oleh

MPW FAHMI TAMAMI DKI Jakarta Himbau Para Ta’mir Masjid Tidak Tolak Jenazah Yang Wafat Karena Covid-19

JAKARTA, Kicaunews.com – Pandemi Wabah Covid 19 yang sudah mewabah mendunia membuat aktivitas di dunia terhambat, begitupun di Indonesia.

Dalam Pandemi global ini, Sebagai seorang muslim merupakan ujian bagi kita yang harus di yakini bahwa di balik peristiwa itu banyak hikmah dan pelajaran yng dapat kita ambil sebagai pelajaran tuk hidup.

Dalam Al Quran Allah berfirman “hati hati dengan datangnya suatu bencana atau ujian yang bisa menimpah bukan hanya khusus untuk orang orang yang durhaka dan dzalim saja.

Wabah covid-19 qorona merupakan bencana berupa ujian yang juga bisa menimpah kepada orang orang yang sholeh .
“Mereka yang wafat karena Tho’un ,wabah penyakit pada masa Nabi dan sahabat di nilai sebagai mati syahid.

Mereka tetap di mandikan , di kafankan dan di sholatkan. Untuk hal itu tentu sesuai dengan protap dari para dokter, bisa saja di sholatkan di tempat yang sekiranya aman dari penyebaran virus tersebut.

Dalam siaran persnya ,Kamis malam/02 April 2020,Dr Firdaus Turmudzi, M.Hum selaku sekretaris MPW FAHMI TAMAMI (Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid Mushola Indonesia) Provinsi DKI Jakarta memberikan pernyataan nya terkait jenazah yang Wafat karena Covid-19.

Beliau menghimbau para takmir masjid untuk tidak menolak jenazah saudara kita yang muslim jika akan di sholatkan karena penjelasan WHO bahwa virus corona juga sudah hilang dan tidak hidup di mayyit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagikan pedoman, yang berbunyi, tidak ada bukti bahwa jenazah positif covid-19, menimbulkan risiko dalam epidemi wabah.

Sebagian besar virus corona tidak bertahan lama di tubuh manusia setelah kematian.

Namun memang tubuh manusia yang sudah meninggal menimbulkan risiko besar bagi kesehatan orang yang masih hidup, namun dalam beberapa kasus khusus.

Baca juga :  Sebagian Badan Jalan Amblas Kapolsek Sinjai Tengah Bersama Anggota Turun TKP

Namun, WHO mengatakan orang atau pekerja yang secara rutin menangani mayat mungkin berisiko tertular TBC, virus yang ditularkan melalui darah (misalnya hepatitis B dan C dan HIV).

Dan infeksi saluran pencernaan (misalnya kolera, E. coli, hepatitis A, diare rotavirus, salmonellosis, shigellosis dan demam tifoid/paratiphoid).

Selain itu, WHO mengeluarkan beberapa saran khusus untuk pekerja yang menangani mayat, yaitu:

  • Makam harus setidaknya 30 m dari sumber air tanah yang digunakan untuk air minum.
  • Lantai kuburan harus setidaknya 1,5 m di atas permukaan air, dengan zona tidak jenuh 0,7 m.
  • Air permukaan dari kuburan tidak boleh memasuki area yang di huni.
  • Lakukan tindakan pencegahan universal yang diambil saat menangani darah dan cairan tubuh.
  • Gunakan sarung tangan sekali saja dan buang dengan benar.
  • Gunakan kantong mayat.
  • Cuci tangan dengan sabun setelah memegang tubuh dan sebelum makan.
  • Mendisinfeksi kendaraan dan peralatan.
  • Vaksinasi terhadap hepatitis B.
  • Tidak perlu mendisinfbeksi tubuh sebelum dibuang (kecuali dalam kasus kolera).

Terakhir Dr Firdaus Turmudzi,M.Hum kepada Redaksi kicaunews.com berpesan kepada masyarakat agar tidak perlu melakukan hal hal yang merugikan orang lain dengan tidak mengizinkan pemakaman, karena PBNU dan Muhammadiyah menyarankan untuk menerima dan memakamkan secara layak.(*)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru