oleh

Deklarasikan Penolakan kriminalisasi ulama dan Pulangkan HRS ke Tanah Air 

Jakarta, Kicaunews.com – Suasana haru dan hikmat mewarnai doa yang disampaikan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab  kepada puluhan ribu massa di acara Malam Munajat Akbar 212 di Silang Monas, Jakarta malam tadi (21/2/2019).

Puluhan ribu jamaah memadati silang Monas meneriakan pekik takbir dan alunan sholawat yang membahana di langit Jakarta. Berbagai tokoh ulama baik habib dan kyai, tokoh nasional seperti Anies Baswedan, Fahri Hamzah, Fadlizon dan Zulkifli Hasan, Amien Rais, Titiek Soeharto, Neno Warisman, Hidayat Nur Wahid,  Sekjen Forum Ulama Indonesia (FUI) Muhammad Al-Khaththath hadir menyemarakan acara malam jumat penuh berkah ini.

Lewat video audio yang diputar langsung life dari kota Mekah, Arab Saudi, Habib Rizieq menyuarakan ketidak adilan atas penegakan hukum yang dinilai dzolim atas dasar suka-suka sesuai selera penguasa yang tengah terjadi di negeri ini.

Rizieq menyindir penegakan hukum yang tak adil, hukum lebih tajam terhadap para pengkritik penguasa dan tumpul terhadap mereka yang pro kepada penguasa dan membuat rakyat menderita.

Salah satunya koruptor yang bebas dengan potongan tahanan. Ia membandingkan dengan figur seorang ustadz tua renta yang tak dibebaskan dari penjara. Belum lagi soal penghinaan terhadap presiden yang dilakukan seorang anak keturunan china bebas melenggang tanpa ada pemeriksaan aparat penegak hukum.

“Koruptor cukong membuat rakyat menderita dan sengsara bebas dengan potongan tahanan luar biasa. Sedangkan seorang ustadz tua korban rekayasa tak dilepas dari penjara. Inikah penegakan hukum suka-suka, astaghfirulah,” ujar Habib Rizieq.

Dia pun menyoroti ketidakadilan dalam penegakan sanksi terhadap kepala daerah yang ikut bermain politik dukungan di Pilpres 2019. Ia mengkritik pemanggilan atas Gubernur DKI Anies Baswedan karena pose dua jari sebagai dukungan terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Baca juga :  Soal Pembiayaan Pilkada, Ini Kata Direktur Poldagri Kemendagri

“Duhai Allah saat sekarang gubernur mengacung jari dua ikut sanubari mendukung pemimpin hasil ijtima ulama langsung dipanggil, disidang. Namun puluhan gubernur, wali kota acungkan dukung penguasa, mereka semua bungkam.

Kezaliman sangat kasat mata inikah penegakan hukum suka-suka,” tuturnya.

Kemudian, di era sekarang, pemilih berlatarbelakang orang gangguan jiwa masuk daftar pemilih tetap. Cara ini menurutnya dipakai oleh rezim penguasa sekarang.

“Dalam syariat-Mu tidak sanksi hukum untuk orang gila, transaksi kesaksian orang gila tidak sah. Namun untuk kepentingan politik penguasa suara orang gila dianggap sah, ini lah anomali hukum digerus,” jelas Habib Rizieq.

Dia pun memanjatkan doa kepada-Nya agar Indonesia diberi perubahan. Ia tak ingin kondisi semakin hari terus mengalami kesengsaraan.

“Kami bertekad melawan kezaliman, menegakkan keadilan, dengan jiwa raga kami siap tenggelamkan rezim durhaka. Rezim pendukung penista agama. Namun, tanpa izin-Mu kami tak bisa. Laa hawla wa laa quwwata illa billah,” ujar Habib Rizieq.

Sebelum acara berakhir panitia acara mendeklarasikan dua point penting soal penolakan kriminalisasi ulama dan pulangkan Habib Riziek Shihab ke tanah air yang diikuti seluruh massa yang hadir. (fie)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru