oleh

Makin Marak Pembelian BBM Ilegal dengan Menggunakan Modifikasi Truk Bak Terbuka, Diduga Untuk Memperkaya Diri Sendiri dan Organisasi Tertentu

Semarang, Kicaunews.com – Jika melihat Undang-Undang (UU) Migas Nomor 22 Tahun 2001 pasal 55, siapa saja yang menjual bensin eceran termasuk Pertamini dapat dikenakan sanksi pidana. Yakni 6 tahun atau denda maksimal Rp 60 miliar.

Terkait dengan pengisian BBM Premium oleh SPBU ke konsumen gunakan jerigen jelas melanggar peraturan yang sudah ditetapkan dan harus menjaga keselamatan bersama. Pemerintah pusat telah menerbitkan Peraturan Presiden No 15 tahun 2012 tentang harga jual eceran dan pengguna jenis BBM tertentu, tidak terkecuali larangan SPBU tidak boleh melayani konsumen dengan menggunakan jerigen dan menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi serta menjual ke pabrik-pabrik industry home atau rumahan dan industry untuk mobil-mobil galian C.

Jika diduga telah melanggar aturan dan juga tidak safety, apalagi jerigen terbuat dari plastik. Bensin dapat terbakar karena panas. Baik itu panas knalpot, udara, dan api. Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2012 telah diatur larangan dan keselamatan. Peraturan itu menerangkan secara detail tentang konsumen pengguna. SPBU tidak diperbolehkan melayani jerigen.

Pada dasarnya kegiatan usaha Pertamini boleh dilakukan kalau punya izin dan jika tidak memiliki izin usaha, maka dapat dipidana dengan Pasal 53 UU 22/2001:

Setiap orang yang melakukan:
a. Pengolahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Pengolahan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling tinggi Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

b. Pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Pengangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling tinggi Rp40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah).

c. Penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Penyimpanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah).

Baca juga :  Masjid Jami Asyafiiyah dan Majelis Rasulullah Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

d. Niaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Niaga dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah).

Sedangkan jika yang dijual adalah BBM bersubsidi, maka dapat dipidana dengan Pasal 55 UU 22/2001: Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp. 60.000.000.000 (enam puluh miliar rupiah).

MASIH BERSUBSIDIKAH PREMIUM?

Sejak 2015 pemerintah tidak lagi mensubsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium sesuai Peraturan Presiden nomor 191/2014.

Tapi maksud tidak disubsidi adalah tidak menggunakan APBN tapi pemerintah mengalihkan / melempar tanggung jawab pengalihan subsidi energi dari APBN ke badan usaha milik negara (BUMN). Subsidi tetap berjalan atas nama BBM Penugasan dan BBM satu harga dengan selisih harga jual yang ditanggung oleh Pertamina.

Hal ini terjadi tepat pada pukul 03.45 WITA, diseputaran area Semarang barat hampir mendekati Mangkang atau tepatnya jalur Pantura Kendal-Semarang.

Ironi memang tatkala memasuki situasi AKB (Adaptasi Kegiatan Baru) dan New Normal pasca pandemi, disinyalir masih berkeliaran truk-truk bak terbuka yang sudah dimodifikasi guna melakukan kegiatan ilegal nya untuk memperkaya diri sendiri dan organisasi tertentu.

Ketika team awak media mencoba menghampiri truk yang sedang mengisi solar dengan jumlah pengisian nilai rupiah Rp.350.000, dan jumlah liter, 67.962 Liter, lalu menanyakan kepada sopir tersebut yang tidak mau untuk diambil gambarnya, mengaku mobil truk tersebut mengangkut pakan ayam, tapi setelah dicoba diklarifikasi soal surat jalan oleh awak media, sang sopir tersebut tidak memberikannya dan ketika pun ditanyakan soal pemilik atau Bos, dan perusahaan pakan ayam nya tersebut hanya menjawab ” anda tidak perlu tahu “.

Baca juga :  Kapolres Sinjai Serahkan APD Kepada Para Bhabinkamtibmas Polres Sinjai

Waktu team awak media hendak menyuruh sopir tersebut menepikan truknya selepas pengisian BBM jenis Solar tersebut, bukannya menepi akan tetapi malah melajukan kendaraan truknya dengan kencang menuju arah kota Semarang-Mangkang.

Maka team pun yang makin mencurigai akan kelakuan sang sopir tersebut, mencoba mengejar truk tersebut, dikarenakan kondisi jalan sedang diperbaiki dan disatu arahkan maka pengejaran sedikit terhambat, ketika sudah mulai terkejar dan team mencoba melambaikan tangan meminta untuk sopir truk menepikan kendaraan nya, malah truk tersebut terus melaju dengan kencangnya dan team sempat was-was dikarenakan diduga akan ditabrakkan unit truk tersebut ke arah kendaraan team.

Akhirnya team kehilangan jejak kendaraan tersebut setelah melewati wilayah Semarang Zoo, pada dasarnya, jika memang benar apa yang diucapkan sang sopir tersebut ketika soal angkutan pakan, mengapa sopir tersebut seakan tidak mau untuk memperlihatkan bukti yang sebenarnya perihal tersebut.

Dengan diturunkannya running berita ini, semoga pihak berwajib sebagai mitra dari awak media bisa melacak dari Plat nomor kendaraan truk tersebut, guna dilakukan penyelidikan selanjutnya.

Dan team awak media pun akan mendatangi SPBU yang melayani pembelian BBM Ilegal tersebut untuk diklarifikasi dan dikonfirmasi, dikarenakan pada saat kejadian belum terklarifikasi atas kejadian tersebut.

(Team/Vio Sari)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru