oleh

Polres Tangsel gelar Konfrensi Pers terkait meninggalnya Aurellia Qurrota Aini salah satu siswi Paskibra

TANGSEL, KICAUNEWS.COM –Bertempat dilobby Polres Tangsel, Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan, S.IK., M.Si. bersama Walikota Tangsel Hj. Airin Rachmi Diany, SH., MH Walikota Tangsel dan Kak Seto Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) serta Jasra Putra (KPAI) mengadakan Konferensi Pers terkait meninggalnya Aurellia Qurrota Aini salah satu siswi Paskibra Kota Tangerang Selatan, Selasa (13/08/19) pukul 14.30 Wib.

Seperti diketahui, meninggalnya Aurellia Qurrota Aini siswi kelas 2 SMA Al Azhar BSD yang juga siswi Paskibraka Kota Tangsel dirumahnya di Perum Taman Royal 2 Jl. Singosari No.16 Cipondoh Kota Tangerang, Kamis (01/08/19) lalu sekitar jam 04.20 Wib sempat menjadi perhatian publik.

Almarhum meninggal ketika sedang berjalan menuju ke kamar mandi  tetapi sebelum sampai almarhum terjatuh. Oleh orang tuanya,  almarhum langsung dibawa ke rumah sakit RS EMC Kota Tangerang, tetapi sesampainya di rumah sakit, hasil pemeriksaan dokter, almarhum telah dinyatakan sudah meninggal dunia.

Almarhum sehari-harinya sedang mengikuti latihan Paskibra yang diadakan oleh Dispora Kota Tangsel untuk Upacara HUT  Ke 74 RI di Tangsel. Adanya informasi tersebut,  Penyelidik dari Sat Reskrim Polres Tangsel melakukan penyelidikan atas kasus tersebut berdasarkan LI/47/K/VIII/2019/Res Tangsel, tanggal 02 Agustus 2019.

Selanjutnya Sat Reskrim Polres Tangsel langsung bergerak dengan mengumpulkan berbagai informasi
Ada 32 orang saksi yang dimintai keterangan antara lain, kedua orang tua almarhum, lima (5) rekan almarhum di Paskibraka, pihak RS SMC Kota Tangerang yaitu Dr. Yudi Yudo Prakuswo (Dokter) dan Yulianih (Perawat), Yusup Agung Wirastomo Guru Al Azhar BSD, Endang, Amd, ST, MM Kabid Pengembangan Pemuda Dispora Kota Tangsel dan Eka Imelda Novitasari Pegawai Dispora Tangsel, Sepuluh (10) orang Purna Paskibraka (PPI) dan Warta PPI.

Baca juga :  Pelaku Kejahatan LH Perlu Dituntut Perdata dan Pidana,Mampukah Pemkab Bekasi ?

Disampaikan Kapolres Tangsel, hasil yang disaat dari para saksi adalah almarhum sejak 09 Juli 2019 mengikuti pelatihan Paskibra yang diadakan oleh Dispora Kota Tangsel untuk upacara HUT RI ke 74 di Tangsel. Dan latihan dilaksanakan setiap hari dari jam 06:00 – 17:00 Wib di beberapa tempat yaitu di Pamulang , Lap. Cilenggang Serpong dan hari terakhir sebelum almarhum meninggal latihan di Yon Kav Serpong dengan pelatih (pengajar) Paskibraka adalah seniornya (Purna Paskibra / PPI Kota Tangsel).

Lanjut Kapolres lagi, di malam sebelum meninggal, almarhum sekitar jam 20:00 Wib, sempat berbincang kepada orang tuanya bahwa dirinya bersama teman-temannya habis dihukum oleh seniornya. Hukumannya adalah push up dengan tangan mengepal. Usai bercerita, almarhum tidur,  tetapi sekitar jam 01:00 Wib, almarhum bangun dan menulis cerita di buku diary merah putih mengenai kegiatan latihan paskibra.  Hal tersebut rutin setiap malam almarhum kerjakan karena merupakan tugas dari seniornya dan almarhum takut kena hukuman. Usai menulis almarhum kembali tidur. Sekitar jam 04:00 Wib, almarhum bangun untuk ke kamar mandi dan sebelum sampai ke kamar mandi, almarhum terjatuh dan meninggal dunia.

Selain itu, hasil rekam medis, almarhum tidak mempunyai penyakit kronis dan khusus serta tidak dalam pengobatan/minum obat secara rutin dan tidak dalam pengawasan dokter. Sedangkan keterangan orang tua almarhum, di tubuh almarhum tidak ditemukan luka/lebam/memar di tubuh korban akibat benda tumpul / tajam, tetapi pada jari almarhum ada bekas kehitaman karena almarhum push up dengan cara mengepal.

Dari hasil klrarifikasi tersebut, tidak ditemukan adanya tindakan kekerasan yang khusus dilakukan oleh pelatih dari Yon kaveleri maupun dari PPI (Purna Paskibraka Indonesia) terhadap almarhum.

Baca juga :  Pemdes Karangmulya Manfaatkan Anggaran Untuk Pembangunan TPT, Sekretariat Karang Taruna dan Rabatbeton

Kesimpulan yang didapat adalah tindak berlebih dalam proses pelatihan oleh pelatih kepada calon paskibra sebagai hukuman atas adanya pelanggaran/kesalahan dalam proses latihan berupa push up, sikap tobat. Tindakan dikenakan kepada seluruh calon paskibra termasuk almarhum.

Setiap Capaska (Calon Paskibraka) ada yang membuat kesalahan saat latihan, tindakan yang diberikan Pelatih maupun Pendamping Pelatih berupa teguran lisan sambil diberikan contoh yang benar dan terkadang diberikan tindakan fisik berupa Push Up dan Sit Up dengan jumlah maksimal 10 (sepuluh) kali untuk Perorangan maupun untuk semua Capaska (Calon Paskibraka) apabila ada yang membuat kesalahan saat latihan. Hukuman lain, para Pelatih memberikan hukuman fisik berupa sikap taubat selama ± 1 (menit).

Sementara itu, permintaan atau tanggapan orang tua almarhum meminta agar diadakan evaluasi dan perubahan oleh Pemkot Tangsel dengan kegiatan latihan Paskibra agar kejadian terhadap korban tidak terulang kembali.

Selain itu, dalam pelatihan hanya orang (pelatih/pengajar/senior) yang jelas ditunjuk Pemkot Tangsel yang boleh melakukan pelatihan/bimbingan serta hukuman bila ada kesalahan terhadap peserta Paskibra sehingga tidak ada pihak lain (senior/purna paskibra) yang ikut-ikutan melatih para peserta Paskibra.

Yang terakhir, terkait hukuman, orang tua/Keluarga besar almarhum tidak ingin melakukan langkah hukum untuk memproses secara hukum pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam program latihan paskibra Kota Tangsel. Dan orang tua almarhum tidak bersedia melakukan otopsi terhadap almarhum, sebagaimana surat pernyataan terlampir. (red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru