oleh

Rapat Koordinasi APTI DPD Jawa Tengah

JATENG, KICAUNEWS.COM — Bertempat di RM Semar Resto Boyolali Jawa Tengah, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) DPD Jawa Tengah pada Minggu (17/11/19) menggelar rapat koordinasi.

Dalam rapat yang dihadiri oleh pengurus APTI DPD Jawa Tengah membahas banyak agenda, diantaranya penyikapan terkait isu pertembakauan hari ini.

Sekretaris Jenderal APTI Jawa Tengah, Syukur Fahruddin menjelaskan bahwa, Komoditas tembakau, lanjutnya, memang serba dilematis. Di satu sisi,  pemasukan yang diterima negara dari cukai rokok yang bahan baku utamanya tembakau sangat besar, akan tetapi disisi lain tekanan dari industri farmasi terkait kesehatan juga luar biasa besarnya.

Rencana pemerintah untuk menaikkan cukai rokok rata-rata 21,56 persen dan harga jual eceran (HJE) rokok rata-rata 35 persen membuat petani tembakau menjerit. Syukur menambahkan saat ini penyerapan industri rokok terhadap hasil panen tembakau sudah anjlok.”Sekarang kenaikan belum berlaku saja, permintaan tembakau sudah turun”, kata syukur.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal APTI Pusat, Wening Swasono menuturkan, petani berharap pemerintah mau menurunkan besaran kenaikan cukai rokok. Dengan demikian, dampaknya tidak terlalu besar terhadap penghasilan petani, atau boleh naik namun tidak sebesar yang telah ditetapkan. “Pabrik tidak berani ambil banyak, karena mereka takut konsumsi rokok akan turun saat cukai baru berlaku,” katanya.

Terkait kenaikan cukai yg dilakukan pemerintah merupakan kebijakan yang blunder. “Pasalnya pemerintah hendak meningkatkan pendapatan negara melalui cukai, tapi tidak melihat kekuatan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yg rendah bisa memicu lahirnya perlawanan atas kebijakan kenaikan cukai tersebut,” Imbuhnya.(Red/Rilis)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru