oleh

Dukung Pemindahan Ibu Kota ke Kaltim, Hetifah Mulai Menjaring Alternatif Ikon Ibu Kota Baru

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Presiden RI, Joko Widodo, sudah mengumumkan rencana pemindahan Ibu Kota ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur, untuk menggantikan Jakarta.

Ada banyak faktor yang membuat putusan itu diambil, salah satunya adalah Jakarta sudah dinilai terlalu padat untuk menjalankan roda pemerintahan dan ekonomi sekaligus. Keputusan pemindahan ibu kota ini pun hanya tinggal menunggu pengesahan DPR dan MPR.

Untuk mendukung rencana itu, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur dari Partai Golkar ini pun sedang menjaring sejumlah ide dan gagasan dari pemuka masyarakat Kaltim, terkait ikon atau landmark Ibu Kota Negara yang baru nanti. “Jika perlu dilombakan. Dicari yang mencerminkan visi jangka panjang Ibu Kota Negara dan memadukannya dengan kearifan lokal. Unik dan bisa dikenalkan pada dunia internasional,” katanya, Rabu (28/8/2019).

Menurutnya, sudah ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan simbol atau landmark Ibu Kota baru nanti. Lima alternatif ikon tersebut adalah Tugu Belawing, Prasasti Yupa, Burung Enggang, dan Ungun Tau.

Tugu Belawing adalah simbol perdamaian, kemenangan dan kemegahan. Itulah sebabnya pada masyarakat Dayak, Belawing didirikan tidak sembarangan sembarangan. Ada waktu dan makna khusus, sehingga dahulu setiap pasca peperangan atau berpindah kampung di lokasi baru atau tengah pemukiman selalu dididirikan Belawing,” katanya.

Lalu ada Prasasti Yupa sebagai simbol pengorbanan, perdamaian dan babak awal sejarah. Sedangkan Burung Enggang merupakan penghubung dunia atas langit dengan dunia atas bumi, Burung Enggang juga menjadi simbol kebajikan dan kebaikan.

Simbol lain adalah guci atau antang atau tajau yang merupakan simbol kesejahteraan, kemakmuran dan eksistensi suatu kelompok. Sedangkan Ungun Tau adalah tiang yang selalu ada di depan rumah panjang sebagai penunjuk waktu, ketepatan dan kesatuan.

Hetifah, yang menyandang gelar Insinyur Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Tata Kota dan Wilayah (Planologi) ini mengatakan, harus ada tata ruang yang konstruksi bangunan yang tepat dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

Seperti yang diketahui bersama, Kalimantan Timur memiliki hutan yang luas yang juga menjadi ‘paru-paru’ dunia. Dipilihnya Kalimantan Timur sebagai ibu kota sebaiknya tidak sedikit pun merusak ekosistem yang ada di sana.

“Saya berharap konsep perkotaan yang baru tidak hanya sekadar garden city, tapi juga forest city yang dituangkan secara detail. Jadi, masyarakat yang tinggal di sana pun tetap merasakan kalau ini merupakan Kalimantan yang asli dengan pembangunan yang terencana,” imbuhnya.

Oleh karena itu, diharapkan, ikon Ibu Kota yang baru nanti juga mengandung unsur hutan, sungai, dan biodiversitynya. Jika Jakarta punya Monas, maka Kaltim juga harus punya landmark yang bisa dibanggakan.

“Suatu kota memang penting memiliki landmark, tapi tidak harus mewah dan memakan biaya besar,” katanya.

Ikon kota nantikan akan menjadi satu kesatuan dengan perencanaan tata ruang dan bangunan nanti.

Wakil ketua komisi X DPR RI (bidang pendidikan) yang kembali terpilih mewakili Kaltim di 2019-2024 ini menyampaikan, upaya untuk menjaring ide dan gagasan terkait ikon dan landmark calon Ibu Kota Negara baru adalah upaya untuk mendukung perpindahan ibu kota ke Kalimantan Timur.

Menurutnya, Jakarta sudah sangat sesak dan harus ada solusi baru untuk masalah yang satu ini. Pemindahan ibu kota merupakan

langkah besar yang diambil oleh Presiden Jokowi dan pastinya Partai Golkar sebagai bagian dari koalisi pemerintah akan menjadi salah satu pendukung utama gagasan ini.

“Partai Golkar menyadari pentingnya dukungan dan penerimaan publik dalam rencana pemindahan ibu kota negara ini,” ujarnya. “Tentunya saya sangat bersyukur dan meyakini keputusan Presiden Jokowi memilih Kalimantan Timur berdasarkan pertimbangan yang matang dan kajian yang cermat.”

Dia menegaskan perlu adanya pembangunan yang tepat di Kalimantan Timur saat sudah benar-benar resmi menjadi Ibu Kota Negara.

Perpindahan ini bukan sekedar memindahkan Jakarta dengan segala problemnya ke Kalimantan Timur, tapi harus terstruktur dengan rapi hingga siap menjadi kota yang menjalankan roda pemerintahan Indonesia.

“Bukan pula memindahkan macet, banjir, dan masyarakat Jakarta ke tempat baru. Kami ingin Kalimantan menjadi the future of Indonesia. Kalimantan Timur nantinya akan punya ciri khas sendiri; masalahnya sendiri,” tambahnya.

Dengan konsep pembangunan yang matang, maka harapan agar pembangunan Indonesia lebih merata dan tidak melulu terpusat di Pulau Jawa, akan tercapai. Pembangunan Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur juga harus tetap harus diikuti dengan skema pembiayaan yang tepat. Dengan begitu, tidak ada istilah proyek terbengkalai, mangkrak, atau terlunta-lunta.

“Semuanya bisa tuntas dengan baik tanpa adanya pemborosan biaya,” katanya.(Red/Rilis)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru