oleh

Pengajian Rutin Bulanan SMP dan SMA Cita Mulia

TANGSEL, KICAUNEWS.COM –SMP dan SMA Cita Mulia kembali mengadakan pengajian bagi para Guru dan Wali Murid yang bertujuan untuk upgrading, silaturahmi, pembinaan ruhaniyah dan ngobrol santai, sebagaimana disampaikan Ahmad Nazarudin, S.Pd Kepala Sekolah SMP Cita Mulia dalam sambutannya.Rabu (29/01/2020).

Pengajian ini bertempat di Musholla SMP/SMA Cita Mulia Jl. Angsana 2, Pamulang Timur., Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15417

Pada kesempatan ini diisi oleh KH.Mustholimin Al Wiyani yang menyampaikan tentang konsep memahami Al Quran

MEMAHAMI AYAT DENGAN AYAT

Menafsirkan satu ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Alquran itu menerangkan makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat, yang artinya : “ Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” [QS.Yunus : 62].

MEMAHAMI ALQURAN DENGAN TAJWID

Tajwīd (تجويد) secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan,[1] tajwid berasal darikata Jawwada (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf) [2], shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.

Baca juga :  PIA ARDHYA GARINI CABANG 20/D.I LANUD SULTAN ISKANDAR MUDA ADAKAN LOMBA BAYI SEHAT DALAM RANGKA HUT PIA KE-63

MEMAHAMI AL QURAN ULUMUL QURAN

Al-Qur’an memiliki banyak versi. Adanya ragam bacaan menurut orientalis dari Inggris ini merupakan bukti mengenai hal tersebut.

Tentu saja pendapat ini salah dan keliru. Adanya perbedaan bacaan bukan berarti al-Qur’an memiliki banyak versi. Bacaan-bacaan tersebut sudah dimaklumi di kalangan ulama al-Qur’an berdasar sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah kamu mana yang mudah daripadanya.”(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab al-Burhan, Imam al-Zarkasi menjelaskan, al-Qira’ah (bacaan) berbeda dengan al-Qur’an (yang dibaca). Keduanya merupakan dua fakta yang berlainan. Al-Qur’an wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sedang qira’ah adalah perbedaan cara membaca lafaz-lafaz wahyu tersebut dalam bentuk tulisan huruf-huruf.
Ilmu qira’ah merupakan bagian dari ulum al-Qur’an atau ilmu-ilmu tentang al-Qur’an yang membicarakan kaidah membacanya. Ia merupakan cara membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dipilih seorang imam ahli qira’ah yang berbeda dengan ulama lainnya, berdasar riwayat-riwayat mutawatir. Bacaan tersebut juga selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta cocok dengan bacaan tulisan al-Qur’an dalam salah satu mushaf Ustman.
Cara pengambilannya dengan talaqi, yaitu dengan memperhatikan bentuk mulut, lidah dan bibir guru ketika melafazkan ayat-ayat tersebut.

Perbedaan qira’ah itu berkisar pada lajnah (dialek), tafkhim (penyahduan bacaan), tarqiq (pelembutan), imla (pengejaan), madd (panjang nada), qasr (pendek nada), tasydid (penebalan nada), dan takhfif (penipisan nada).
Contoh perbedaan qira’ah yang paling sering kita jumpai adalah imaalah. Pada beberapa lafal, sebagian orang Arab mengucapkan vocal ‘e’ sebagai ganti ‘a’. Misalnya, ucapan ‘wadl-dluhee wallaili idza sajee. Maa wadda’aka rabuka wa maa qolee’.Meski masing-masing imam punya beberapa lafal bacaan yang berbeda, namun tanda bacaan tersebut tidak terdapat dalam tulisan mushaf sekarang ini. Perbedaan itu hanya ada dalam kitab-kitab tafsir yang klasik. Dalam kitab tersebut ada penjelasan tentang perbedaan para imam dalam membaca masing-masing lafal itu.

Baca juga :  Pembukaan Kembali MT Ziyadatul Khoir RW 02 Cipinang Muara

Ibnu Taimiah mengatakan bahwa mengetahui qira’ah dan menghafalnya termasuk sunnah yang turun-temurun, yang terakhir mengambil dari yang pertama. Maka dari itu, mengetahui bacaan sebagaimana Rasulullah membaca, atau bacaan yang diakui kebenarannya oleh Rasulullah, atau bacaan yang diizinkan oleh Rasulullah dan diakuinya adalah sunah. Dan orang yang memiliki pengetahuan dalam qira’ah dan hafal, dia mempunyai keistimewaan di atas orang yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya atau hanya mengetahui satu qiraat saja. Mengumpulkannya dalam salat atau dalam membaca al-Qur’an adalah bid’ah yang makruh.

Sedangkan mengumpulkannya dengan tujuan untuk dihafal dan dipelajari, hal ini merupakan ijtihad yang dilakukan oleh beberapa kelompok dalam bidang qira’ah.

Kendati ilmu qira’ah berhubungan dengan pelafalan ayat-ayat al-Qur’an, tapi tidak memiliki kaitan dengan melagukan bacaan al-Quran. Masalah melagukan al-Qur’an dijelaskan dalam nazam, yaitu seni membaca al-Qur’an. Keberadaan ilmu ini diterangkan secara jelas dalam firman Allah dalam surat Almuzzammil ayat 4,

”Bacalah Alquran itu secara tartil.”
Di berbagai wilayah negeri Islam, berkembang aneka ragam seni membaca Alquran. Dalam pelajaran nazam, dikenal berbagai jenis seni membaca Alquran, seperti Nahawan, Bayati, Hijaz, Shaba, Ras, Jiharkah, Syika, dan lainnya. Semua jenis lagu atau irama itu tidak ada kaitannya dengan ilmu qira’ah sab’ah. Semata-mata hanya seni membaca secara tartil (indah) dan tak ada kaitannya dengan bagaimana melafalkan ayat al-Qur’an. Ia termasuk seni membaca al-Qur’an yang sering kali diperlombakan dalam acara musabaqah tilawatil quran (MTQ).

MEMAHAMI NASH AL QUR’AN DENGAN ASBABUN NUZUL

Mengetahui Asbabun Nuzul (peristiwa yang melatari turunnya ayat) sangat membantu sekali dalam memahami Alquran dengan benar.

Sebagai contoh, ayat yang artinya : “ katakanlah : panggilah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka tidak akan meiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara meraka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan Rahmat-Nya, serta takut akan Adzb-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang mesti ditakuti.” [QS.Al-Israa’ :56-57].

Baca juga :  Kapolres Tangsel Menutup Turnamen Bulu Tangkis Kapolres Cup Tahun 2019.

Ibnu Mas’ud berkata : Segolongan manusia ada yang menyembah segolongan Jin, lantas sekelompok Jin utu masuk Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadahannya, maka turunlah ayat “ Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan Mereka [Muttafaqun’Alaihi].

Ayat itu sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyeru dan bertawassul kepada para Nabi atau para Wali. Namun, sekiranya orang-orang itu bertawassul kepada keimanan dan kecintaan mereka kepada para Nabi atau Wali, maka Tawassul semacam ini di bolehkan.

Tris

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru