oleh

Gerimis Portofolio Mengurangi Sampah Rumah Tangga

KICAUNEWS.COM — Persolaan pengelolaan sampah di Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang besar dan semakin hari sangat mengkhawatirkan. Data terakhir jumlah timbulan sampah pada tahun 2019 sekitar 65-72 juta ton perhari sampah yang dihasilkan di Indonesia.

Volume sampah cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat yang makin susah terkendali.

Pola pengurangan sampah oleh masyarakat adalah upaya mengurangi jumlah timbulan sampah yang dibuang ke TPA, dengan prinsip jika dari hulu (sumber sampah) sudah terkendali maka sampah dihili(TPA) akan berkurang.

Pemerintah sudah menerbitkan UU No.18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam undang undang ini tertuang secara jelas tujuan pengelolaan sampah, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagi sumber daya.

Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. 

Masyarakat sebagai penyumbang sebagian besar sampah yang dihasilkan sudah saatnya memiliki kesadaran disebabkan keterbatasan pemerintah untuk mengelola sampah. Sampah apapun jenisnya saat ini berakhir di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah.

Pola lama dan masih dijalankan saat ini adalah pola kumpul, angkut dan buang.Sudah saatnya hari ini berubah pola baru paradigma pengelolaan sampah yaitu dilakukan pemilahan sampah, dikelola ditingkat komunitas terkecil dan hanya residu sampah yang dibuang ke TPA. Hal ini akan berdampak pada masa pakai TPA menjadi lama.Sehingga pemerintah tidak memperluas atau membuka TPA baru.

Sampah organik, merupakan satu jenis sampah yang paling besar setiap hari dihasilkan.Sampah organik yang dihasilkan masyarakat berasal dari rumah tangga yang jumlahnya 60% dari seluruh timbulan sampah, 14% untuk sampah plastik, 9% untuk sampah kertas, 4,4% untuk sampah metal dan 12,7% sampah jenis lainnya (kaca,kayu dan sampah jenis lainnya).

Gerimis (Gerakan Minim Sampah) adalah portopolio pengurangan sampah sejak dari masing masing rumah tangga yang dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam sebuah komunitas ibu-ibu rumah tangga, yang mempunyai tujuan untuk mengurangi,mendaur ulang dan mengguna pakai sampah yang bisa dimanfaatkan, sehingga sampah bisa dikendalikan sejak dari rumah tangga masing-masing.

Komunitas Gerimis menggunakan 3 strategi dalam kegiatan yang dilakukan dikenal dengan : 

  1. Strategi Pintu Depan , sebelum konsumsi produksi setiap rumah tangga memikirkan,menghindari atau mencari alterantif agar produk sisanya tidak menjadi sampah dan dibuang,merencanakan bahan yang akan dikonsumsi dan diproduksi.Contoh :merencakan apa yang akan dimasak, untuk membeli baju disesuaikan dengan kebutuhan,membeli sesuai dengan kebutuhan.
  2. Strategi Pintu Tengah, saat proses konsumsi produksi , memakai sesuatu yang ada ketimbang beli baru,memperbaiki barang yang rusak ketimbang buru buru untuk dibuangnya.
  3. Strategi Pintu belakang, setelah proses konsumsi dan produksi , yaitu meneruskan sisa konsumsi dan produksi kesiklus berikutnya, sampah organik dibuat menjadi kompos ‘didaur ulang berdasarkan kategori materialnya masing masing. Maka tidak semua sisa produksi dan konsumsi menjadi sampah.

Komunitas Gerimis yang berlokasi di Perum Griya Serpong RW 006 Kelurahan Kademangan Kec,Setu Kota Tangerang Selatan Banten sudah melakukan kegiatan ini sejak tahun 2018. Komunitas Gerimis terdiri dari perwakilan setiap RT yang bertugas mensosialisasikan, mengajak dan melakukan monitoring kegiatannya. Perkumpulan warga,pengajian Majlis taklim dan paguyuban adalah media efektif untuk menyampaikan program kegiatan Gerimis.

Seiring berjalannya waktu pola GERIMIS sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh anggota komunitas dan sekitarnya, sampah sudah tidak lagi menjadi masalah karena sudah dapat dikendalikan ditingkat sumber timbulan sampah yaitu dari rumah tangga.

Pola pembiasaan saat berbelanja sudah membawa goodybag sendiri, sehingga mengurangi pemakaian plastic, saat membeli beras dalam jumlah sedikit dibiasakan membawa toples ,sudah tidak memakai plastic. Sisa makanan jika ada dimasukan kedalam tong komposter untuk dibuat komos cair dan padat yang digunakan untuk menyuburkan tanaman bunga dan buah. Saat ada kegiatan tidak menyediakan konsumsi yang dikemas oleh kertas kardus atau Styrofoam  tetapi sudah memiliki bok makan invetaris yang dipakai bergulir dan sudah tidak menyediakan air minum dalam kemasan tetapi pakai gelas. Ini adalah pola perubahan yang kecil tetapi bisa berdampak besar jika dilakukan dan oleh ribuan komunitas di Indonesia.

(Red/Rilis)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru