oleh

Maraknya Bangunan Liar di Kawasan Zona Inti Konservasi Alam Akibatkan Rusaknya Ekosistem dan Lingkungan

BOGOR, Kicaunews.com – Wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS )II berada di wilayah Kabupaten Bogor, sedari dulu hinga kini menjadi daya tarik dari berbagai kalangan juga kepentingan TNGHS II, dalam pengkelola luas lereng Gunung Salak tersebut di berlakukan sistim zonasi.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (KB.TNGHS)II,Ir. Awen Suparnata mengatakan Taman nasional itu kan dikelola melalui zonasi, ada zona inti, rimba, pemanfaatan, tradisonal, khusus dan zona yang lainnya.

“Soal banyak nya mengenai keberadaan berdirinya bangunan yang terdapat di kawasan tersebut, kalau lah betul bangunan tersebut berdiri di atas kawasan zona Inti, sangat lah bertentangan dengan kepungsian pokok sebagai selain menjaga, melindungi dan mengembangkan hayati juga sebagai resapan air utama di wilayah Kabupaten Bogor,”Ungkapnya

Zona inti itu hanya boleh dilakukan untuk kepentingan penelitian, karna disitu kita menganggap wilayah yang betul-betul pirgin kemudian potensi keaneka ragaman hayati nya juga tinggi dan yang paling utama sebagi pelindung dari keanekaragaman hayati contohnya kita punya spesies kunnji, jdi species kunji itu ada 3 jenis, macan tutul, oa jawa, sama elang jawa, nah kalau jona intinya rusak kemana dia cari makan.

“Melihat di situasi kini baru hitungan hari saja tidak turun hujan saja,kekeringan melanda hampir semua wilayah di kabupaten Bogor.Hal itu menunjukkan Taman Nasional gagal dalam melindungi ekologinya sendiri,”Terangnya

Di tambah lagi dengan adanya plang Himbauan di wilayah tersebut ternyata menuai tafsir berbeda (Multi tafsir) dari pihak tertentu,sehingga celah tersebut dijadikan kesempatan oleh oknum masyarakat bersama pemangku kebijakan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

“Semestinya Taman Nasional tegas dalam bersikap dengan tetap mengambil jalur hukum agar perusakan alam itu bisa dihentikan,”Jelas Ir. Awen Supranata sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (KB.TNGHS) II.

Baca juga :  Mencintai Produk Dalam Negeri Tumbuhkan Sektor Industri

Kalau sudah yang namanya di jona inti, mau gak mau, suka gak suka, kita harus kembali ke aturan yng berlaku,contoh nya uu no 5 thn 1990 terus uu no.41 itu semua harus kita tegakkan. Pungkasnya

Hingga kini Diduga Sebanyak 276 orang oknum baik masyarakat sekitar kawasan maupun masyarakat pendatang (pengusaha) dari luar masyarakat kawasan (TNGHS) menguasai lahan seluas 256,7 hektare di kawasana Lokapurna, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Kabarnya Mereka antara lain terdiri atas pensiunan jenderal, politikus, dan pesohor serta para pengusaha.

Apabila benar kawasan tersebut masuk ke dalam zona  inti Taman Nasional Gunung Halimun Salak, yang seharusnya kawasan tersebut hanya di pungsikan sebagai lahan pertanian dan perternakan, dan tidak boleh dijadikan tempat bangunan permanen berupa penginapan ataupun restoran, villa yang di komersilkan mapun digunakan untuk kepentingan pribadi orang perorang.

Bangunan Villa, Ruko dan sejennisnya semakin banyak berdiri dan tumbuh berkembang dari waktu ke waktu di kawasan resapan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), parahhnya lagi walau bangunan tersebut tidak memiliki dokumen perizinan mendirikan bangunan (IMB),Pemkab Bogor tak berdaya dibuatnya,buktinya hingga kini tak mapu untuk berbuat tegas bahkan walau hanya menyentuh saja.

Hal lain, menjamur nya bangunan tersebut sangat jelas tidak memberikan efek terhadap pendapatan Asli Daerah,walau di komersilkan oleh pemiliknya. (Syam)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru