oleh

Meski Ditolak dan Ricuh, Pemkot Bekasi Tetap Bongkar Rumah Warga di Jalan Bougenvile

Kota Bekasi, Kicaunews.com – Meski ditolak warga dan sempat terjadi kericuhan antar mahasiswa dan Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat pol PP),  Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tetap lanjutkan pembongkaran 57 bangunan rumah di Jalan Bougenvile Raya, Rt 01/011, Jakasampurna, Bekasi Barat, Kamis (25/7/2019).

Warga mengecam keras pembongkaran rumah warga tersebut karena dituding penuh kejanggalan dan sarat kepentingan kapitalis kata mahasiswa yang berorasi di depan pasukan Satpol PP dan Anggota Polrestro Bekasi Kota dan Kodim 0507/Kota Bekasi.

Menurut Kordinator aksi R.Siregar kejanggalan itu dimulai dari tidak adanya sosialisasi kepada warga. SP 1-3 turun dalam waktu sangat cepat, sekitar 3 minggu. Beberapa hari berikutnya turun Surat Pembongkaran. Alasan utamanya karena melanggar Perda Kota Bekasi.

Padahal warga sudah tinggal lama, belasan hingga lebih dari 30 tahun. Namun, Pemkot termasuk Dinas Tata Ruang tak menggubris hal itu.

Kejanggalan lainnya, rencana untuk normalisasi sungai yang lebarnya 2-3 meter, tapi anehnya malah harus menggusur semua bangunan. Hal itu jelas menyimpang karena normalisasi itu tak masuk akal.

“Sebab, mestinya normalisasi itu harus dimulai dari ujung pemukiman yaitu dari bangunan Pura, Gereja Kristen Jawa, dan perumahan Jatisari yang juga melintasi pinggiran kali kecil,” ungkap R. Siregar.

Hal lainnya yaitu sarat kepentingan kapitalis. Pasalnya ada bangunan tembok, jalan akses masuk, jembatan dan trafo listrik di perumahan baru, Perumahan Casaalaia yang jelas sejajar dengan rumah warga namun tidak termasuk daftar bangunan yang bakal digusur.

“Karena itu, kami warga RT 01 RW 11 Jalan Bougenville Raya, Kel. Jakasampurna, Bekasi Barat mengundang pihak media massa untuk datang meliput aksi penolakan warga terhadap upaya penggusuran yang dilaksanakan hari ini,” ucapnya.

Baca juga :  Wujud Bhakti Brimob Polda Jabar, Kompi 3 Batalyon C Pelopor, Patroli Dan Sosialisasi Brosur Pencegahan Covid-19

Selain warga, penolakan ini didukung para aktivis, organisasi mahasiswa PMII, hingga Pemuda Pancasila.

“Besar harapan kami para wartawan media cetak, online, radio, tv dapat meliput penggusuran yang arogan oleh kebijakan Walikota Bekasi Rahmat Effendi,” pungkas R.Siregar dalam undangan akasi mereka yang diterima awak media.

Salah satu mahasiswa Yudha menyebutkan rekannya kena pukul dan sempat ricuh dengan satpol pp yang berusaha menghalangi aksi mahasiswa melakukan penolakan.

“Saya tidak tahu siapa pelakunya tiba – tiba ada yang melempar batu ke arah kami, akibatnya kawan saya terluka dan ada 6 rekan lainnya diamankan pihak kepolisian,” jelas Yudha kesal.

Perasaan sedih dan kecewa pun dirasakan Laura, (22) dirinya mengaku tindakan Pemkot Bekasi tidak adil terhadap keluarganya. ” Tidak ada sosialisasi dan uang kerohiman yang diterima orang tua saya,” ujarnya. (fie)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru