oleh

Orasi Ilmiah di Sidang Senat ISTA Jakarta Ke XXVI, Mantan Menteri Kehakiman Era Soeharto Oetoyo Oesman Sampaikan Era Revolusi Industri 4.0

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — Dihadapan 181 peserta Wisudawan ISTA Jakarta, Mantan Menteri Kehakiman Era Soeharto, Oetoyo Oesman yang juga sekaligus Penasehat Pembina YPP Alkamal Jakarta memberikan Orasi Ilmiah.

Dengan mengusung tema “Mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia Yang Berkualitas Menyongsong dan Berpartisipasi di Era Revolusi Industri 4.0”, Diharapkan mampu memberikan semangat motivasi para wisudawan.

Dalam Orasinya, Oetoyo menyebutkan, saat ini kita telah berada pada era Revolusi Industri 4.0, yaitu tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.

Dimana Semua jenis pekerjaan akan semakin kompleks dan hilangnya sifat-sifat industri yang lama yang semula dikerjakan oleh manusia dan timbulnya jenis-jenis baru pekerjaan yang tidak dikenal sebelumnya.

Oetoyo merincikan, Kombinasi globalisasi yang diringi  kemajuan dan perkembangan teknologi yang revolusioner dan semakin canggih telah pula mengakibatkan perubahan terhadap pemenuhan kebutuhan mengikuti peningkatan deret hitung dan deret ukur yang linear, akselaratif dalam memenuhi peningkatan tuntutan kebutuhan akan harapan, kepuasan, kedamaian dan kebahagiaan yang semakin mendunia.

“Dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2017) Klaus Schwab menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain,” Imbuh Oetoyo.

Dijelaskan Oetoyo, Schwab menggambarkan adanya sejumlah jenis pekerjaan yang akan hilang dalam waktu dekat oleh karena digantikan fungsinya oleh komputer ataupun teknologi informasi berbasis teknologi tinggi terutama jenis pekerjaan yang bersifat konvensional.

Oetoyo mencontohkan, seperti robotisasi dan digitalisasi manufaktur yang menggantikan peran manusia di sejumlah industri. Ada juga sejumlah jenis pekerjaan yang akan bertahan terus bahkan makin banyak dibutuhkan, yaitu jenis pekerjaan yang tidak dapat digantikan fungsinya oleh komputer atau teknologi informasi.

Oleh karenanya, Kata Oetoyo, maka perlu pengaturan baru sebagai norma-norma dan syarat-syarat kerjanya termasuk di dalamnya pasar kerja (pembinaan dan perluasan kesempatan kerja), kompetensi tenaga kerja, hubungan industrial dan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan tenaga kerja. Selain itu adalah diperlukan pengaturan  bentuk-bentuk kerja baru, usaha-usaha pengendalian teknologi dan perlindungannya.

Tidak hanya itu, Oetoyo menjelaskan, Seiring Era Revolusi Industri 4.0, telah terjadi pula pergeseran kekuatan politik, ekonomi, perdagangan yang telah bergeser dari Amerika Serikat ke Cina dengan Satu Sabuk Satu Jalan (One Belt One Road/ OBOR), yaitu suatu strategi pembangunan yang berfokus pada konektivitas dan kerja sama antara negara-negara Eurasia dan Tiongkok  dengan menggunakan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt) berbasis daratan dan Jalur Sutra Maritim  (Maritime Silk Road) berbasis lintas samudra, dimana Indonesia telah turut berpartisipasi dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Hal tersebut pula telah mengakibatkan pergeseran Geo Politik – Ekonomi – Teknologi –  Sosio-Kultural dari negara-negara di tepi laut Atlantik ke wilayah Asia Pasifik di Laut Cina Selatan, yaitu negara Cina, Korea Utara dan Selatan, Jepang. Kemudian India, Pakistan dan Negara-negara Asia Selatan lainnya, serta negara-negara ASEAN yang telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang menempati posisi strategis dalam percaturan dunia, Hal yang semuanya menuntut perhatian,” Beber Oetoyo.

Pergeseran ini juga disertai pengaruh perang dagang dunia yang dicetuskan Amerika dengan politik ekonomi proteksionis dan Brexit Inggris yang juga proteksionistik yang telah menimbulkan krisis ekonomi dunia, yang kesemuanya berakibat penurunan pertumbuhan ekonomi, sehingga berakibat berkurang ekspor dari negara-negara tertentu.

Persaingan antar bangsa untuk memperoleh manfaat dari globalisasi dan Revolusi Industri 4.0 akan ditentukan oleh mutu dan keunggulan sumberdaya manusia yang berkualitas. Selain itu adalah ditentukan oleh kemajuan dalam menyerap  dan mengendalikan teknologi, serta mengembangkan profesionalisme.

Bagi Indonesia, Jelas Oetoyo, Revolusi Industri 4.0 merupakan tantangan yang perlu dihadapi dan diantisipasi, dan juga sebagai peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia. Selain itu adalah membuka peluang lebih banyak lapangan kerja baru untuk mengurangi tingkat pengangguran terbuka dengan adanya bonus demografi. Namun demikian masih ada tantangan sebagai permasalahan yang dihadapi Indonesia, yaitu kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang masih perlu ditingkatkan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, sambung Oetoyo, maka Pembangunan Nasional Indonesia pemerintah saat ini difokuskan pada “Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia”,  yaitu mengutamakan pembangunan manusia atau berpusat pada manusianya tanpa mengesampingkan bidang-bidang lainnya.

Peningkatan kualitas manusia Indonesia  adalah untuk menghasilkan manusia Indonesia yang unggul, tangguh, produktif, kreatif, inovatif dan berdaya saing, berkualitas baik secara fisik dan mental, yang ke depannya adalah  sumberdaya manusia dalam hal ini tenaga kerja yang bersertifikasi dan kompetensi baik nasional maupun internasional. Hal tersebut cukup beralasan, karena pada dasarnya pembangunan nasional yang dilaksanakan tentunya tidak terlepas dari sumber daya-nya, yaitu manusia yang menjalankannya.

Oetoyo menyebutkan, Sebagaimana yang telah dikemukakan Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan Dalam Sidang Tahunan MPR-RI 16 Agustus 2018 lalu, yang mengatakan bahwa masa depan Indonesia terletak pada kemampuan kita untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang maju dan unggul. Kita sering bicara tentang kekayaan sumber daya alam, tapi lupa bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar dalam bentuk sumber daya manusia. Inilah sesungguhnya modal terbesar dan terkuat yang harus kita miliki.

“Membangun manusia Indonesia adalah investasi untuk menghadapi masa depan, melapangkan jalan menuju Indonesia maju, bermartabat, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” Jelas Oetoyo.

Ke depannya pemerintah telah menyusun enam Program Aksi Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia, yaitu:

  1. Mengembangkan Sistem Jaminan Gizi dan Tumbuh Kembang Anak.
  2. Mengembangkan Reformasi Sistem Kesehatan.
  3. Mengembangkan Reformasi Sistem Pendidikan.
  4. Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi.
  5. Menumbuhkan Kewirausahaan.
  6. Menguatkan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan.

Keberhasilan Enam Program Aksi dalam upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia tidak terlepas dari peran tugas dan fungsi pokok instansi terkait, seperti Kementerian Kesehatan berkaitan dengan peningkatan kualitas kesehatan, Kementerian Pendidikan berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan, Kementerian Ketenagakerjaan berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, Badan Ekonomi Kreatif yang berkaitan dengan peningkatan kualitas wira usaha, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan berkaitan dengan penguatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan pemangku kepentingan (stake holder) lainnya.

Selain instansi terkait yang telah disebutkan, instansi yang juga berperan dalam upaya peningkatan kualitas  manusia Indonesia adalah Kementerian Sosial berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan manusianya dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berkaitan dengan masalah-masalah kependudukan.

Oleh karena itu, Oetoyo menekankan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia  merupakan suatu keniscayaan di tengah kemajuan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0. Sebab apabila tidak diikuti dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia, maka peluang-peluang yang akan diperoleh tersebut akan hilang atau tidak berarti.

Di bidang industri, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian  telah membuat Making Indonesia 4.0 (four point zero) yang merupakan peta jalan (roadmap) terintegrasi untuk mengimplementasi strategi menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Sebagai langkah awal dalam menjalankan Making Indonesia 4.0 ada 5 industri yang menjadi fokus implementasi industri 4.0 di Indonesia, yaitu:

  1. Makanan dan minuman
  2. Tekstil
  3. Otomotif
  4. Elektronik.
  5. Kimia.

Lima industri ini merupakan tulang punggung, dan diharapkan membawa pengaruh yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030. Kelima sektor inilah yang akan menjadi contoh bagi penerapan Industri 4.0, penciptaan lapangan kerja baru dan investasi baru berbasis teknologi.

Keberhasilan implementasi Making Indonesia 4.0 tentunya tidak terlepas dari dukungan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional yang dilaksanakan berkaitan dengan kemajuan dan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang revolusioner dan semakin canggih.

Sebelumnya sejak tahun 2015 pemerintah telah melakukan Reformasi Sistem dan Pola Kerja dengan menerapkan sistem pemerintahan elektronik atau e-government berbasis digital mulai dari E-budgeting, E-procurement, E-audit, E-catalog, sampai cash flow management system dan lain-lainnya sebagai bentuk pemerintahan yang terbuka (open government).

Dengan e-government yang diterapkan, Pemerintah telah menyediakan berbagai informasi aktual mengenai kebijakan-kebijakan yang akan dan sudah dibuatnya secara cepat. Dalam sistem pemerintahan elektronik, rakyat akan bisa mengakses dokumen-dokumen pemerintah dan semua hal bisa dilihat secara transparan, termasuk soal anggaran publik.

Saat ini, kita berada dalam era baru, yaitu Era Digital, dimana pola hubungan pemerintah dengan masyarakat sudah berubah. Rakyat menginginkan transparansi, keterbukaan informasi publik,  pemerintah dan masyarakat yang interaktif dan dialogis, serta pemerintah yang responsif, yang cepat merespon keluhan-keluhan yang disampaikan oleh masyarakat.

Di bidang ekonomi, Revolusi Industri 4.0 telah mendorong revolusi kewirausahaan. Digitalisasi dalam setiap kegiatan ekonomi diharapkan mampu menciptakan wira usaha. Pemerintah saat ini telah membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda Indonesia untuk berwira usaha. Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) pun banyak dicurahkan untuk pengembangan sumber daya manusia generasi muda, yaitu menciptakan wira usaha baru berbasis digital (start-up) yang saat ini dibina oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Era Revolusi Industri 4.0 telah banyak membuka peluang generasi milenial Indonesia untuk berkarya sebagai star-up2 baru dengan banyaknya UMKM2 berbasis digital di berbagai sektor.

Indonesia saat ini memiliki empat start-up dengan gelar “unicorn” atau dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Adapun empat start-up unicorn Indonesia adalah Bukalapak, Go-Jek, Tokopedia dan Traveloka.

Peluang lain dari Revolusi Industri 4.0 di bidang ekonomi adalah Indonesia dengan potensi jumlah muslim terbesar di dunia berpeluang mengembangkan ekonomi syariah berbasis digital, sehingga memudahkan pelayanan kepada nasabah/konsumen. Selain itu adalah pengembangan industri halal.

Teknologi digital digunakan untuk dapat mengatasi masalah, seperti kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman dan penarikan kembali produk. Juga pemanfaatan teknologi sensor dan analisis data secara real-time telah memungkinkan produsen untuk memantau secara tepat bahan-bahan yang masuk. Revolusi Industri 4.0 juga dapat menguntungkan industri halal, yaitu smart logistic untuk memastikan produk halal disimpan dan dipindahkan dengan aman dan efisien.

Berdasarkan hal yang telah diuraikan, saya harapkan Saudara-saudara sebagai Sarjana Farmasi, Sarjana Sistem Informasi dan Sarjana Desain Komunikasi Visual lulusan Institut Sains dan Teknologi Al Kamal Jakarta bukan saja bersiap menyongsong, tetapi harus ikut berpartisipasi di Era Revolusi Industri 4.0, yaitu dengan tidak takut berkompetisi, berani menghadapi tantangan, mau membuka diri terhadap perubahan yang merupakan keniscayaan, sebab bila tidak siap menghadapi, maka akan tersingkir dari partisipan-partisipan lain.

Saudara-saudara harus mampu menangkap peluang-peluang yang ada dan menjemput masa depan. Selain itu Saudara-saudara harus mempunyai network, mampu bekerja lintas disiplin, memiliki jiwa wira usaha,  tahan banting, bergerak terus dan selalu mengembangkan diri. Bukan seorang sarjana yang berfokus menjadi seorang pencari kerja atau pekerja semata, tetapi menjadi seorang sarjana yang dituntut produktif, kreatif, inovatif, berdaya saing dan berjiwa wira usaha bahkan sebagai pencipta lapangan kerja.

Lebih lanjut Oetoyo menyampaikan, Wisuda hari ini mempunyai arti yang penting, karena masyarakat dan bangsa ini mengharapkan Saudara-saudara menjadi sarjana yang paripurna, yaitu seorang sarjana yang menjadi cendikiawan yang bijaksana dan berpengetahuan yang profesional, berkejuangan, cerdas, terampil dan trengginas yang berkeimanan dan berketaqwaan kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjunjung tinggi asas dan martabat luhur manusia.

Selain itu juga mampu mendalami keyakinan agamanya, berbudi luhur, berpengetahuan luas, berwawasan kebangsaan dan berdasarkan Pancasila.

Hal tersebut sesuai visi pendidikan tinggi nasional kita yang pada hakekatnya adalah membentuk sistem pendidikan tinggi yang sehat dan bermutu, menghasilkan insan beriman, bertaqwa, cerdas dan terampil.

Seiring dengan perubahan status dari mahasiswa menjadi sarjana, berubah pula tanggung jawab yang akan dipikul. Ketika menjadi mahasiswa sebagai bagian civitas akademi, Saudara memikul tanggung jawab akademik dengan menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu :

  • Pendidikan dan Pengajaran.
  • Penelitian dan Pengembangan.
  • Pengabdian Kepada Masyarakat.

Mulai hari ini, tanggung jawab sosial semakin melekat di pundak Saudara sebagai seorang sarjana lulusan Institut Sains dan Teknologi Al Kamal. Secara sederhana, suatu tanggung jawab sosial merupakan sebuah komitmen untuk merespon permasalahan sosial, atas dasar kepedulian sosial.

Tentu saja, setiap mahluk sosial memiliki tanggung jawab sosial. Tetapi seorang sarjana memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar, dikarenakan ilmu yang dimiliki. Kalau ilmu yang Saudara kuasai tidak dimanifestasikan ke dalam tindakan sosial, maka nilai dari ilmu tersebut menjadi mandul. Ilmu adalah kekuatan intelektual manusia, kekuatan luhur yang diraih oleh manusia.

Kekuatan ini akan bernilai tinggi bila disertai nilai-nilai akhlakul kharimah, yaitu sikap moral-mental-sosial, sikap perilaku dan tindakan yang membentuk karakter/ watak dan jati diri yang menjunjung nilai-nilai Ketuhanan yang digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan kemaslahatan sosial untuk mensejahterakan bangsa dan kemanusiaan.

“Saudara-saudara tidak perlu menunggu lebih lama lagi, DO IT !  Kerjakan ! Segera Bergerak ! Selain menjawab fungsi do it (baca: duit) sebagai uang yang merupakan unsur ekonomis, tetapi juga diartikan duit adalah sebagai Doa, Usaha, Iman dan Takwa,” Pesan Oetoyo.

“Jadilah alumni Institut Sains dan Teknologi Al Kamal yang membanggakan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Semoga Allah SWT melimpahkan pada kita semua hikmah dan kebijaksanaan, serta kekuatan dan kesabaran, dalam upaya mencapai apa yang telah kita citakan,” Tandas Oetoyo.(Red)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru