oleh

Quo Vadis Pecandu Narkoba : ” Penjara atau Panti Rehabilitasi ???…. “

Jakarta, Kicaunews.com – Kehidupan masyarakat yang tenang mendadak guncang karena pandemi Covid19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Selalu ada keberkahan di tengah kemalangan.

Mayjen Pol. (P) Drs. IGM Putera Astaman yang mendapatkan pembelajaran melihat Pemerintah RI menangani pandemi Covid19. Putera Astaman mengamati seksama ketika Pimpinan tertinggi negeri ini mengeluarkan Instruksi Presiden, menggalang seluruh kekuatan, memotong anggaran kementerian, mencari pinjaman luar negeri demi menyelamatkan anak bangsa. Virus tak kasat mata ini menimbulkan keresahan. Negara dalam bahaya! Darurat Covid19. Media menghitung jumlah pasien setiap hari, mana yang sembuh dan mana yang meninggal.

Putera Astaman berpikir dan berpikir. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) – Rapid Test – PCR/Swab Test. Hal yang seharusnya juga diterapkan dalam penanganan narkoba. Tidak bisa dikerjakan dengan kecil – kecilan. Judul tulisannya adalah : ” Penanganan Darurat Narkoba dengan Kelola Sosial Berskala Besar “.

Pecandu harus direhabilitasi karena jumlahnya banyak, jadi penanganannya harus dalam skala besar. Pecandu itu virus, tak kasat mata, sangat menular dan berkembang cepat. Pecandu yang tidak masuk panti rehabilitasi akan berkumpul dengan sesama pecandu, membentuk komunitas. Tidak heran jika seorang artis menjadi pecandu, maka pengedarnya adalah orang di lingkaran artis itu sendiri. Mereka saling menjaga, sebuah hubungan simbiosis mutualisme.

Merehabilitasi pecandu membutuhkan dana yang luar biasa besar. Itu betul !!!…. Kita tidak punya pilihan lain, kecuali merehabilitasi mereka supaya virus itu tidak menyebar lebih luas. Sebaran yang terlalu luas tidak mungkin bisa dikendalikan lagi. Bangsa Indonesia harus bersiap kehilangan 1 (satu) generasi. Indonesia Emas mungkin juga harus dikoreksi karena generasi emas yang diharapkan hanya menghasilkan generasi karatan, loyo digerogoti barang haram.

Baca juga :  Kegiatan Ton Dalmas Gabungan Polsek Jajaran Dalam Operasi Yustisi

Proses rehabilitasi tidak selesai dalam hitungan tahun. Pembinaan mereka yang telah menjalani rehabilitasi berlangsung sepanjang hayat. Setiap saat mereka bisa kambuh (relaps). Keluarga harus memberikan dukungan, bersama – sama berada dalam sebuah komunitas yang saling mendukung, agar tidak ada tertinggal atau merasa ditinggalkan. (Tommy/Helena)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru