oleh

Penataan lahan Persawahan di Desa Mergawati Kroya Cilacap Berbuntut Soal Keuangan

Cilacap, Kicaunews.com — Penataan lahan hijau pesawahan berupa gumuk atau tanah yg lebih tinggi permukaan tanahnya di tengah sawah di Desa Mergawati kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap sisakan persoalan keuangan antara pemerintahan Desa Mergawati dan Pelaksana pengerukan tanah.

Persoalan awal adalah turunnya eksavator yang rencana bertujuan mengeruk tanah gumuk di Desa Mergawati yang kemudian di tolak pemerintahan Desa Mergawati dan juga jalan yang menuju lokasi tanah gumuk di pesawahan Desa Mergawati di tutup portal yang bertuliskan Karang Taruna Desa Mergawati.

Setelah permintaan tentang persyaratan keterangan dari Dinas dapat di usahakan oleh pihak pelaksana penataan pengerukan gumul di Desa Mergawati maka Pemerintahan Desa Mergawati akhirnya bersedia menyempatkan waktu untuk bermusyawarah dengan pelaksana pengerukan tanah gumuk asal ada surat yang di ketahui dari Dinas terkait tentang adanya rencana pengerukan tanah gumuk yang berada tengah persawahan di Desa Mergawati.

Dari Perwakilan penyelenggara pelaksanaan pengerukan tanah gumuk di Desa Mergawati adalah Tawin warga Banjarwaru kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap.

Hadir dalam Acara Musyawarah rencana pengerukan tanah diantaranya Kepala Desa Mergawati Agus , Ketua BPD ,Ketua dan warga RT , Babinsa ,Babinkamtibmas , perwakilan Satpol PP kab Cilacap ,Kasi Trantib Kecamatan Kroya,para pemilik tanah yang di keruk serta Tawin dari perwakilan pelaksana pengerukan.

Dari hasil musyawarah di tentukan sejumlah nominal yang harus di keluarkan oleh pelaksana penggarap pengerukan tanah yaitu Rp 68.000.000 untuk di serahkan ke pemerintahan Desa untuk kompensasi jalan Desa yang di lalui , dan juga pelaksana pengerukan tanah harus memberikan uang kepada Karang Taruna serta juga memberikan Kompensasi kepada sekitar 100 warga RT yang terkena imbas debu dan kebisingan serta memberikan kompensasi kepada pemilik sawah yg di lalui dan juga memberikan uang Rp 1,500.000 kepada kaur Mirin.Dan apabila pelaksana tidak menyetujui permintaan uang yang ditentukan maka pelaksana pengerukan tanah tidak di perbolehkan melakukan kegiatan pengerukan tanah gumuk di Desa Mergawati.

Baca juga :  Pastikan Aman, Kapolsek Kotabaru Polres Karawang Cek Jaga Tahanan

Tawin mengatakan kepada awak media Kicau news sebenarnya merasa tertekan dengan pengajuan jumlah nominal yang di ajukan oleh kepala Desa Mergawati dan Ketua BPD Mergawati namun karena sudah terlanjur rencana pengerukan sudah di niati daripada batal maka hal tersebut di iya kan saja untuk menyepakati dari jumlah nominal uang yang di minta oleh Kepala Desa Mergawati dan Ketua BPD Mergawati.

Setelah diadakan penandatanganan berita acara tentang uang yang harus diberikan pelaksana penggarapan pengerukan lahan kepada Pemerintahan Desa Mergawati , Karang Taruna , warga RT yang terkena imbas , Kaur Mirin dan pemilik sawah yg di lalui armada Dump truck maka kegiatan pengerukan tanah Gumuk di Desa Mergawati Kroya Cilacap selanjutnya di jalankan hingga selesai.

Namun di saat selesai pekerjaan pengerukan lahan gumuk di pesawahan Desa Mergawati terjadi perselisihan antara pemerintahan Desa Mergawati dan Tawin selaku pelaksana pengerukan tanah gumuk di Desa Mergawati .

Karena di saat pengerukan tanah gumuk di Desa Mergawati telah selesai ternyata pihak pemerintahan Desa menanyakan tentang uang yg telah di tulis di berita acara Musyawarah di pendopo Balai Desa Mergawati oleh pelaksana pengerukan tanah ternyata belum sepenuhnya uang yang diminta pemerintahan Desa Mergawati masih belum lunas.

Kemudian kembali ada pemanggilan segera diadakan pertemuan di pendopo Balai Desa Mergawati yang di hadiri oleh Tawin yang di temani Parno sebagai pendana keuangan , Kepala Desa Mergawati Agus , ketua BPD , Warga RT ,dan juga anggota Karang taruna.

Belum sepenuhnya pembayaran ke pihak Pemerintahan Desa Mergawati di karenakan pendana dari pelaksanaan pengerukan tanah mengaku rugi dengan pelaksanaan pengerukan tanah gumuk yang harus mengeluarkan uang cukup besar untuk pembayaran yang di minta.

Baca juga :  Bumdes Mukti Jaya Belum Jelas, Ini Harap Para Pengurus Bumdes

Saat Parno sedang menjelaskan tentang kerugian uang dari pelaksanaan pengerukan tanah di Desa Mergawati di acara pertemuan di pendopo Balai Desa tersebut dengan di saksikan seluruh yang hadir ketua BPD Mergawati mengusir Parno .

Dengan alasan Parno tidak di undang di acara pertemuan di Balai Desa tersebut maka Parno tidak di perbolehkan oleh ketua BPD Mergawati ikut dalam pertemuan tersebut.

Saat di usir di pertemuan tersebut Parno sedang meminta kebijakan karena jumlah volume tanah yang diambil tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan saat musyawah yang lalu yang di katakan 4000 rit ternyata hanya 2170 rit sedangkan uang yang di minta kepala Desa Mergawati dan Ketua BPD Mergawati untuk kopensasi lumayan besar sehingga ingin menambah lokasi yang lain yang berada di Desa Mergawati untuk menutup kerugian.

Namun keinginan Parno dan Tawin di tolak Kepala Desa Mergawati dan Ketua BPD Mergawati dan agar pelaksana segera melunasi kekurangan dari uang yang di tentukan saat musyawarah sejumlah Rp 68.000.000 baru di berikan sekitar Separonya.

Karena mengaku rugi dan sudah tidak ada uang lagi untuk anggaran yg disediakan maka Tawin pun pasrah tidak mampu membayar pelunasannya.

Tawin selaku pelaksana pengerukan tanah gumuk di Desa Mergawati menjelaskan kepada awak media Kicau news Sabtu 19/9/2020 bahwa kerugian yang alami sekitar Rp 90.000.000 sehingga dirinya mengaku tak mampu memberikan ke uangan yang di minta oleh Kepala Desa Mergawati selaku pemerintahan Desa Mergawati sedangkan untuk pemilik sawah yg di lalui dan juga untuk Karang taruna Desa Mergawati uang sudah di berikan lunas semua. (Mugiono)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru