oleh

Lima Tahun Telah Berlalu Konplik Lahan HGU Jatitujuh Tak Kunjung Usai

Indramayu, Kicaunews.com – Insident 21 Nopember 2014 patut kita catat sebagai lembaran hitam dalam sejarah perjalanan warga penyangga PG Jatitujuh dalam membangun ekonomi lewat kemitraan tebu rakyat yang diluncurkan perusahaan PG. Jatitujuh.

Selalu ada gangguan dan insident, yang membuat jutaan mata dalam ketakutan, jutaan mata dalam kengerian, jutaan mata dalam kepiluan, kebrutalan massa membabi buta seperti srigala kelaparan. Argumentasi dan solusi yang mereka tawarkan selalu lewat adu jotosan, sabetan pedang dan acungan clurit, yang membuat banyak jatuh korban,  tiga orang terluka parah, empat kendaraan roda dua dirusak dan dibakar, dua kendaraan roda empat milik PG. Jatitujuh dirusak, kamis (21/11/2019) lalu.

Atoilah saksi mata dalam peristiwa itu mengatakan , ketiga korban petani tebu kemitraan adalah Udin warga sumberkulon, Kecamatan Jatitujuh,  Dadang warga  desa Rancajawat, Kecamatan Tukdana, Mulyono warga desa Babajurang, Kecamatan Jatitujuh, sedangkan satu motor lagi dapat diselamatkan. Kejadian kurang lebih jam 9.30 di sekitar wilayah gobel timur.

“Petani tebu kemitraan akan melakukan aktifitas di hadang dijalan, tak ada perlawanan karena jumlah petani tebu kemitraan hanya sedikit, ketiga korban kekerasan dibawa kerumah sakit Cideres, Kabupaten Majalengka, “ Atoilah menjelaskan.

Setelah kejadian insident, ratusan warga penyangga dari Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu,  melakukan ujuk rasa di depan perusaan PG jatitujuh, untuk mengusut tuntas tragedi kamis 21 Nopember 2019, apa bila hukum tidak ditegakkan, maka kami akan mendatangkan massa lebih banyak lagi. Ungkap Sanuri,  warga Sumber kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka ketika ditemui  media, (25/11/2019).

Sujana PLT desa Sumberkulon, Kecamatan Jatitujuh, menyikapi insident 21 Nopemer 2019 mengatakan, masa warga saya hanya lewat untuk mencari lahan kosong  untuk ikut kemitraan tebu rakyat, dalam perjalanan dihadang, digebugin dan motornya dibakar.

Baca juga :  Jalin Silahturahmi Kades Salebu gelar kompetisi Bola Voli

“Kalau hukum tidak ditegakan ya,  banyak pelangaran hukum, orang tidak akan takut lagi dengan hukum,“ungkapnya.

Terkait aksi damai di PG. Jatitujuh kemarin 25 Nopember 2019, yang diwakili 3 desa diantaranya desa Sumberkulon, Sumber wetan dan desa Kertcala, Eko kabag SDM PG. Jatitujuh menjelaskan, upaya hukum terus dilakukan agar peristiwa kemarin diproses secara hukum yang berlaku, dan merupakan salah satu dari beberapa masalah yang tengah dihadapi. Bahkan permasalahan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2014 lalu,”katanya.

Pada tanggal 21 November lalu sempat terjadi kericuhan yang menyebabkan sejumlah petani pengolah lahan HGU PG Jatitujuh menjadi korban. Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa.

“Kericuhan yang terjadi pada pekan lalu itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Sejumlah insiden juga pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Namun, dalam perjalanannya, kasus tersebut hanya berjalan di tempat,” ujarnya.

Oleh karenanya, pihak PG Jatitujuh memutuskan untuk menggandeng pengacara. Cara ini diharapkan bisa menuntaskan sejumlah kasus yang terjadi selama ini. Pihaknya mengaku sudah berbicara dengan pengacara untuk menangani berbagai masalah yang terjadi, termasuk insiden pekan lalu. Sebab selama ini ada beberapa kasus yang terkesan mandeg.

Eko menjelaskan, Keputusan untuk mengambil pengacara diambil setelah melakukan pembicaradengan masyarakat dari Desa penyangga.

“Efektifnya (pendampingan dari pengacara) nanti rencananya Desember mendatang. Untuk kasus pekan kemarin kami sudah buat laporan ke Polres Indramayu,” jelasnya.

Upaya pihak PG Jatitujuh,  mengusut tuntas insident kamis 21 Nopember 2019 lewat pendampingan pengacara  mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan warga penyangga terus mengalir bagaikan air, seperti warga desa Sumberkulon, suberwetan, kerticala dan desa lainnya.

“Dan juga mereka berharap saudara darta oknum f-kamis yang statusnya sudah jadi tersangka kasus pengerusakan tanaman tebu agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, “ungkapnya. (MT jahol)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru