oleh

Tak Terima Intimidasi Jurnalis, Awak Media Demo Tuntut Ketua Katar Bekasi Utara di Copot

Kota Bekasi, Kicaunews.com – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Bekasi Bersatu (JBB) menggelar aksi solidaritas mendesak Wali Kota Bekasi untuk memecat Ketua Karang Taruna Kecamatan Bekasi Utara, Rabu (11/9/2019).

Aksi damai yang berlangsung di depan gedung Pemkot Bekasi itu berkaitan dugaan intimidasi terhadap salah satu wartawan lokal Bekasi Ahmad Pairudz.

Aksi damai awak media di Pemkot Bekasi untuk bertemu Wali Kota Bekasi, menuntut agar tindakan Heri alias Cemong selaku Ketua Karang Taruna (Katar) Bekasi Utara agar dicopot sebagai Katar karena sudah mencederai insan pers. Namun sayangnya Wali Kota Rahmat Effendi tidak datang menemui aksi awak Pers.

Begitu juga menurut, Lengkong ketua DPC Bekasi  AWPI (Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia), ucapnya, sangat menyayangkan atas sikap arogansi Heri alias Cemong selaku ketua ketua karang taruna di wilayah Bekasi utara harus bersikap profesional, karena  sebagai jurnalis sudah mengikuti kode etik saat meminta konfirmasi, ungkapnya.

Karena permintaan para aksi damai belum dapat bertemu langsung kepada wali kota Bekasi,  rencana nya aksi damai akan dilanjutkan besok dengan aksi yang lebih besar.

Koordinator aksi, Muhammad Alfi mengatakan, tindakan itu dilakukan ketika Ahmad Pairudz (Radar Bekasi) mengkonfirmasi perihal pembongkaran bangunan liar (bangli) di Kelurahan Harapan Baru.

“Pay (Ahmd Pairudz), awalnya mewawancarai Karang Taruna Unit 01, Kelurahan Teluk Pucung perihal bangunan tersebut, Selasa (3/9/2019). Kemudian, Ketua Karang Taruna Unit 01, Adi Kusnadi menyebut dirinya melakukan pembangunan atas perintah Heri,” ungkapnya dalam kronologis itu.

Selanjutnya, Pay mengkonfirmasi kebenaran tersebut ke Heri dengan menghubunginya melalui ponsel pada Rabu (4/9/2019). Heri pun bersedia untuk diwawancarai dan meminta Pay datang ke kediamannya di wilayah Kelurahan Kaliabang Tengah.

Baca juga :  Sambut Siswa Siswi Baru, Babinsa Kelurahan Kemlayan Ikuti Kegiatan Penutupan MOS di SPM 1 Kanisius

“Pay pun mendatangi rumah Heri namun yang bersangkutan tidak berada di rumah. Lalu, dia (Pay) kembali ke kantor,” ujar Alfi.

Selanjutnya, Heri menghubungi dan meminta untuk kembali datang ke rumahnya.Sesampainya di rumah Heri, sudah ada enam orang yang berada di lokasi. Tiga orang duduk di depan, dua orang di samping dan satu orang lagi duduk di belakang Pay.

“Ketika mengkonfirmasi, Pay mulai merasa terintimidasi. Selanjutnya, dia menanyakan tentang informasi bahwa warung tersebut akan disewakan sebesar Rp6 juta,” kata Alfi.

“Seketika Heri, isteri dan rekannya marah dan mengeluarkan kata-kata yang dinilai tidak pantas sambil menunjuk Pay. Setelah mendapatkan konfirmasi itu, Pay pamit dan meninggalkam kediaman Heri,” tambah Alfi. (sofie)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru