oleh

Apa Makna Penting Rofats, Fusuq dan Jidal yang dilarang Allah SWT dalam Berihrom

Bekasi, Kicaunews.com – Safari Dakwah Ustadz Nur Anwar Amin biasa disapa Ustadz Adjie Nung (UAN) dengan menggunakan media Radio Attaqwa yang setiap hari Selasa sore dari pukul 16.oo – 17.3o wib. selalu siap setia menyapa para pendengar sohib karib dengan suara dan gayanya yang khas tidak pernah lelah meski aktifitasnya seharian padat.

Kesibukan UAN seperti mengajar di Ponpes Attaqwa Putra, mengisi beberapa majlis taklim, menerima undangan ceramah ke berbagai pelosok, ia juga selalu ramah menerima tamunya calon Dhufurrohman di kantor KBIHU Attaqwa KH. Noer Alie yang bersebelahan dengan studio Radio Attaqwa.

Tapi karena hoby dan suka dengan berdakwah di media radio itu malah jadi membuatnya semangat bahkan jadi hiburan karena bisa banyak menyapa para pendengar sohib karib dan tentunya ilmunya bisa terus berkembang dan bermanfaat untuk banyak umat.

Apalagi sekarang MUI Pusat Jakarta sudah menjadikan syarat para dai boleh tampil di TV dan media lainnya dengan dai yang sudah terstandarisasi oleh MUI dan UAN sudah memiliki sertifikat dai stadarisasi MUI, ini yang membuat semakin bersemangat.

Nah pada kesempatan pertemuan kali ini UAN akan membahas QS.al Baqoroh Ayat 197. Karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke kantor kerja UAN perihal apa makna arti dari Rofats, Fusuq dan Jidal yang merupakan larangan dari Allah SWT untuk jamaah yang sedang berihrom haji/umroh.
Berikut ini jawabanya :

Para Ulama memberikan tafsiran apa itu Rofats, Fusuq dan Jidal.
Menurut Imam Abu Ja’far at-Thahawi dalam kitab Syarh Musykilul Atsar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Rafats adalah berhubungan seks, dan hal ini merusak ibadah haji. Berbeda dari Fusuq dan Jidal yang tidak sampai merusak ibadah haji.
Begitu juga menurut pendapat Ibnu Abbas :
الرَّفَثُ : الْجِمَاعُ , وَالْفُسُوقُ : السِّبَابُ ، وَالْجِدَالُ : أَنْ تُمَارِيَ صَاحِبَك حَتَّى تُغْضِبَهُ.
“Rafats adalah bersetubuh atau berhubungan seks, fusuq adalah mencaci, sedangkan jidal adalah mendebat atau berbantahan dengan saudaramu sampai membuatnya marah.

Baca juga :  Pembukaan Liga 1. Bhayangkara FC VS Persija.

” Dari penjelasan diatas maka bisa diperinci bahwa hal-hal yang termasuk kategori Rafats adalah mengeluarkan perkataan tidak senonoh yang mengandung unsur kecabulan (porno), senda gurau berlebihan yang menjurus kepada timbulnya nafsu birahi (syahwat), termasuk melakukan hubungan seks (bersetubuh),” jelas UAN.

Senada disebutkan dalam buku tuntunan manasik haji Kementrian Agama tahun 2016/1437 menyebutkan makna Rofats, hanya saja Fusuq dimaknai sebagai segala perbuatan maksiat baik disadari atau tidak diantaranya : Takabbur (sombong), merugikan dan menyakiti orang lain dengan kata-kata dan sikap (perbuatan), zholim, berbuat sesuatu yang dapat menodai akidah dan keimanan kepada Allah, merusak alam dan makhluk lainnya tanpa ada alasan yang membolehkan, dan menghasut atau memprovokasi orang lain melakukan maksiat.

Jidal adalah segala sikap dan perbuatan yang mengarah pada perdebatan, permusuhan dan perselisihan yang diiringi dengan nafsu amarah, meskipun untuk mempertahankan kebenaran dan memperjuangkan haknya.

Lebih rinci lagi dipaparkan oleh ulama kontemporer dari Syiria dalam Kitab Alfiqhu Alislamy Wa Adillatuh oleh Prof. DR. Wahbah Zuhaily

Rafats adalah ungkapan kiasan tentang jimak dan segala kebutuhan pria terhadap wanita.
Selama berihram, harus menghindarkan dirinya dari semua perkara yang dilarang oleh Allah      ayat 197 suroh albaqoroh. الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”
Rafats (jimak), Fusuq (caci maki), Jidal (berdebat dan berbantahan).

Begitu juga sabda Nabi SAW :
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa haji dan dia tidak rafats, dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti hari ketika dia dilahirkan ibunya” (Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Baca juga :  Kapolsek Telagasari Terjunkan Anggota Patroli

Jika dilakukan jimak sebelum wukuf di Arafah, berarti dia telah merusak hajinya tapi dia tetap jarus meneruskan hajinya yang rusak tersebut serta harus mengqodhonya langsung pada tahun berikutnya – hal ini harus dilaksanakan meskipun hajinya adalah haji sunnah – serta dia harus menyembelih kurban (dam) berupa seekor unta, karena para sahabat  dahulu juga mengqodho dengan cara demikian.

Jika dia melakukan jimak diantara masa tahallul awal dan tahallul tsani, atau dia berjimak lagi setelah jimak pertama sebelum masuk kedua tahallul tersebut, maka dia wajib menebus dengan seekor kambing.

Jika dia melakukan jimak tanpa penetrasi (memasukan) di kemaluan, baik ia mengalami ejakulasi maupun tidak, atau dia mencium atau meraba dengan syahwat atau mencumbu, maka dia wajib menebus dengan dam, akan tetapi hajinya tidak rusak (menurut jumhur, selain madzhab Maliki).

Ibnu Umar berkata : “Apabila orang yang sedang ihrom mencumbu istrinya, dia wajib menebus dengan dam.” Hal ini sama saja apakah dia melakukan perbuatan tersebut (jimak dan pendahuluannya) secara sengaja, lupa atau dipaksa).

Adapun jika dia memandang kemaluan istrinya dengan birahi sehingga dia mengalami ejakulasi, dia tidak wajib menebus apapun, berbeda dengan meraba dengan syahwat yang harus ditebus dengan dam, baik dia ejakulasi maupun tidak.

Sisi perbedaannya adalah, meraba adalah cara menikmati istri dan merupakan pelampiasian syahwat, sedangkan memandang bukan tergolong cara menikmati serta bukan cara melampiaskan syahwat, melainkan sekedar faktor bangkitnya syahwat dalam hati, dan orang yang berihrom tidak dilarang untuk melakukan sesuatu yang membangkitkan syahwat sama seperti makan.

Menurut  Madzhab Syafi’ie bahwa jika dia mencumbu saja tanpa penetrasi dan ini terjadi karena lupa, maka dia tidak wajib menebus apapun, baik ia mengalami ejakulasi ataupun tidak. Masturbasi dengan tangan mewajibkan penebusan dengan fidyah. Jika ia berulang kali menatap seorang wanita sehingga dia mengalami ejakulasi tanpa melakukan percumbuan atau masturbasi, dia tidak wajib membayar fidyah.

Baca juga :  Kapolres Indramayu Silahturahmi Hadiri Kamtibmas Jelang Pemilu Didesa Bantarwaru

Begitu juga semua madzhab sepakat bahwa orang yang berihrom boleh merujuk istrinya yang telah ia talak selama sang istri masih dalam masa idahnya, sebab Allah berfirman :
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu.” (Q.S. albaqoroh : 198).
Yakni, pada musim haji, wanita yang sudah ditalak raj’i masi terhitung sebagai istri, dan raj’ah (upaya merujuk) terhitung sebagai imsaak (mempertahankan istri), sebab Allah berfirman : “maka tahanlah mereka dengan cara yang baik..” (Q.S. albaqoroh : 231).
Maka hal itu (merujuk istri) dibolehkan, sama seperti imsaak (mempertahankan istri) sebelum talak.

Penjelasan UAN lebih lanjut bisa disimak di chanel yuotube

(Sofie)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru