oleh

Ketua RW dan Adik Alm Penjaga Lahan Sengketa Membuka Tabir Kasus Tanah Acam Bin Mendung

Kota Bekasi, Kicaunews.com – Sidang lanjutan yang ke 20 Acam bin Mendung dalam sengketa tanah menghadirkan dua saksi yang meringankan (A-De Charge) atas nama Tinus adik kandung dari Almarhum Dani Wadanugun yang tewas tertembak oleh orang tak dikenal saat menjaga lahan Acam bin Mendung yang terletak di Jalan Inspeksi Kalimalang, Bekasi Barat dan H Sayuti mantan Ketua Rw 011 Kelurahan Jaka Sampurna, Bekasi Barat tahun 2008- 2014.

Kesaksian Tinus dan H. Sayuti di Pengadilan Negeri (PN) Kota Bekasi, Rabu(13/11/2019)untuk memberikan keterangan kepada Majelis Hakim yang di Ketuai Hakim Ketua Togi Pardede, SH sabagai saksi yang meringankan Acam Bin Mendung.

H. Sayuti mantan Ketua RW 11 menerangkan bahwa status tanah yang di jual Manumpak Sianturi ke Laurence merupakan tanah sengketa. Padahal tanah sengketa tidak boleh diperjualbelikan. Tanah seluas 1600 meterpersegi tersebut  bersengketa pada 2015 antara Hotmariani Saragih istri Manumpak Sianturi dengan Acam Bin Mendung yang digugat di PN Kota Bekasi, namun Hotmariani Saragih kalah.

Namun anehnya Maret 2018 tanah tersebut dijual Manumpak Sianturi yang mengaku sebagai penggarap ke Laurence M Takke Owner PT Anugerah Duta Sejati (ADS) yang sebelumnya didapat Manumpak Sianturi pada tahun 2003 dari Bindu Sirait.

Dalam kesaksiannya H Sayuti menyebut tanah yang dijual Hotmariani Saragih (Manumpak Sianturi) bukan tanah garapan tetapi tanah girik milik Acam bin Mendung. Pada sàat dia menjabat Ketua RW 11 mengetahui  fotocopi surat tanah girik milik Acam bin Medung. ” Saya pernah melihat surat girik milik Acam bin Mendung berupa fotocopi ada di kelurahan (Jakasampurna) dan SPPT atas nama M. Jaelani Hamid,” jawab H.Sayuti ketika ditanya Hakim Ketua Togi Pardede.

Baca juga :  Benang Merah Pancasila dan Zionisme dalam Talmud Yahudi

Pengakuan H. Sayuti selaku mantan Ketua RW 11 yang terpenting  kata Kuasa Hukum BMS Situmorang yakni terkait surat alih oper garapan yang di klaim milik Hotmariani Saragih (Manumpak Sianturi)  pada tahun 2018  yang dijual ke Laurence M Takke diragukan kebenarannya.

“Karena surat tanah oper garap tahun 2003 saja cacat hukum maka otomatis surat tanah oper garap tahun 2018 diduga cacat hukum pula,” tegas BMS.Situmorang.

Lantaran kronologis awal Hotmariani Saragih (Manumpak Sianturi) mendapatkan surat oper alih garapan dibeberkan oleh H.Sayuti  dalam kesaksiannya di PN Kota Bekasi.

Mantan Ketua RW 11 tersebut menyebut jika pada tahun 2003 dan 2004, Ketua RW 11 bernama M.Noer Ali dalam surat oper alih garapan tercantum sebagai saksi merupakan saksi palsu karena pada tahun 2003 M.Noer Ali belum pernah menjabat sebagai Ketua RW 11 tetapi sebagai ketua RT 05. Sedangkan yang sebenarnya menjadi Ketua RW 11 adalah Aran.

Disebutkan Surat tanah oper alih garapan tertanggal 02 Desember 2003 dari Bindu Sirait ke Hotmariani Saragih tercantum saksi ketua RW 11 M.Noer Ali dan Ketua RT 12 Soepandi Hadi. Lebih lanjut kata Situmorang, M.Noer Ali sama sekali tidak pernah menandatangani surat tanah oper alih garapan pada 2003.

Lebih anehnya lagi kata Situmorang, pada Maret 2004  setelah menjadi saksi di surat oper alih garapan pada 02 Desember 2003,  M Jaelani Hamid, Bindu Sirait dan Jaelani Tamam justru digugat Hotmariani Saragih padahal mereka itu sebelumnya merupakan saksi dalam surat oper alih garapan Hotmariani Saragih.

BMS. Situmorang dan Budiyono selaku kuasa hukum Acam Bin Mendung menegaskan jika surat oper alih garapan atas nama Hotmariani Saragih (istri Manumpak Sianturi) yang ditandatangani oleh Lurah Jakasampurna Nurdin dan Camat Bekasi Barat M.Bunyamin patut diduga cacat hukum.

Baca juga :  Kiai Ciamis Apresiasi Gaya Kampanye Ridwan Kamil Dan Uu Ruzhanul Ulum.

Sementara keterangan saksi Tinus mengatakan pada Oktober 2018 menempati tanah sengketa tersebut atas surat tugas ke Dany Wadungun kakak dari saksi Tinus.  Karena Asep adalah penerima surat kuasa dari Acam Bin Mendung.

Beberapa bulan kemudian setelah Dany Wadanugun dan Tinus menempati dan memggunakan tanah tersebut untuk usaha steam mobil pada 15 Maret 2019 mendapat surat somasi pemgosongan lahan dari Laurence M Takke dengan alasan lahan tersebut sudah dibeli dari Manumpak Sianturi berdasarkan perjanjian pengikatan  jual beli no.33 tanggal 09 Februari 2018 dihadapan notaris Effie Putri Adjie SH, MKN yang merupakan notaris dari Bandung.

Lalu April 2019 Dany Wadanugun didatangi dua kali oleh orang yang mengaku suruhan Laurence M Takke keluar dari lahan tersebut dengan menawarkan sejumlah uang. Kalau tidak mau keluar akan dikeluarkan paksa,” ungkap Situmorang.

Kemudian 2 Mei 2019, Dany Wadanugun dan Tinus ditangkap oleh penyidik Polda Metrojaya yang menangani perkara yang melibatkan Acam Bin Mendung. Namun karena tidak terbukti Dany Wadanugun dan Tinus tidak ditahan.

Akhirnya melalui orang suruhan Laurence M. Takke selaku pemilik Apartemen Metro Galaxi Park dan selaku Owner PT.ADS melakukan pengusiran Dany Wadunugun Cs dari tanah sengketa tersebut yang berakhir rusuh dan menewaskan Dany yang tertembak dan satu luka tembak di paha dan 5 orang luka –  luka akibat benda tajam pada 21 Juni 2019 pukul 00.30 Wib. (Sofie)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru