oleh

MHR Shikka Songge Menanggapi Tentang Sukmawati Anti Islam kah?

JAKARTA, Kicaunews.com – Semestinya tidak seekstrim itu pertanyaan yang saya ajukan sebagaimana pada tema diatas. Lantaran saya dan tentu semua kita memiliki literasi dan pemahaman bhw Ir. Soekarno Proklamator dan Presiden RI pertama serta keluarganya adalah penganut muslim yang baik. Fatmawati ibu kandung Sukmawati penjahit Bendera Pusaka Merah Putih adalah aktivis remaja wanita islam dan putri dari Tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Selain itu kita bisa menelusuri pada cognisi cosmologic politik dan kepemimpinan Ir. Soekarno tentang Islam. Soekarno bersama Mohammad Hatta The Fonding Fathers mengumanangkan Teks Proklamasi pada tgl 17 Agustus 1945, jatuh pada hari jumat bulan romadhan.

Sebagai seorang negarawan Ir Soekarno punya komitmen pada ajaran islam. Karenanya di lingkungan istana negarapun ia membangun masjid Bayturrahman. Sebagai simbul istana negara, jika ada masjid berdiri sdh pasti menjelaskan pada kita bhw Istana Negara Republic Indonesia disinari oleh spirit islam. Islam menjadi energi yang menggerakan tata kelola kenegaraan.

Selain itu Soekarno juga atas nama Presiden RI, Ia memprakarsai untuk membangun masjid Istiqlal (masjid kemerdekaan). Masjid sebagai simbul negara, bhw negeri ini duhuni oleh mayoritas umat Nabi Muhammad saw. Fskta statistik menunjukan umat muslim mayoritas di Tanah Air, artinya umat yg memiliki potensi politik. Olehnya perlu meemberi perhatian dlm berbagai kebijakan.

Masjid Istiqlal berfungsi sebagai pusat pembinaan keberagamaan umat Islam Indonnesia. Umat yang taat beragama tentu akan memverikan dampak positif dlm bernegara. Sesungguhnya keberadaan Masjid Istiqlal menggambarkan fenomena religiusitas seorang Ir. Soekarno yang meletakan dasar kebijakan itu pada Pancasila dasar dan falsafah negara, yaitu Sila Pertama Ketuhana Yang Maha Esa.

Saat menjelang Kemerdekaan RI Soekarno juga melakukan kesepakatan politik dg para pendiri bangsa, terutama kalangan Islam (Kibagus Hadikusuma, Wahid Hasyim, Agus Salim, Kasman Singodimejo) untuk menghadirkan Departemen Agama. Kementrian atau departemen agama ini secara khusus mengurus dan mengatur agama islam dan agama lain di tanah air, agar agama berperan proporsional memperkuat moralitas bernegara. Konsensus ini merupakan kesepahaman politik Soekarno bersama Tokoh Tokoh Islam atas kerelaan mereka menghapuskan 7 kata (Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya) dalam Piagam Jakarta.

Baca juga :  Seminar Bahaya Penggunaan Gadget Bagi Anak

Soekarno memberikan ruang Pertumbuhan dan Perkembangan Islam dan agama lain secara terorganisir oleh negara. Artinya Soekarno, selaku Presiden ia sangat menyadari bhw pengaruh Agama khususnya Islam atas kehidupan berbangsa dan bernegara sangat besar apalagi di negeri yang mayoritas beragama islam.

Namun Sukmawati anak bioligis Soekarno, rupanya gagal mempersonifikasikan dirinya menjadi Putri Sang Proklamator. Karena ia gagal menginternalisasi dan gagal memahami alam pikiran Soekarno secara comperhensif. Bacaannya tidak memadai untuk menjelaskan cosmologi islam tentang sejarah Keagungan Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Bila tidak ada spirit Profetik Kenabian Muhammad saw yang menginstitusi di saraf cognitif dan psyikhomotorik Soekarno, maka sulit rasanya Soekarno bisa menggerakan jutaan umat islam Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari emperialis Belanda.

Dari daerah pengasingannya di Ende Flores thn 1942 Ir Soekarno pernah bersurat kepada gurunya A. Hassan di Bandung. Ia mengajukan beberapa hal kepada A. Hassan: di Ende ini banyak orang muslim tapi cara pandang keislaman orang Ende tidak progresif tidak punya energi pergerakan, alis jumud, pasif dan kumuh. Pertanyaan Soekarno itu menggambarkan betapa Soekarno sangat memahami Doktrin Risalah Tauhid yang diajarkan oleh Muhammad Rosulullah sekitar 15 abad silam mengandung ajaran tentang modernitas, progresivitas dan radikalitas.

Sejarah terpenting dari potret keteladanan Kerasulan Muhammad SAW adalah mengajarkan Konsep Monoteisme, faham tentang Keesaan Tuhan. Dari doktrin monoteisme merupakan bangunan dasar pandangan dan keyakinan manusia. Di atas Paradigma Tauhid dimulailah pergerakan pembebasan umat manusia dari belenggu rasialistik, monarchi, oligarchi dan dinasti kapitalistik. Semua Manusia Setara Di Hadapan Allah kecuali hamba yg MUTTAQUN.

Olehnya tidak ada urgensi dan relevansinya membandingkan Ir. Soekarno dg Junjungan Agung Nabi Muhammad saw. Soekarno Presiden RI, punya pengaruh di kawasan Asia Afrika. Tapi sosok Nabi Muhammad saw tak patut dibandingkan dengan pemimpin manapun di muka bumi termasuk Soekarno.

Baca juga :  " Miris, Warga Hidup di Bawah Menara Telekomunikasi "

Muhammad Rosulullah, tidak akan pernah diutus oleh Allah kecuali untuk manusia dan rahmat bagi alam semesta. Setiap perkataan dan tindakan Nabi Muhammad adalah wahyu yang Allah pancarkan di dalam diri Muhamnad. Pada diri Muhamnad adalah teladan yang baik bagi siapapun. Dan di hari akhir kelak hanya syafaat nabi Muhammad yang bisa menolong umatnya selamat dari siksaan dan adzab api neraka. Hanya sifat nabi Muhammad dapat menghantarkan manusia menuju surga. Karenanya tiada waktu bagi umatnya untuk terus mengumandangkan selawat atas Muhammad.

Tapi sayang kaum seculer, liberal, komunis dan ateist senantiasa melakukan kampanye buruk untuk meredupkan api dan siar islam di tanah air. Bahkan meereka ingin memisahkan islam dari negara. Mereka tidak akan pernah berhenti mendiskreditkan Nabi Muhammad, ajaran dan umatnya sampai islam di negeri ini punah.

Pertanyaan penting yang harus dihadirkan, ada agenda apa yang tersembunyi dibalik menggumpalnya gerakan islam phobiya ? Upaya menghilangkan kata kafir di dalam al Quran, menolak khilafah, anti terhadap tradisi islam, juga simbul islam seperti bendera tauhid ? Tentu ada sesuatu yang fenomena yang mengganjal. Mari kita diskusikan.

Penulis : MHR. Shikka Songge

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru