oleh

Lurah Larut Imbau Siswa SMAN 12 Kota Tangerang Tak Usah Ikut Demo

KOTA TANGERANG, KICAUNEWS.COM – Lurah Larangan Utara (Larut) Iwan Bambang Subekti meminta kepada guru, kepala sekolah dan orang tua agar menjauhi anak didik dari berbagai aksi kekerasan.

Anak didik sebaiknya didorong untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik, yakni belajar. Jangan mudah terprovokasi berita berita yang tidak benar.

Bahkan kata Iwan, imbauan yang dilakukan di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 12, Larut, Kota Tangerang, merupakan tidak lanjut dari arahan Walikota Tangerang dan Kapolres Metro Tangerang Kota, agar siswa siswo tidak ikut turun ke jalan.

“Dalam rangka menindaklanjuti arahan dari Pak Walikota dan Kapolrestro Tangerang Kota, untuk melakukan pembinaan kepada siswa siswi SMAN 12, agar tidak turun kejalan atau ke Senayan untuk berdemo menolak RUU KUHP,” terang Iwan kepada Kicaunews.com, Kamis (26/9/2019).

Iwan juga menyayangkan aksi demo yang melibatkan siswa SMK dan SMA yang berakhir ricuj dan bentrok dengan Polisi. Akibatnya beberapa siswa menderita luka-luka dan sebagian lagi harus berurusan dengan Polisi, karena bertindak anarkis dan merusak fasilitas umum.

“Saya berharap kejadian semacam ini tidak terjadi lagi. Jangan sampai siswa SMAN 12 menjadi korban demo yang terjadi seperti kemarin sore,” ujarnya.

Khusus kepada orang tua, Iwan mengingatkan agar mengawasi dan melarang anak anaknya ikut demo, belajar di kelas jauh lebih baik daripada ikut demo.

“Lebih baik fokus saja untuk belajar dan menuntut ilmu, agar tercapai cita-cita dan menjadi pengganti para pemimpin bangsa nantinya,” tegasnya.

Seperti ramai diberitakan, Rabu (25/9/2019) menjadi hari yang menyentak banyak pihak. Anak-anak siswa SMA/SMK bergerak menuju gedung DPR RI untuk melakukan aksi demonstrasi seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam rentang dua hari sebelumnya. Mereka datang dalam jumlah ratusan ini berasal dari berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya.

Baca juga :  AKP. Paryudi, Warga Demak Harus Sehat Bebas Narkoba

Tujuan mereka datang ke DPR adalah sebagai rasa solidaritas terhadap kakak-kakak mahasiswa yang berdemo menuntut pembatalan terhadap pengesahan UU KPK, dan penundaan RKUHP.

Secara umum, kebanyakan dari anak-anak ini tidak terlalu memahami maksud tujuan demo yang mereka lakukan. Mereka melakukan aksi demonstrasi karena merasa terdorong dan termotivasi oleh perkembangan berita yang ada, bahkan ada juga yang terprovokasi dari media sosial.

Anak-anak ini berasal dari berbagai sekolah, ada yang dari SMK, SMA, bahkan ditemukan ada anak yang masih duduk di bangku SMP. Usia mereka rata-rata 18 tahun.

Demonstrasi yang dilakukan oleh siswa sekolah kemarin tidak berjalan mulus. Dalam perjalanan menuju DPR, anak-anak justru ada yang melempari aparat keamanan dengan batu sehingga situasi menjadi tidak kondusif dan mendorong aparat keamanan untuk bertindak represif dengan melakukan pengejaran dan pengamanan terhadap mereka.

Peristiwa ini berlanjut dengan penangkapan ratusan siswa sekolah dan ditahan di kepolisian. Ada yang kemudian dipulangkan setelah diperiksa, ada pula yang masih ditahan karena membawa senjata tajam dan melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan.

Hingga malam hari, mereka banyak yang masih berada di kantor polisi menunggu kedatangan para orangtua mereka. Ada pula anak-anak yang masih dirawat di rumah sakit karena mengalami luka-luka akibat bentrok dengan aparat kepolisian.

Demonstrasi yang dilakukan para pelajar kemarin menjadi bahan evaluasi mendesak dari pemerintah agar tidak lagi terjadi eskalasi jumlah anak-anak yang terlibat dalam kegiatan demo. (aput)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru