oleh

Orang Tua Wali Murid Keluhkan Biaya Uang Pembangunan SMK 2 Negeri Cikarang Barat

Kab. Bekasi, Kicaunews.com –  Beberapa orang tua wali murid SMK 2 Negeri Cikarang Barat keluhkan pungutan biaya pembangunan sekolah sebesar Rp 1.700.000 yang dijanjikan bisa dicicil sebelum Desember, namun pihak sekolah malah menagih uang tersebut kepada orang tua murid.

Informasi dan pengakuan yang didapat dari beberapa orang tua murid yang tak mau disebutkan namanya, menyayangkan sikap SMK N 2 Cikarang Barat yang tidak konsisten dimana berjanji akan membantu orang tua murid dalam melunasi uang pembangunannya secara diangsur.

“Jika anak kami belum membayar uang bangunan maka tidak dapat kartu untuk  ikut ujian tengah semester ( UTS) padahal perjanjiannya sampai Desember kami bisa menyicil tetapi belum waktunya sudah di tagih,” ungkap salah satu orangtua murid, Selasa (8/10/2019)

Apalagi orangtua sudah dibebankan dengan mahalnya uang iuran sekolah yang tiap bulannya sebesar Rp. 350.000. Tentunya uang pembangunan yang sebesar Rp 1,7 juta harus dibayar sekaligus sangat membebani orangtua murid yang berpenghasilan pas – pasan, beber orangtua murid tersebut prihatin.

Saat dikonfirmasi ke pihak SMK N 2 Cikarang Barat terkait keluhan dan pengakuan beberapa orangtua murid tersebut, Bagian Humas bernama Uis menjelaskan jika pihak sekolah menyangkal adanya informasi yang dikeluhkan orangtua murid tersebut.

Bahkan kata Uis pihak sekolah tidak menahan para siswanya untuk tak mendapatkan kartu UTS dan semua siswa bahkan sudah menerima buku raport, meski belum melunasi uang pembangunan.

“Kami sudah bagikan buku raport dan tidak ada yang tidak ikut UTS, semua ikut ujian dan mendapatkan kartunya,” jelas Uis.

Sedangkan mengenai besaran uang pembangunan, menurut Uis  memang diakui jika pihak sekolah meminta bantuan ke orangtua murid sebesar Rp 17 juta dan diangsur enam bulan sampai Desember akhir.

Baca juga :  Kawasan Industri Diwilayah Kecamatan Cimerak Disetujui DPRD Pangandaran

Pihak SMK N 2 Cikarang Barat mengakui jika berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tidak diharuskan meminta sumbangan apapun kepada orangtua murid.

Namun Uis terpaksa dilakukan lantaran jumlah siswa di SMK N 2 Cikarang Barat sangat besar mencapai 1.700 siswa. Tentunya kata Uis, Sekolah membutuhkan ruang kejuruan yang lebih banyak untuk bisa menampung semua siswanya.

“Sekolah kita SMK tentunya butuh ruangan kejuruan yang lebih banyak daripada sekolah lain dan tidak mungkin siswa sebanyak seribu tujuh ratus ribu, ruang Labaratoriumnya cuma satu jurusan” ungkapnya.

Tentunya lanjut Uis, sekolah membutuhkan ruang laboratorium yang ideal yakni satu jurusan membutuhkan tiga ruangan.

“Kalau kita ada enam jurusan kita butuh delapan belas Lab pendukung KBN karna ruangan kita terbatas jadi kita butuh ruangan Lab untuk di prioritas. Jadi jumlah kelas kita mengurangi kuota PPDB,” terangnya.

Soal pembayaran uamg pembangunan pihak sekolah tidak terlalu memberatkan orang tua murid, ada kebijakan jika orangtua tidak mampu maka uang pembanguannya dikurangi dan bebas untuk anak yatim. Kata Uis.

Uang pembangunannya nanti akan digunakan pihak sekolah mrmbangun ruangan kelas dengan cara  ditingkat karena keterbatasan luas lahan.

“Berarti kita akan menambah ruangan dengan “ngedak” ke atas nah biayanya itu di luar anggaran Mendikbud. Dan itu sudah dijelaskan orang tua wali murid dan komite dan kita beberkan di rapat dan kita beberkan program kita dari A sampai Z,” kata Uis beralasan. (Sofie)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru