oleh

Acam Menanti Keadilan Majelis Hakim PN Kota Bekasi Tangani Tuduhan Pengusaha Laurence

Kota Bekasi, Kicaunews.com – Kakek Acam bin Mendung (79 thn) dilaporkan oleh  PT.Anugerah Duta Sejati (ADS) dengan Direktur utamanya Laurence M Takke ke Polda Metro Jaya 16 Mei 2019 dan kasusnya diadili di Pengadilan Negeri (PN) Kota Bekasi. Namun Laurence mangkir dari pemanggilan PN Kota Bekasi pada sidang ke 15 sebagai saksi, Rabu (9/10/2019).

Menurut keterangan salah seorang Penasihat Hukum Acam bin Mendung, BMS Situmorang , perkara kakek Acam bin Mendung teregister di Pengadilan Negeri Bekasi tanggal 25 Juli 2019 Nomor: 419/Pid.B/2019/PN.Bks  yang sidang pertamanya dimulai pada hari Rabu, 07 Agustus 2019, dengan agenda: Pembacaan Surat Dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fariz  Rachman, SH.

Seyogyanya sidang ke 15 , Rabu (9/10/2019) JPU Fariz Rachman menghadirkan Dirut PT. ADS Laurence M, Takke di persidangan namun JPU gagal mendatangkan Laurence sebagai saksi sekaligus pelapor.

Acam Bin Mendung dilaporkan Laurence dalam dugaan Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan dan atau Pemalsuan Surat dan atau Menyuruh Menempatkan Keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik,  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP, Pasal 263 KUHP, dan Pasal 266 KUHP, yang terjadi pada tanggal 22 Mei 2017 di Kantor Notaris Harry Purnomo, SH, MH, M. Kn. di Bekasi.

Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim: Togi Pardede, SH, MH sebagai Ketua, dengan didampingi 2 (dua) Anggota, Ramli Rizal, SH., MH. dan Ranto Indra Karta, SH., MH. Sedangkan Acam Bin Mendung didampingi Penasihat Hukum dari Law Office BMS Situmorang & Partners, yang terdiri dari Advokat BMS Situmorang, Advokat Budiyono, Advokat Winter Eduard Situmorang, dan Advokat Yohanis Vianey Poa.

Perkara Acam bin Mendung bermula dari adanya sengketa tanah seluas 1.600 M² antara Acam bin Mendung dan pasangan suami istri Dr. Manumpak Sianturi, SH, MH, MM & Hotmariani Saragih sejak tahun 2015 lalu.

Baca juga :  Tingkatkan Sinergitas Pusat dan Daerah di Bidang Humas dan Hukum, Kemendagri Agendakan Gelar Rakornas Se Indonesia

Menurut Situmorang Dr Manumpak Sianturi dituding telah berkhianat dan diam – diam pada tanggal 09 Februari 2018, tanah objek sengketa tersebut dijual ke Laurence M Takke  dengan dasar sebagai Tanah Garapan (Tanah Negara Bebas) seharga Rp. 7 miliar berdasarkan Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli No. 33 tanggal 09 Februari 2018 yang ditandatangani di hadapan Effie Putri Adji, SH, M. Kn., Notaris di Kabupaten Bandung jo. Surat Pernyataan Oper Alih Garapan (Tanah Negara Bebas) tanggal 06 Maret 2018.

Sehingga, Acam Bin Mendung selaku pemilik tanah berdasarkan Tanah Milik Adat C. 997 Persil 69 melakukan perlawanan dengan cara menyuruh Danny Wadanugun (Hollat, 9 Maret 1978) menguasai fisik tanah sejak bulan Oktober 2018,  serta memblokir proses permohonan hak dan sertifikat atas nama Laurence M. Takke di Badan Pertanahan Kota Bekasi terhitung sejak tanggal 23 November 2018.

Menghadapi tindakan Acam Bin Mendung tersebut, dengan maksud agar Acam menyerah, dan tanah bisa dikosongkan serta proses pengurusan permohonan hak dan sertifikat di BPN berlanjut.

PT ADS (pemilik Apartemen Metro Galaxy Park, di Jl. Inspeksi Kalimalang, Kelurahan Jakasampurna, Kota Bekasi) melakukan kriminalisasi terhadap Acam bin Mendung dengan menyusun drama “Perkara Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan dan atau Pemalsuan Surat dan atau Menyuruh Menempatkan Keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik, yang terjadi pada tanggal 09 Februari 2017 di Kalimalang Kota Bekasi’ melalui Laporan Polisi di Polda Metro Jaya Nomor: LP/6773/XII/2018/PMJ/Dit Reskrimum tanggal 10 Desember 2018,” kata BMS Situmorang saat ditemui pada Rabu sore.

“Namun, gerakan terstruktur, sistematis dan massif untuk pengambilalihan tanah objek sengketa seluas 1.600 M² oleh Laurence M. Takke dari penguasaan Acam Bin Mendung akhirnya kandas karena terjadinya 2 (dua) peristiwa hukum yaitu: adanya gugatan M. Zaelani Hamid  terhadap PT ADS dan Hotmariani Saragih (Istri Dr. Manumpak Sianturi, SH, MH, MM) di Pengadilan Negeri Bekasi dengan register perkara No. 236/PDT.G/2019/Bks. tanggal 29 Mei 2019, yang juga mengklaim tanah yang diperjualbelikan Hotmariani Saragih dengan Laurence M. Takke adalah miliknya.

Baca juga :  Obyek Wisata Pantai Batukaras Dipadati Ribuan Pengunjung Pada Libur Lebaran

“Dan  kasus kedua terjadinya pengeroyokan atau pembunuhan terhadap Danny Wadanugun (Hollat, 9 Maret 1978) di lokasi tanah objek sengketa pada tanggal 21 Juni 2019 malam,”ungkap BMS. Situmorang.

Dalam persidangan, kata Situmorang keterangan yang diduga palsu yang disampaikan oleh para saksi seperti Lurah Jakasampurna, Nurdin, Camat Bekasi Barat Bunyamin dan Supardi eks karyawan PT ADS sudah terungkap secara jelas dan terbantahkan dakwaan yang dituduhkan ke Acam Bin Mendung.

“Semua berkat keseriusan dan keahlian para Penasihat Hukum dalam menggali fakta-fakta dari saksi Supardi,SH, Saksi Suratman CH., Saksi Muh.Bunyamin, Saksi Nurdin, Saksi Rama Wardhana dan Saksi Dr. Manumpak Sianturi, SH, MH, MM,” tegasnya.

Karena itu, Situmorang mengatakan Acam Bin Mendung beserta keluarganya sangat berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala a]]gar mendapatkan keadilan substansial dari Benteng Keadilan, Pengadilan Negeri Bekasi, melalui keberanian dan keterpanggilan Jaksa Penuntut Umum, Fariz Rachman, SH serta Majelis Hakim Togi Pardede, SH, MH, Ramli Rizal, SH., MH. dan Ranto Indra Karta, SH., MH. untuk menolak intervensi dan kemudian berkenan memutus bebas. (Sofie)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru