oleh

Negara, Penguasa Otoriter dan Peran Kaum Intelectual

KICAUNEWS.COM – Tidak ada satupun penduduk di negeri ini yang tidak mencintai negerinya sendiri, kecuali para pengkhianat yang bekerja menggadaikan dirinya sebagai aseng asong dan asing.

Negeri ini dikenal oleh masyarakat Internasional memiliki kekayaan dan keindahan yang tiada banding. SDA negeri ini tersedia secara berlapis lapis, dari dasar laut, dalam laut, pesisir pantai, di atas tanah di dalam tanah berlimpah limpah indah dan kayanya. Minyak tanah, bensin, batu bara, besi, nekel, tima, tembaga, almunium, uranium, kayu, rotan kelapa sawit, kopi, kopra, rempa rempa, ikan, garam, palawija ada di tanah air.

Dlm perspektif agama, tiada satupun benda yang berada di kolom langit hadir tanpa tujuan. Semua yg diciptakan Allah dimaksudkan untuk mensejahetrakan dan memartabat penduduk negeri. Namun kenyataan yang terjadi di negeri ini tidak demikian. Justeru yang terjadi tragedi pengangguran, kriminilsasi, kemiskinan, kemelaratan, ketakberdayaan yg menimpa rakyat. Sungguh memilukan bagai tikus mati di lumbung padi.

Bila dibandingkan dengan Kerjaan Arab Saudi Negeri Gurun Pasir, yang hanya punya tambak minyak dan pohon korma tapi rakyatnya sejatera. Semua urusan kehidupan warganya dari lahir hingga mati ditanggung oleh negara.

Lalu apa masalahnya dengan kita di Indonesia yang kaya dengan Sumber Daya Alam ? Yang terjadi di negeri kita, yaitu salah urus dalam tata kelola pemerintahan negara. Penyimpangan pememanfaatan berbagai energi pertambangan. Hal ini bermula dari pelimpahan tugas pembangunan negara pada ilmuwan, birokrat, technokrat yang hati fikiran dan badannya menjadi budak bagi negeri lain.

Dimana mereka menggunakan kekuasaan untuk melakukan operasi secara sistemik dan efektif untuk memindahkan kekayaan negeri ini ke luar negeri. Inilah suatu bentuk operasi trastruktur oleh para pengkianat yg begitu mudah memindahkan kekayaan negeri ini ke negeri saudagar pemilik modal. Inilah jalan menuju penindasan, yang memenderitakan rakyat penghuni di negeri sendiri. Ibarat tikus mati di lumbung padi.

Nampaknya perlu kajian ulang untuk menemukan sesuatu yang hilang, atau ada yang putus dari mata rantai kesejarahan kita. Bahwa tidak satu orangpun pula dari orang orang sekolahan yang terdidik tidak memahami bhw Negeri ini berdiri di atas landasan ketulusan, ketangguhan, kegigihan, kejernihan, dan kecerdasan perjuangan diplomasi kaum intelectual, cerdik pandai, aristockrat, yang mendapat berkah Allah SWT.

Bahwa Para Cerdik Pandai mengambil alih urusan perjuangan kemerdekaan RI. Semula perjuangan dengan bambu runcing yang bersifat kampung, kedaerahan, local, impersial dan berabad abad lamanya. Namun setelah anak anak negeri mengenyam pendidikan yang terbaik di Eropa dan di tanah air, muncul kesadaran nasionalisme, cinta tanah air dan harus merdeka dari penjajahan. Maka orang orang sekolahan mulai mengambil alih perjuangan dengan terlebh dahulu mengkonsukidas gerakan kaum muda kaum intelectual, cerdik pandai dalam sebuah wadah kepemudaan. Berjanji setia untuk Indonesia Merdeka.

Baca juga :  Agum Gumelar : Orientasi Kita Untuk Kepentingan Bangsa Dan Negara

Di zaman kemerdekaan, setelah 75 thn merdeka, negeri ini memiliki mobilitas kaum intelectual yang luar biasa tersedia. Dari berbagai latar belakang dan disiplin keilmuan. Keilmuan yang terpadu antara umum dan agama, tidak ada lagi dikhotomi antara umum dan agama. Dari sudut ini para ilmuwan di negeri ini mimiliki paradigma pembangunan yang sama untuk menjawab setiap hal yang menjadi masalah dan yang menjadi kebutuhan rakyat di negeri ini.

Tentu standar kualitas keilmuan para ilmuwan Indonesia terbangun atas relasi yang kohesiv antara paradigma keilmuan dan falsafah atau ideologi bangsa. Antara Parafigma keilmuan dan Falsafah negara terinternalisasi, lalu membentuk cara pandang imuwan Indonesia yang utuh antara watak keilmuan yang objectif dan kesadaran nasionalisme. Kristalisasi keduanya menghasilkan watak dan kesanggupan kaum intelektual Indonesia di dalam menyoroti setiap sudut permasalahan kebangsaan kita secara integralistik. Dari perspektif ini tentunya kualitas keilmuan para ilmuwan Indonesia sangat tetuji integritasnya.

Kehadiran para ilmuan di tanah air sepatutnya di terima dan diperankan secara optimal, proprsional untuk menjawab agenda agenda pembangunan yang menjadi kebutuhan di tanah air.

Tentu Para ilmuan dalam setiap rekomendasinya bukan asal cuap namun atas hasil riset yg sungguh mendalam dan sarat dengan hikmah dan kebajikan. Lalu pertanyaannya seberapa besar negara mengharagai hasil riset karya para acedemisi itu untuk merumuskan agenda pembangunan di tanah air ? Sementara di negeri ini terdapat berbagai universitas unggul yang berada di setiap propinsi, kota kota besar bahkan di kabupaten kota. Bila saja hasil riset kerja kaum intelectual itu dipatuhi dijadikan dasar merumuskan kebijakan pemerintah untuk membangun negara. Tentulah pula kebijakan itu akan berorientasi maksimal pada pelayanan kebutuhan rakyat dan mensejahteran rakyat, sekaligus sebagai upaya menegakan kemandirian rakyat.

Peran para intelectual dlm perubahan sosial politik sama halnya dengan peran kenabian. Kaum intelectual mengemban tugas kenabian atau tugas profetik mencerahkan dan membebaskan rakyat dari penindasan.

Baca juga :  Pasokan Bom ISIS Berasal dari Perusahaan di 20 Negara

Nabi Ibrahim as mencari dan membangun pandangan monoteistik lalu melakukan perlawanan pada oteriterianisme Namrud.

Menyusul Nabi Musa as membangun pandangan monoteisme dari bukit Tursna Ia melakukan perlawanan atas otoriterianisme Firaun, dan kekuasaan Firaun pun luluh lantah, tenggalam dalam serbuan ombak laut.

Terakhir Muhammad, setelah menemukan pandangan monoteisme di Gua Hira lalu ia melalukan maklumat dan menyerukan kebenaran pada orang Mekkah yang hidup dalam kedzaliman, penindasan akibat tanpa keyakinan yang benar. Nabi Muhammad SAW menerlukan waktu 23 thn menanamkan menginstitusikan Tauhid, maka kemudian Tauhid menjadi energi revolusioner yang dahsyat menembus berbagai belahan dunia. Tidak sampai lima pulu tahun islam sudah menembus Eropa, Asia, Afrika meruntuhkan tirani tirani feodalistik. Muhammad menawarkan peradaban kemanusiaan yang berbasis pada monoteisme absolut.

Contoh yang terdekat dengan kita, revolusi Islam Iran. Dr. Ali Syariati, seorang ilmuwan, arsitektur dan ideolog muslim, merubah pandangan kejumudan, fatalisme ashshobiyah masyarakat muslim Iran dg Tauhid pergerakan. Dengan Tauhid masyarakat muslim Iran yang telah hidup dalam kungkungan tirani feodalisme absurd membebaskan diri dari rezim Reza Pahlevi yang merupakan skutu Amerika Serikat. Muslim Iran menerima kehadiran revolusi Islam yang dikibarkan oleh pimpinan revolusi Islam Ayathollah Khomaini tanpa jejak pendapat.

Maka janganlah disia siakan peran peradaban kaum intelectual. Mengabaikan peran peradaban kaum intelectual, samahalnya menciptakan nestapa bagi rakyat. Janganlah disalah gunakan, dan jangan pula salah urus oleh siapapun di negeri ini. Karena pasti, berkah itu lambat atau cepat akan diambil oleh Allah jika generasi kemudian gagal mengurusnya.

Bilamana para ilmuwan, cerdik pandai, cendekiawan dan pakar sudah memberikan nasehat, penilaian dan mengajukan pandangan untuk kebaikan tentulah itu benar. Maka junjunglah dan patuhilah literasi, narasi logika yang dianjurkan oleh para cedrik pandai itu. Para cerdik pandai membangun narasi di atas cahaya iman bertindak dengan ilmu menghasilkan karya peradaban terpuji.

Kegagalan pemeritah mentransformasi pembangunan karena gagal menfsirkan realitas atau fenomena sosial masyarakat, bahkan mengabaikan apa yang menjadi inti masalah yang dihadapi oleh arus sosial di level rakyat terbawah.

Keruntuhan dan kehancuran suatu bangsa dan negara berawal dari runtuhnya akal dan budi manusia. Pemimpin Negara yang tidak menghargai karya kaum intelectual bahkan merendahkan kaum intelectual dengan ancaman penjara adalah awal musibah bagi negara. Karena tidak ada ilmu bagi para intelectual kecuali kebenaran cayaha Allah.

Baca juga :  Wujud Bhakti Brimob Polda Jabar Dengan Membagikan Masker Pada Masyarakat

Pemimpin negara yang merendahkan para guru, ulama dan mublligh, bahkan dikejar kejar dg tuduhan fitnah palsu lalu dipenjarakan adalah bencana bagi negara. Para guru dan ulama pewaris tugas kenabian dan lentera bagi peradaban dunia. Jika lantera dimatikan maka negara tertimpa kegelapan gulitaan.

Adapun fenomena benih otoriterianisme itu nampak ada dlm praktek pengelolaan bernegara. Kebijakan Presiden atas nama negara melampaui batas kewenangan yang diberikan oleh negara. Meminjam utang ke luar negeri melampau ambang batas yang dibolehkan oleh konstitusi negara. Pidato resmi Presiden yang kita dengar sering kali mengabaikan logika kebenaran public. Seenaknya membangun optimisme absurd, harapan palsu tanpa bukti. Penyataan para mentri, yang dipertontonkan di TV, satu saat berbicara idealis berdasarkan konstitusi, besok berubah saling mendukung demi uang dan kekuasaan, namun mengabaikan narasi narasi publik, meskipun tumpang tindih, tidak mendidik, anti kritik. Memecah belah ormas islam dengan pembubaran dan ancaman pembubaran. Mengkriminalisasi dan menghukum para ulama dan mubaligh dengan tuduhan palsu dan penjara.

Untuk itu wahai penguasa negeri, jadikanlah kekuasaanmu di negeri ini semata mata untuk mensejhterakan dan mendaulatkan martabat rakyat. Kekuasaan bukan bukan milikmu, engkau hanya diberikan amanah untuk memimpin dlm batas waktu tertentu. Jangan pernah mempermainkan kekuasaan dg logika absurdmu. Bisa jadi satu tempo kekuasaanmu akan hancur dan gulung tikar.

Literasi para kaum intelectual mengandung hikmah, falsafah, kaya dengan nilai nilai keadaban yang patut diteladani. Hikmah itu berfungsi untuk mengawal kiblat bernegara, mengontrol jalannya roda pemerintahan agar negara tidak tersesat dan tidak terjerumus di jurang kehancuran. Para penguasapun disaat menjalani roda pemerintahan tidak menjadi otoriter dan diktator. Bila kekhuatiran itu terjadi akan mengundang datangnya gelombang revolusi politik.

Ingatlah wahai pengagum dan pemangku kekuasaan, bahwa kekuasaan itu hanyalah milik Allah, yang dikuasakan pada manusia semata untuk sementara waktu. Kuasa itu kapan tempo bisa diambil oleh Allah jika manusia telah kehilangan amanah dan kehancuran muruah.

Janganlah Engkau sangsarakan rakyat dengan tipu muslihatmu. Sesungguhnya Allah lebih Pandai menggagas rekayasa diatas segala kepalsuan rekayasamu wahai manusia.

Ciputat 16 April 2020
MHR. Shikka Songge.
Peneliti Agama dan Politik CIDES

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru