oleh

Lantaran Kecewa Kasusnya 4 tahun “Mandeg” di Polres Bogor, Warga Laporkan ke Polda Jabar

Bogor, Kicaunews.co – Lantaran kecewa terhadap kinerja Polres Bogor yang selama 4 tahun tak mendapatkan keadilan hukum. Warga Depok, Jawa Barat (Jabar) bernama Surat Rachmanto akhirnya melaporkan kasus pengrusakan dan penganiayaan yang menimpa dirinya ke Kepolisian  Daerah (Polda) Jabar yang telah merugikan dirinya secara imateri dan materi mencapai ratusan juta, Senin (7/6/2019).

Pelaporannya itu kata Surat Rachmanto didasari karena dirinya kecewa sudah 4 tahun kasusnya yang saat ini ditangani Polres Bogor tanpa ada kejelasan proses hukumnya alias “Mandeg”.

Surat Rachmanto berharap kasusnya itu mendapat perhatian dari Polda Jabar dan dirinya menuntut keadilan dan kepastian hukum sebagai hak warga negara dari lembaga kepolisian.

Menurut Surat, kasus pengerusakan dan penganiayaan yang dialami dirinya yang terjadi 4 tahun lalu dilakukan oleh salah satu Ormas Banteng Bogor Raya (BBR) di acara pentas Seni Budaya di Desa Ranca Bungur, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, 16 Desember 2014 silam.

Surat menduga mandegnya kinerja Polres Bogor dalam menangani kasusnya itu lantaran adanya dugaan keterlibatan oknum polisi yang sengaja membiarkan kasusnya dipetieskan.

Racmanto sengaja mengirimkan surat pelaporan kasusnya ke Kapolda Jabar dengan tembusan ke Waka Polda, Irwasda Polda Jabar, Direktur Reskrim dan Propam Polda Jabar.

“Sudah empat tahun saya mempertanyakan kasus penganiayaan dan pengrusakan, akan tetapi sampai saat ini pihak Kepolisian Polres Bogor tidak ada tindak lanjutnya. Padahal barang bukti dan saksi sudah diserahkan dan dimintai keterangan,” ungkap Surat Rachmanto heran, Senin (10/06/2019).

Kronologis kasus pengrusakan dan penganiayaan menurut Surat Rachmanto awalnya kasusnya dilaporkan ke Polsek Kemang, Bogor dengan laporan Polisi Nomor, LP/501/B/XII/2014. Kemang, namun kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Bogor tertanggal, 25 Januari 2015 sesuai surat pengalihan perkara  No. B/15/I/2015/Reskrim.

Baca juga :  Tingkatkan Kewaspadaan Masyarakat, Mendagri Ambil Sikap

Surat Rachmanto menceritakan kembali awal kejadian yang menimpa dirinya, yakni pada 16 Desember 2014, Surat Rachmanto mengaku diberikan kepercayaan oleh Lurah Cimulang Rancak Bungur, Bogor, Zaenuri untuk menggelar acara pentas seni budaya untuk memperingati ulang tahun desa tersebut.

Sebagai pimpinan event organizer dirinya telah bekerja keras dalam mempersiapkan acara tersebut sesuai perjanjian dengan Lurah Zaenuri. Pada saat acara di mulai tiba – tiba datang segerombol orang yang mengaku dari Ormas BBR minta uang 15 juta untuk dana konsolidasi namun sama panitia hanya diberikan Rp 5 juta. Meski uang tersebut diterima oleh ormas tersebut, mereka tetap merusak tenda dan menganiaya crew event organizer.

Lalu Rachmanto datang ke lokasi untuk mengetahui peristiwa itu, di lokasi acara para oknum dari Ormas BBR mengamuk dan marah lantaran uang yang mereka minta sebagai uang “jago” tak semuanya dikabulkan.

“Karena panitia tak ada uang, mereka hanya diberikan uang sebesar Rp. 5 juta dari Rp. 15 juta yang mereka minta. Itupun uang patungan dari para pedagang,” terang Surat.

Surat pun sekarang tinggal menunggu bagaimana perkembangan Polda Jabar menangani kasusnya karena sebagai warga negara dirinya berhak mendapatkan keadilan hukum yang telah terdzolimi oleh oknum Ormas BBR. Dan sampai saat ini pun polisi tak memprosesnya untuk menyelidiki siapa dalang sebenarnya.

“Saya mencurigai adanya oknum aparat dan pejabat desa yang menyebabkan kasus ini mandeg,” bebernya.

Untuk itu dirinya memohon agar pihak aparat kepolisian sebagai ujung tombak dalam hal penanganan perkara pidana merealisasikan kasus yang telah menelan kerugian baik materi dan imateri itu.

“Kasus pengrusakan dan penganiayaan yang sepatutnya harus ditegakan keadilan hukum kepada pelaku sesuai dengan pasal 170 KUHP pengrusakan dan penganiayaan,” ujar Surat Rachmanto.

Baca juga :  Kebocoran tiket masuk wisata pangandaran, Bupati sidak kembali

Sementara kata Surat,  Aiptu. Isa Ismail, Penyidik Pembantu Unit 4 (empat) Polres Bogor ketika dikonfirmasi wartawan melalui Whatsapp nya, beberapa waktu lalu mengatakan, berdasarkan hasil dari gelar perkara pihak Penyidik membutuhkan minimal dua orang saksi dari pihak pelapor (Surat Rachmanto-red) lagi, selain saksi dari Penyidik. Dan juga membutuhkan Barang bukti (BB) yang ada di pelapor.

Dalam pengakuan penyidik itu, kata Surat disebutkan bahwa kepolisian Polres Bogor sudah mendatangi saksi – saksi sesuai yang diberikan oleh pelapor, tetapi sampai saat ini saksi saksi tersebut tidak pernah datang ke kantor kami di Polres Bogor.

Namun pernyataan Aiptu Isa Ismail itu dibantah oleh Surat Rachmanto yang juga merupakan pelapor dan korban.

“Padahal Barang Bukti (BB) sudah saya serahkan semua ke Polsek Kemang ketika saya membuat laporan di Polsek Kemang, dan semua ada tanda terima,” tegasnya.

Bahkan kata Surat Rachmanto mengaku oada saat itu saksi sudah saya hadirkan sebanyak 11 orang, malah lebih dari cukup jumlah saksi yang diminta polisi.
”Mana slogan Promoter nya ?,” tanya Rachmanto.

Atas perkara ini, dirinya sudah melaporkan ke Propam Polres Bogor, namun sampai sejauh ini perkara saya pun tidak ada titik terangnya juga. (Fie)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru