oleh

Ustadz Lawyer Sikapi Disertasi Abdul Aziz

JAKARTA, Kicaunews.com – Menurut Ustad Lawyer (Ust. H. Sayyidi Marzuqi,S.H.,M.H.) menyikapi disertasi, yang sedang viral dengan judul “konsep milkul yamin muhammad syahrul sebagai keabsahan hub sexual non marital” memang mengundang kontroversial bahkan MUI juga angkat bicara mengenai hal ini Artinya jika kita perhatikan kalau sudah ada iٍntervensi dari MUI yang menyangkut kemaslahatan ummat urgensitasnya sudah sangat dhorurot/ sangat membahayakan , bahkan bukan hanya utk islam saja tapi ini bisa masif secara umum di Indonesia.

Oleh karenanya jika kita perhatikan disertasi abdul azis disini ada kesengajaan dari dia untuk mempelajari dan implementasi kan dalam kajian ilmiah dari pemikiran seorang tokoh, muhammad syahrur yang mana dalam hal ini tokoh yang di jadikan objek penelitian oleh Abdul Azis ini dalam kehidupan nya sangat minim pendidikan agamanya karena muhammad syahrur  yang Ustad Lawyer ketahui menurut sejarahnya dari kecil hingga dia tamat doktor itu tidak menempuh pendidikan islam kalau di Indonesia madrasah ibtidaiyyah,ً tsanawiyah. ‘aliyah di sematkan dengan sebuah pendidikan agama islam namun kalau disana tempat tinggal syahrur Madrasah ibtidaiyyah, tsanawiyyah dan aliyyah blum tentu pendidikan islam bahkan muhammad sahrur semasa kuliahnya sampai S3 mengambil fakultas tekhnik sipil  kata Ustadz Lawyer berbeda dengan Abdul Azis si penulis disertasi ini jika di lihat dari track rec out nya dia S1 IAIN Alaudin makasar, S2  IAIN Walisongo semarang dan S3 kini di UIN SUnan Kalijaga jogja bahkan dia jadi dosen tetap di IAIN surakata fakultas syariah jurusan hukum keluarga islam . Dalam hal ini menurut Ustad Lawyer bagaimana mungkin kok bisa seorang abdul azis yang sangat jelas track rec outnya dari pendidikan islam mengambil konsep pemikiran yg fundamental dari seorang tokoh muhammad syahrur yang tidak pernah menempuh pendidikan islam.

Seharusnya dia tau apabila kita hendak mendukung argumentasi seseorang apalagi pemikirannya sangat bertolak belakang dg kemaslahatan ummat , dia harus mempelajari bagaimana sanad atau rantai keilmuan yang dia jadikan rujukan artinya muhammad syahrur punya guru siapa, kemudian gurunyanya belajar dengan siapa sampai rantai ilmunya di dapat dari Rasulullah SAW oleh karenanya Syaikh Abdullah ibnul mubarak mengatakan Lau lal isnad laqola man syaa’a maa syaa’a kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki”

Baca juga :  NEGERI SALAH RUMUS

Ustad Lawyer mengatakan di dalam desertasi tersebut apakah memang abdul azis membuka atau tidak ayat secara keseluruhan jangan sampai goal nya disertasi ini bukan atas dasar konsep akademisi yang secara teoritis dan praktis yang bermanfaat utk masyakarakat namun ada sebab lainnya salah satunya mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Sebagai contoh ada salah satu ayat yang menjadi refrensi atau instrumen penelitiannya salah satunya surat al muminun ayat , namun ternyata menurut Ustad Lawyer dilain hal pemikiran abdul azis menjadi sangat statis padahal hukum islam sangat bersifat dinamis relevan sepanjang zaman, di lain hal Allah telah berfirman di surat al mukminun tadi berkenaan dengan milkul yamin namun di sisi lain Allah setelahnya memperjelas di surat An nisa ayat bahwa budak harus dinikahi dengan izin pemiliknya atau keluarganya dan dengan membayar mahar dengan cara yang ma’ruf. Oleh karena itu menurut Ustad Lawyer yang pertama di surat Al mukminun Allah katakan boleh kemaluan di lampiaskan kpd istri istri dan budak mereka namun seiring perkembangan zaman Allah turunkan lagi Ayat dengan redaksi nikahi budak dg izin keluarganya dan membayar mahar tertentu, maka arti nya dengan ayat ini, tujuan Allah SWT yang pertama mempersamakan manusia yg satu dengan yang lainnya konsep an nasu min adama wa adamu min turab  semua manusia berasal dari Nabi Adam As dan Nabi Adam As berasal dari tanah dalam bahasa hukumnya equaliti before the law semua orang punya persamaan hak di depan hukum kemudian yang kedua tujuan dari Allah swt adalah mbuktikan kepada ummat bahwa islam adalah agama yg dinamis  selalu mengikuti perkembangan zaman dimana harkat martabat seorang budak di angkat oleh Allah dengan di perbolehkannya manusia yg merdeka untuk menikahi budak dg cara yang ma’ruf.

Baca juga :  Setelah Anas Urbaningrum-Idrus Marham

Di dalam perihal Nasikh wa Mansukh menurut Ustad Lawyer ada beberapa ayat yang memang tetap ada keberadaannya namun fungsinya sudah ditiadakan seperti halnya ayat jangan dekati sholat jika dalam keadaan mabuk kemudian turun ayat yang secara explisit total melarang minum minuman keras yaitu sesungguh nya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala dan mengundi nasib adalah termasuk perbuatan syaithan maka jauhilah hal tersebut agar kalian beruntung. kemudian contoh lain ustadz lawyer menyebutkan dahulu Rasulullah melarang ziarah kubur karena iman seseorang saat itu masih lemah kemudian di nasikh dengan di perbolehkannya ziarah kubur untuk mengingat kematian.

Jadi sangat fatal apabila abdul azis mengatakan disertasinya bertujuan untuk mengangkat martabat perempuan bahkan analog nya sangat berbanding terbalik menyamakan milkul yamin sebagai wanita manapun yang secara non marital boleh gauli layaknya suami istri yang sah. Di zaman  Rasulullah saw pun sudah ada hal ini dan bukan pertama kali hal ini terjadi, dimana ada seorang pemuda datang menemui rasulullah minta izin untuk berzina dengan wanita lain, bayangkan langsung izin dengan Rasulullah saw, namun Nabi Muhammad saw punya sifat fathonah cerdas ketika seseorang zina kpd nya Nabi kembali bertanya, apakah kau ridho jika ibumu, puterimu, saudarimu dan bibi mu di zinahi orang lain?  . Dari riwayat ini seharusnya bisa jadi tolak ukur atau introspeksi diri bagi penulis sebelum menulis disertasi bagaimana dampaknya untuk keluarga nya sendiri .

Karena sangat jelas disertasi abdul azis dengan judul keabsahan hubungan seksual non marital di luar perkawinan ini disebut sebagai legalisasi upaya mengesahkan perbuatan zina,  apa yang di maksud dengan zina  imam malik guru imam syafii mengatakan wa amma zina fahuwa kullu wath’in yaqo’u ‘ala ghairi nikahin shohihin zina adalah persetubuhan yang terjadi bukan dalam pernikahan yang sah. Untuk mendekati nya saja sudah dilarang oleh Allah jadi bagaimana mungkin Allah memperbolehkan hub non marital wa laa taqrobu zina innahu kanafahisyah wa sa’a sabilaa.. jangan dekati zina karena zina adalah perbuatan keji

Baca juga :  PKL Pantai Pangandaran Keluhkan Pendapatan Menurun Paska Relokasi

Jadi memang latar belakang nya ada ke galauan yang dituangkan ke dalam disertasinya mengenai de kriminalisasi pengurangan tingkat kriminalisasi terhadap pelaku zina jadi sepertinya Abdul Azis ingin memberikan perlindungan terhadap orang yang melakukan zina sehingga muncul lah judul tersebut waallahu a’lam . karena yang juga sebagai lulusan S1 Fakultas Syariah dan Hukum Ustadz Lawyer mengatakan dalam menyelesaikan skripsi dan tesis , jadi baik skripsi, tesis, disertasi maupun kajian ilmiah lainnya ada das sein dan das solen .. das solen itu sebuah harapan dari penulis atau cita cita dari penulis kenyataannya yang ada disekitar penulis.. maka salah satunya adalah rumusan masalah itu bagaimana dekriminalisasi terhadap pelaku zina sebagai das zolen penulis . Sebab kalau bicara tentang kriminal ada implikasinya dengan hukum pidana yang berlaku di indonesia karena hukum nasional hanya mengatur pasal 284 kuhp tentang perzinahan dalam perspektif hukum positif berbeda dengan perspektif hukum Fiqih jinayah pidana islam khusunya perzinahan. jika dalam pasal 284 kuhp bertujuan untuk melindungi lembaga perkawinan artinya apabila seseorang sudah menikah kemudian dia selingkuh dengan delik aduan maka orang tersebut bisa di pidanakan karena memang lebih cocok penyebutan pasalnya adalah pasal perselingkuhan karena dalam islam siapapun yg melakukan hubungan badan tanpa pernikahan yang sah disebut zina , jadi memang secara explisit pasal zina sebagaimana hukun islam belum di terapkan dalam hukum islam.

Bahkan menurut ustadz lawyer dampak dari hubungan seksual non marital (perzinahan) adalah jika pelaku zina melahirkan anak maka anak tersebut tidak dapat di nasabkan kepada ayahnya namun hanya memiliki nasab (garis keturunan) ibu nya sehingga secara hukum faraidh anak zina tidak memiliki hak waris hubungan keperdataan oleh ayah nya. dari hal ini jelas sangat menciderai maqoshidu syariah diantataranya Hifzhu Nasl (penjagaan keturunan) .

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru