perjalanan, karena kelelahan ia bersama sahabatnya beristirahat dan mendirikan tenda di sisi jalan sebuah desa. Mendengar kedatangan Imam Syafi’ii dan sahabatnya, para penduduk desa menemui Imam syafi’i.

“Assalamualaikum tuan,” sapa para penduduk.

” Wa’alaikum salam”, jawab Imam Syafi’ii.

“Apakah tuan mempunyai persediaan makanan?, kami membutuhkan makanan tersebut, sebab sudah sejak lama desa kami dilanda kelaparan.” pintar wakil penduduk desa.

” Aku tidak punya makanan untuk dibagikan, tetapi aku punya simpanan uang 10 dinar untuk bekal melanjutkan perjalanan menuju kota Mekkah.

“kalau begitu, bolehkah tuan memberikan separuh dinar yang tuan miliki kepada kami, pinta wakil dari penduduk desa yang kelaparan tersebut.

” Maaf saudaraku, aku tidak akan memberikan separuh dari dinar yang kumiliki, jawab Imam Syafi’ii.

“Kenapa tuan tidak bersedia?”, tanya wakil penduduk desa.

” Aku akan memberikan uang dinar yang kumiliki, jika kalian mau menerima semuanya, bukan separuhnya”, jawab Imam Syafi’ii, mantap.

Mendengar jawaban tersebut tentu saja penduduk desa tersebut merasa heran, lalu bertanya,

Baca juga :  Polsek Lembang Laksanakan Giat Percepatan penanganan Covid 19

” Wahai tuan, kenapa kami minta separuh tuan tidak bersedia, malah memberikan kami semuanya?”.

“Memberikan setengah kepada orang yang membutuhkan adalah perbuatan yang kurang baik, sedangkan memberikan seluruhnya adalah perbuatan terpuji, jawab Imam Syafi’ii. Kemudian tanpa ragu Imam Syafi’ii memberikan seluruh uang dinar yang dimilikinya kepada penduduk desa yang membutuhkan tersebut. Setelah itu,
Wakil penduduk desa tersebut mengucapkan terima kasih kepada Imam Syafi’ii dan mohon pamit.

Melihat kejadian tersebut, sahabat Imam Syafi’ii yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, segera menghampiri Imam Syafi’ii dan bertanya,

” Wahai Imam Syafi’ii, apa yang kau lakukan?

” Aku memberikan seluruh uang dinar simpananku kepada mereka yang sangat membutuhkan”, jawab Imam Syafi’ii dengan tenang.

” Bukankah perjalanan kita menuju Mekkah masih sangat jauh, bagaimana kita akan bisa sampai ke sana jika kita tidak punya bekal?”, tanya sahabat Imam Syafi’ii.

Sambil tersenyum Imam Syafi’ii menjawab :

” Demi Allah, itu bukan urusanku, melainkan Allah yang Maha Pengasih yang akan menjawabnya. Bukankah kita dianjurkan untuk menginfaqkan harta, karena Allah akan melihat amal saleh kita dimana saja, demikian jawab Imam Syafi’ii.

Maasya Allah, semoga kita bisa seperti Imam Syafi’ii.

Oleh : Agus Fatah

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru