oleh

Kapuspen Kemendagri: Hakekat Layanan Perijinan Adalah Melindungi Masyarakat

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Kementerian Dalam Negeri kembali menegaskan sesuai UU Pemda bahwa tugas, kewenangan dan kewajiban Kemendagri sebagai institusi negara yang memiliki  otoritas melakukan pembinaan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

“Penyelenggaraan pemerintahan daerah dimaksud adalah pelaksanaan pembangunan, pemberdayaan,  dan pelayanan publik. Kemendagri memiliki tugas dan wewenang melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaam otonomi daerah”, Kata Bahtiar Kapuspen Kemendagri dalam Siaran Pers pada minggu, 20/1/2019.

Ia sangat memahami hal tersebut, Sosok Kapuspen Kemendagri merupakan sosok ilmuwan pemerintahan yang lama telah menempuh pendidikan hingga doktoral (S3) pada Universitas Padjajaran.

Bahtiar juga pernah tercatat sebagai dosen pengajar pada beberapa perguruan tinggi khususnya di bidang ilmu pemerintahan dengan segala dimensinya.

Lebih lanjut Bahtiar menjelaskan bahwa Secara philosofi, Tugas utama diadakannya sebuah pemerintahan adalah melayani masyarakat.

“Tugas pemerintahan pada hakikatnya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat baik masyarakat secara sendiri-sendiri (individu), kelompok, badan hukum tanpa diskriminasi,” Jelasnya.

Lebih jauh bahtiar menambahkan, Layanan pemerintahan terkait perizinan dalam berbagai bentuk biasanya selalu disertai dengan norma, prosedur, dan kriteria. Makna dari norma, standar, prosedur, dan kriteria layanan perizinan secara hakiki adalah dimaksudkan sebagai bentuk upaya perlindungan  (proteksi) negara (pemerintahan) kepada masyarakat atau warganya.

Ia  mencontohkan dengan ilustrasi, mengapa Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) tidak diberikan oleh pemda kepada kepada masyarakat yang hendak membangun rumah pada lokasi lahan dengan kontur tanah yang miring dan terjal. Izin tersebut pasti tidak diberikan untuk mencegah agar nantinya rumah warga masyarakat tersebut tidak mudah roboh karena pergerakan tanah di musim hujan dan dapat diterjang longsor.

“Dari Ilustrasi tersebut memperjelas makna bahwa pelayanan perizinan bukanlah sekedar layanan memberikan persetujuan atau tidak memberi persetujuan ijin, akan tetapi terkandung makna, maksud dan semangat kuat untuk melindungi warga masyarakat,” Imbuhnya.

Oleh karena itu, Sambung Bahtiar, seluruh aparatur negara yang  saat ini bertugas pada unit-unit layanan pemerintahan semestinya memahami dari philosofi layanan perizinan, sehingga aparat sebagai sang pelayan masyarakat, memiliki tanggung jawab melindungi masyarakat, memiliki integritas  dan memiliki kualitas kepribadian sebagai pelayan yang baik, bukan malah sebaliknya menyalahgunakan wewenang dan jabatannya dalam pelayanan masyarakat.

Bahtiar menerangkan lebih lanjut bahwa hal-hal tersebut, berulang-ulang kali disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo dalam berbagai kesempatan. Dan beliau selalu memberi pelajaran dan teladan yang baik kepada aparat di lingkungan Kemendagri dan pemerintah daerah dengan pola dan gaya hidup sederhana.

“Mendagri selalu menyiapkan waktu kapanpun sebagai pembina dan pengawas kinerja kepala daerah, aktif berkomunikasi memberikan arahan kepada 34 Gubernur dan termasuk kepada Bupati/Walikota yang hingga saat ini  jumlah 514 kabupaten/kota. Semua hal tersebut beliau lakukan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih dengan bahasa yang santun dan sopan serta penuh etika, karena beliau sangat menghargai posisi Kepala Daerah sebagai pemimpin di daerahnya”, terang Bahtiar.

Jadi berkomunikasi langsung atau tidak langsung, melalui surat- menyurat maupun melalui telepon dengan para kepala daerah di seluruh tanah air adalah hal biasa. Mendagri lakukan sebagai bagian tugas rutin Mendagri yang hampir setiap saat harus menyelesaikan berbagai masalah-masalah pemerintahan di berbagai daerah.  

Komunikasi adalah sesuatu yang biasa dilakukan dan normatif memberi arahan sesuai aturan hukum yang berlaku. Hal-hal tersebut dilaksanakan dalam koridor tugas, wewenang dan kewajiban sebagai Mendagri untuk mengatasi berbagai masalah-masalah pemerintah daerah.

Hal tersebut juga semata-mata sebagai bentuk tanggungjawab pengabdian kepada negara sebagaimana amanah kepercayaan yang ditugaskan kepada Mendagri sebagai pembantu Presiden  Kepala Negara/Kepala Pemerintahan untuk mengelola politik dalam negeri, membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah, membina pelaksanaan otonomi daerah sesuai Konstitusi UUD 1945 dan UU No. 23 Tahun 2014.

” Ya, Tugas Mendagri sejak dulu sampai sekarang sama seperti itu, dan bahkan tugas Mendagri diberbagai negara relatif ada kesamaan, yakni melaksanakan tugas pembinanan dan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan daerah di negara tersebut atau kalau bentuk negara federasi maka Mendagrinya bertugas membina negara-negara bagian,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Bahtiar Menambahkan, Berbagai produk hukum termasuk berupa Permendagri yang sudah diterbitkan oleh Kemendagri, selama 4 tahun terakhir selama masa kepemimpinan Mendagri Tjahjo Kumolo untuk memperbaiki kinerja pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat, termasuk bentuk pembinaan yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri, berupa pembekalan dan diklat khusus kepada kepala daerah yang baru terpilih tentang berbagai aspek terkait tata kelola pemerintahan dan upaya-upaya pencegahan korupsi. “Namun, sangat disayangkan jika kemudian masih terus saja terulang kepala daerah terkena kasus korupsi dengan menyalahgunakan wewenangnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” Sesalnya.

“Mendagri tidak pernah sekalipun merestui jika terdapat kepala daerah yang menyalahgunakan wewenang dalam pemberian pelayanan masyarakat. Justru sebaliknya Mendagri dalam berbagai kesempatan selalu ingatkan dan berikan arahan kepada kepala daerah agar menghindari area rawan korupsi. Kalau Kepala Daerah melayani masyarakat sesuai aturan hukum yang berlaku pasti terhindar dari masalah korupsi”, pungkasnya.(Red/Puspen Kemendagri)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru