oleh

Berkaca Dari Pemilu 2019, KesbangPol Jateng Kolaborasi Bersama Insan Pers Jateng Gelar Seminar

SALATIGA, KICAUNEWS.COM –– Dalam upaya memberikan pendidikan dalam beretika politik di tengah-tengah masyarakat pasca Pileg dan Pilpres 2109, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Tengah menggelar seminar dengan tema “Etika Politik Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila” bersama Insan Pers di Hotel Grand Wahid Salatiga, Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah, Kamis (27/6/2019).

Insan Pers yang tergabung dalam Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) dan Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya KesbangPol telah melibatkan Insan Pers untuk menuju insan pers khususnya di Jateng untuk selalu menunjung tinggi kode etik sesuai UU Pers.

Dalam sambutannya, Kepala Kesbangpol Ahmad Rifai menyampaikan, jika kegiatan ini sebagai etika dalam politik, agar masyarakat bisa ikut membangun Demokrasi, dan masyarakat bisa menjadi warga negara yang baik taat kepada peraturan perundang-undangan.

“Kita ikut andil dalam membangun demokrasi, dan hari ini adalah terakhir keputusan MK, di harapkan semua insan pers bisa memahami dan menangkap berita akurat untuk mencerdaskan bangsa, kita harus selalu mengikuti perkembangan keputusan di MK,” Jelasnya.

Senada dengan Kepala KesbangPol, R. M Suwondo SH selaku ketua IPJT menuturkan, para insan pers dalam mengemban tugas harus berlandaskan pancasila dan selalu mengacu ad art sebagai pers jateng yang mandiri solid dalam pemberitaan.

“Insan Pers adalah Pilar ke 4 Demokrasi dan harus menjunjung tinggi nilai nilai pancasila dan harus beretika untuk terus mencerdaskan bangsa,” Jelasnya.

Masih Kata Suwondo, Kami sangat apresiasi para insan Pers banyak yang tanpa gaji masih tetap semangat dan eksis untuk terus mencari informasi. “Tetap semangat dan terus semangat untuk memberikan informasi-informasi untuk terus mencerdaskan bangsa,” Ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum AWPI Ir. Nadiyanto, M.Mfg menambahkan, eksisnya organisasi Pers hanya kisaran 15 padahal ada 35 yang terdaftar.

Nadiyanto juga menyatakan, sejarah Pers tak lepas dari organisasi yang ada, dan IPJT pengurusnya juga masih ada saudara dengan AWPI, untuk itu Nadyanto sangat bangga dengan generasi milenial yang sudah memiliki semangat walau tanpa gaji.

“Trend di Indonesia sangat positif, saya salut dan bangga dengan pendidikan di Indonesia, untuk itu yang harus disinergikan adalah Ilmu berpasangan dengan Agama, Tuhan selalu berpasangan dan iklas tidak iklas harus di terima, nilai lokal ukurannya adalah cahaya dan kegelapan yakni tatkala kita bisa memberi pencerahan dan jika kita jalankan kejahatan kita berjalan di dalam dimensi kegelapan,” Ungkap Nadyanto.

Masih kata Nadiyanto, dulu sebelum ada NKRI Negara kita berawal dari Kerajaan dan Kasultanan, belum ada UUD 45, yang ada hanya hukum adat. Namun menurut Nadyanto bangsa kita dulu bisa bersatu.

“Kekuatan bathin yang ada adalah cerminan budaya bangsa, ini adalah tanggung jawab yang sangat besar bukan hanya mengandalkan kecerdasan saja,” Urai Nadyanto.

Kemudian sambutan salahsatu narasumber IPJT mengatakan jika organisasi Pers juga termasuk kedaulatan rakyat dalam berdemokrasi, bangsa yang besar memiliki peran pendidikan dan pembangunan. Dia mengulas tentang rekrutmen, konsekwensi kebijakan nasional dan tradisi 5 tahunan, yang merupakan program turunan dari pemimpin sebelumnya.

“Sehingga muncul pemimpin incumbent yang maju lagi, dan bagaimana cara merekrut yang baik, sehingga muncul program-program plus hinggauncul politik identitas yang harus dihilangkan,” urainya.

“Jika Pers maju ke medan dengan senjata kamera dan tulisan akan sangat berperan dalam Pembangunan, ” Pungkasnya.(Red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru