oleh

Agama Manusia Tergantung Pemimpinnya

JAKARTA, Kicaunews.com – Ungkapan “ An naasu ‘a laa diinu muluukihim” agama manusia tergantung raja/pemimpinnya. Ada banyak juga manusia yang kurang setuju dengan ungkapan itu. Namun itulah yang terjadi secara factual di mana manusia akan mengikuti apa yang di sampaikan oleh penguasa. Karena Kekuasaan merupakan Kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada individu sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang dapat mempengaruhi dan mengubah pemikiran orang lain.

Hal ini pernah di kisahkan oleh Abu Nawas seorang sufi dan pujangga dari negeri Persia.

Suatu hari Abu Nawas berjalan di tengah pasar sambil melihat ke dalam topinya, lalu bersorak dengan penuh Bahagia sambil terus melemparkan senyum kebahagian , Orang banyak perhatikan ulah Abu Nawas itu dengan wajah heran.

Salah seorang datang menghampiri Abu nawas, “Wahai saudaraku, apa gerangan yang engkau lihat ke dalam topimu yang membuat mu tersenyum bahagia ?” “Aku sedang melihat surga lengkap dengan barisan bidadari-bidadari yang cantik, kata Abu Nawas dengan ekspresi meyakinkan.

“Coba aku lihat!” kata seseorang yang penasaran melihat tingkah Abu Nawas.

“tapi Saya tidak yakin engkau bisa melihat seperti apa yang saya lihat”.

“Mengapa?” tanya orang-orang di sekitar Abu Nawas secara serempak, “Karena hanya orang yang beriman dan sholeh saja yang bisa melihat surga dan para bidadarinya di topi ini,” tegas Abu Nawas meyakinkan.

“Coba aku lihat,” kejar si penanya yang penasaran.
“Silahkan!” kata Abu Nawas

Orang itupun segera melihat kedalam topi itu, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang-orang di sekelilingnya.

“Benar kamu, aku melihat surga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah, Allahu Akbar,” kata orang itu berteriak. Abu Nawas tersenyum, dan Orang-orangpun menjadi heboh ingin menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas..

Baca juga :  Cipta Kondisi Aman Dengan Razia Miras Polsek Purwasari

Abu Nawas mengingatkan kepada mereka semua, “ingat, hanya orang beriman dan sholeh yang bisa melihat surge dan bidadari didalam topi ini. Yang tidak beriman tidak akan bisa melihat apapun”.

Satu demi satu orang melihat kedalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat surga dan ada juga yang mengatakan Abu Nawas bohong tidak ada apa-apa dalam topi itu. Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum.

Akhirnya, mereka yang tidak melihat surga dan bidadari di dalam topi itu melaporkan kepada Raja dengan tuduhan Abu Nawas telah menebarkan kebohongan di tengah masyarakat.

Akhirnya Abu Nawas di panggil menghadap Raja untuk di adili.
“Abu Nawas!” seru Sang Raja, “benarkah kamu bilang di dalam topimu bisa nampak surga dengan sederet bidadari cantik?”

“Benar paduka Raja yang mulia, tetapi hanya orang yang beriman dan sholeh saja yang bisa melihatnya. Bagi yang tidak bisa melhat itu artinya dia tidak beriman dan kafir”. Kata Abu Nawas

“Oh begitu. Coba saya buktikan apakah benar cerita kamu itu,” sanggah Raja, yang segera melihat ke dalam topi Abu nawas dari sudut kiri dan kanan, atas dan bawah.

Akhirnya Raja terdiam dan berpikir, “benar tidak nampak surga dan bidadari di dalam topi ini. Tapi andaikan aku bilang tidak ada surga, maka orang banyak akan tahu aku termasuk tidak beriman dan termasuk kafir. Tentu akan hancur reputasiku sebagai seorang Raja”.

Demikian kira kira yang dipikirkan sang Raja. Dan akhirnya Raja mengatakan, “Benar! Saya sebagai saksi bahwa di dalam topi Abu Nawas, kita bisa melihat surga dengan sederetan bidadari,” ia setengah berteriak.

Baca juga :  Kapolres Indramayu Pimpin Langsung Giat Apel Pagi ini di Mako Polres Indramayu

Rakyat yang menyaksikan Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa dan tidak ada lagi yang membantah Abu Nawas. Mereka takut berbeda dengan sang Raja Karena khawatir di cap kafir atau belum beriman.

Akhirnya konspirasi kebohongan yang di tebar oleh Abu Nawas mendapat legitimasi dari Raja. Boleh jadi di dalam hati, abu nawas tertawa sinis sambil bergumam, beginilah akibatnya kalau ketakutan atau rasa TAKUT sudah menenggelamkan kejujuran, maka KEBOHONGAN PUN akan merajalela.

Ketika Keberanian sudah lenyap dan ketakutan telah menengelamkan kejujuran maka KEBOHONGAN akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “BENAR”

Itulah yang di maksud dari Agama Manusia tergantung pada pemimpinya. Karena “segenggam KEKUASAAN lebih berharga daripada sekeranjang KEBENARAN”

Jakarta 16 april 2020

Penulis
Firdaus Turmudzi, M.Hum :
(Pendakwah, Dosen, Aktivis Sosial, Kandidat Dr Pasca Sarjana Dakwah UIA, Sekretaris FAHMI TAMAMI MPW DKI Jakarta
FKDM DKI Jakarta)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru