oleh

Ternyata Ini Makna Perayaan Cap Go Meh bagi Etnis Thionghoa

Kota Bekasi, Kicaunews.com – Banyak masyarakat yang tak mengetahui asal usul dan makna perayaan Cap Go Meh yang tiap tahun dirayakan etnis Thionghoa. Tahun Imlek merupakan tahun baru bagi etnis Thionghoa yang penanggalannya dihitung berdasarkan perhitungan bumi mengelilingi bulan.

Maka sering juga disebut  penanggalan lunar berbeda dengan perhitungan tahun masehi yang menggunakan perhitungan perputaran bumi mengelilingi matahari.

Oleh karena itu kata Rony Hermawan sebagai Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma perayaan Cap Go Meh dilakukan setelah 15 hari Perayaan tahun baru Imlek
Karena istilah Cap Go Meh artinya adalah hari kelima belas bulan pertama dan tahun ini adalah tahun babi yang merupakan bentuk pertanda penanggalan bagi para petani dan nelayan untuk memulai bercocok tanam dan melaut.

Lanjut Rony perayaan Cap Go Meh ternyata tidak saja diikuti oleh warga etnis keturunan Thionghoa dan agama budha saja, tetapi ada dari suku dan agama lain karena perayaan Cap Go Meh merupakan budaya tradisi nenek moyang mereka yang berkaitan dengan astronomi bukan masalah keagamaan.

“Jadi perayaan Cap Go Meh bukan berkaiatan dengan masalah agama  namun soal penanggalan yang secara turun temurun sebagai tanda memulainya melakukan aktivitas bercocok tanam dan melaut,” ungkap Rony.

Versi petani Cap Go Meh menandakan perayaan Imlek telah berakhir, keesokan harinya sudah kembali ke ladang atau sawah untuk bekerja sehingga berakhirlah perayaan Imlek pada Cap Go Meh itu.

“Pada versi ini, menurut tradisi setelah Cap Go Meh akan masuk musim tanam atau musim hujan, sehingga disebut akhir perayaan Imlek,” ujarnya.

Sementara versi intelektual, Cap Go Meh adalah sebuah perayaan yang ada nilai ritualnya di mana para tatung/loya atau dewa membuka kembali stempel para tatungnya yang telah ditutup pada tanggal 23 bulan 12 penanggalan Imlek atau sebelum perayaan Imlek sehingga setelah 15 hari dibuka kembali.

Baca juga :  Pilkada Sumsel, Konsepindo: Saling Kunci Antar Parpol Kemungkinan Bisa Terjadi
Rony Hermawan, Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma

Bagi masyarakat Thionghoa Kota Bekasi perayaan Cap Go Meh tahun 2570/2019 berlangsung, Selasa (19/2/2019) dengan diikuti sekitar 2000 orang bersuka cita mengikuti pawai yang di mulai dari Klenteng Hok Lay Kiong Kota Bekasi di Jalan  Kenari No. 01 Kelurahan Margahayu Kecamatan Bekasi Timur.

Adapun rute pawai melintasi Jl. Mayor Oking – Jl. Kartini – Jl. Juanda – Jl. Agus Salim – Jl. Baru Perjuangan – Jl. Perjuangan – Jl. Ir. H. Juanda – Jl. Mayor Oking Kembali ke klenteng. Perayaan Cap Go Meh di mulai sejak pukul 09.00 wib sd 17.00 wib dengan atraksi barongsai tonggak besi / patok besi dan kegiatan pawai juga membawa Joli (patung dewa) dengan diiringi oleh barongsay adapun jumlah Joli yang diarak sebanyak 6 Joli.

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua FKUB Kota Bekasi, Abdul Manan mewakili Walikota Bekasi, AKBP. J. Sinurat mewakili Ka Polres Metro Bekasi Kota, Rony Hermawan selaku Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma dan Dirjen Umat Budha, Nyoman Suna Darma.

Sambutan dari Dirjen Umat Budha yang di sampaikan oleh Nyoman Suna Darma memberikan apresiasi atas perayaan Cap Go Meh 2019 yang merupakan satu rangkaian perayaan Imlek 2019.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang positif sebagai spirit kerukunan antar umat beragama yang harus dipupuk sebagai implemetasi dari semboyan Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Sementara Rony Hermawan mengungkapkan ucapan
terima kasih kepada semua pihak yangbikut mensukseskan perayaan Cap Go Meh ini dengan semangat yang luar biasa.

“Kita laksanakan kegiatan ini sebagai anak bangsa menghormati antar umat beragama dan hidup rukun.Semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan aman dan lancar, kita semua bersaudara kita jaga kondusifitas keamanan Kota Bekasi jelang Pilpres dan Pileg ini,” pungkasnya. (fie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru