oleh

Sudah Berterimakasihkah Kita Kepada Raja-Sultan Nusantara?

KICAUNEWS.COM — Hampir kurang tiga perempat abad yang lalu indonesia lahir sebagai negara baru diantara negara-negara yang telah mengalami proses kelahirannya terlebih dahulu. Suatu negara baru yang merdeka dan berdaulat. Proses kelahiran suatu negara kesatuan yang tidak mudah. Harus melalui fase demi fase yang cukup menguras segalanya, suatu fase yang begitu peliknya hingga berabad-abad lamanya. Negara kesatuan dengan cikal bakal dari sekian bangsa-bangsa yang mengikrarkan diri untuk menjadi satu, tunduk dan komitmen dalam satu nama “Indonesia”.

Proses kelahiran suatu negara dengan terlebih dahulu harus ditebus dengan ribuan bahkan jutaan nyawa, sekian harta benda dan harga diri yang tak terkira jumlahnya dikorbankan demi tegaknya kemerdekaan dan kedaulatan atas nama negara. Perlawanan dan perlawanan dilakukan dan dipelopori oleh para putra putri raja sultan  di bumi nusantara terhadap kolonialisasi yang terjadi ditanah kelahirannya begitu heroik hingga geloranya itu sendiri masih terasa dalam nadir darah kita.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membongkar fakta sejarah, bukan pula untuk melakukan pembelaan kepada para raja sultan dan genarasinya yang masih bertahan hingga kini. Tetapi sebagai ungkapan rasa terimakasih kami kepada para belau-beliau yang telah mengorbankan segenap kepunyaannya demi tegaknya kedaulatan negeri pertiwi. Ungkapan terimakasih kepada raja sultan serta keturunannya dan kepada para bangsawan seluruhnya yang telah melawan dan melawan dengan gigih kepada pihak asing yang mengganggu kedaulatan bangsa. Dan juga atas pengorbanan beliau-beliau yang telah mengikatkan tanah kekuasaannya untuk menjadi satu indonesia dibawah pemerintahan republik sampai saat ini.

Siapa yang tidak tahu Sultan Agung Hanyokrokusuma, Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Diponegoro, Sentot Prawiradirja, Sultan Hasanudin, Cut Nyak Dien, Sultan Trenggana, Pangeran Alap-alap Sambernyawa, Sri Sultan Hamengkubuwana dan lain sebagainya yang masih luar bisa banyaknya tokoh-tokoh raja sultan yang tercatat sebagai pahlawan perintis kemerdekaan bangsa. Nama-nama yang sejak duduk di sekolah dasar sering kita jumpai dalam pelajaran-pelajaran sejarah. Tentu tidak asing lagi nama-nama tersebut.

Tetapi pengetahuan tentang hal tersebut hanya sebatas pengetahuan bahwa beliau-beliau pernah hidup dalam masanya dan melakukan perlawanan sehingga disebut pahlawan. Tetapi apakah kita pernah bertanya pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita sempat mengucapkan terimakasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya, tulus dari sanubari kita semua kepada beliau-beliau dan para sanak kadangnya yang masih ada.? Atas apa yang mereka lakukan untuk kemerdekaan bangsa. Yang saat ini juga kita rasakan kebebasan dan kemerdekaan itu.

Hanya sedikit flash back atas perjalanan beberapa tokoh. Yang hanya mewakili sekian ribu, sekian juta tokoh-tokoh raja sultan yang telah melakukan perlawanan terhadap kolonialiisme di negerinya.khususnya pada masa-masa kerajaan dan kasultananan “Islam”. Berikut:

Perlawanan Raja Sultan Terhadap VOC

Pertama adalah Perlawanan Mataram terhadap VOC (1628-1629) yang dilakuakan pada masa kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645) raja terbesar Mataram islam. Upaya beliau untuk melakukan pembendungan terhadap usaha-usaha Kompeni yang melakukan penetrasi politik dan monopoli perdagangan.

Tercatat pada tanggal 18 Agustus 1618, kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu, sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan untuk mengusir Kompeni dari Batavia.

Serangan besar-besaran terhadap Batavia, dilakukukan dalam dua tahap. Serangan pertama, pada bulan Agustus 1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul mundur. Perlawanan pertama mengalami kegagalan disebabkan kondisi pasukan Mataram yang kelelahan dan terserang penyakit .

Perlawanan rakyat Mataram kedua terhadap VOC di Batavia dilaksanakan tahun 1629. Sultan Agung menyerang Batavia untuk kedua kalinya yang dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Pasukan Mataram berusaha membendung sungai Citarum yang melewati kota Batavia. Pembendungan itu pun bermaksud agar VOC di Batavia kekurangan air dan mudah kelelahan. Strategi ini ternyata cukup efektif, terbukti pihak kompeni kekurangan air dan terjangkit wabah penyakit malaria dan kolera yang sangat membahayakan jiwa manusia.

Perlawanan pasukan Mataram yang kedua terpaksa mengalami kegagalan lagi karena kalah persenjataan dan kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni. Jarak Mataram–Batavia terlalu jauh juga merupakan salah satu penyebab kekalahan tersebut. Musim penghujan juga menjadi sebab, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung yang seperti sebelumnya juga mengalami kegagalan. Dan perlawanan terus berlanjut oleh generasi-generasi Sultan Agung.

Perlawanan oleh raja sultan berikutnya yang tak kalah luar biasa adalah perlawanan kasultanan Banten terhadap VOC (1651-1682)

Pertentangan antara banten dengan VOC diawali Pada tahun 1619 J.P Coen berhasil merebut Jayakarta. VOC yang berpusat di Batavia ingin menguasai Selat Sunda, karena Selat Sunda merupakan daerah perdagangan Banten yang sangat penting, langkah Belanda ditentang terus oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Perlawanan Banten meningkat setelah Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta pada tahun 1651.

Untuk melemahkan kerajaan banten  VOC melakukan politik “devide et impera” atau “politik pecah belah” Pada tahun 1671. Tatkala Sultan Ageng Tirtoyoso mengangkat putra mahkota yang dikenal dengan sebutan Sultan Haji sebagai pembantu yang mengurusi urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri dipercayakan kepada Pangeran Purboyo (adik Sultan Haji). Atas hasutan VOC, Sultan Haji mencurigai ayahnya dan menyatakan bahwa ayahnya ingin mengangkat Pangeran Purboyo sebagai raja Banten. Pada tahun 1680, Sultan Haji berusaha merebut kekuasaan, sehingga terjadilah perang terbuka antara Sultan Haji yang dibantu VOC melawan Sultan Ageng Tirtoyoso (ayahnya) yang dibantu Pangeran Purboyo. Sultan Ageng Tirtoyoso dan Pangeran Purboyo terdesak ke luar kota, dan akhirnya Sultan Ageng Tirtoyoso berhasil di tawan oleh VOC sedangkan Pangeran Purboyo mengundurkan diri ke daerah Priangan. Pada tahun 1682 Sultan Haji dipaksa oleh VOC untuk menandatangani suatu perjanjian yang isinya sebagai berikut: VOC mendapat hak monopoli dagang di Banten dan daerah pengaruhnya, Banten dilarang berdagang di Maluku, Banten melepaskan haknya atas Cirebon, Sungai Cisadane menjadi batas wilayah Banten dengan VOC. Walaupun mengalami kegagalan akibat politik belah bambu tersebut perlawanan tetap terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Berikutnya Perlawanan Makasar terhadap VOC (1666-1667). Pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tallo, Sopeng, dan Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin antara tahun 1654 – 1669.

Kerajaan Makasar menjadi pesaing berat bagi kompeni VOC pelayaran dan perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Persaingan dagang tersebut terasa semakin berat untuk VOC sehingga VOC berpura-pura ingin membangun hubungan baik dan saling menguntungkan. Upaya VOC yang sepertinya terlihat baik ini disambut baik oleh Raja Gowa dan kemudian VOC diizinkan berdagang secara bebas. Setelah mendapatkan kesempatan berdagang dan mendapatkan pengaruh di Makasar, VOC mulai menunjukkan perilaku dan niat utamanya, yaitu mulai mengajukan tuntutan kepada Sultan Hasanuddin.

Tuntutan VOC terhadap Makasar ditentang oleh Sultan Hasanudin dalam bentuk perlawanan dan penolakan semua bentuk isi tuntutan yang diajukan oleh VOC. Oleh karena itu, kompeni selalu berusaha mencari jalan untuk menghancurkan Makassar sehingga terjadilah beberapa kali pertempuran antara rakyat Makassar di pimpin oleh Sultan Hasanudin melawan VOC.

Pertempuran pertama terjadi pada tahun 1633 dan pertempuran kedua terjadi pada tahun 1654. Kedua pertempuran tersebut diawali dengan perilaku VOC yang berusaha menghalang-halangi pedagang yang masuk maupun keluar Pelabuhan Makasar. Dua kali upaya VOC tersebut mengalami kegagalan karena pelaut Makasar memberikan perlawanan sengit terhadap kompeni. Pertempuran ketiga terjadi tahun 1666 – 1667 dalam bentuk perang besar. Ketika VOC menyerbu Makasar, pasukan kompeni dibantu oleh pasukan Raja Bone (Aru Palaka) dan Pasukan Kapten Yonker dari Ambon. Pasukan angkatan laut VOC, yang dipimpin oleh Speelman, menyerang pelabuhan Makasar dari laut, sedangkan pasukan Aru Palaka mendarat di Bonthain dan berhasil mendorong suku Bugis agar melakukan pemberontakan terhadap Sultan Hasanudin serta melakukan penyerbuan ke Makasar.

Peperangan berlangsung cukup lama, tetapi pada saat itu Kota Makassar masih dapat dipertahankan oleh Sultan Hasanudin. Pada akhir kesempatan itu, Sultan Hasanudin terdesak dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667.

Perlawanan rakyat Makasar akhirnya mengalami kegagalan. Salah satu faktor penyebab kegagalan rakyat Makasar adalah keberhasilan politik adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanudin dengan Aru Palaka. Perlawanan rakyat Makasar selanjutnya dilakukan dalam bentuk lain, seperti membantu Trunojoyo dan rakyat Banten setiap melakukan perlawanan terhadap VOC.

Perlawanan Rakyat Maluku (1817). Perlawanan yang dilakukan oleh Thomas Matulesi (Pattimura) terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Adapun Sebab-sebab terjadinya perlawanan ini adalah rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita dibawah VOC, Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan wajib dan kerja wajib pajak, Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda.

Akibat penderitaan yang panjang rakyat menetang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi atau Pattimura. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat Maluku.

Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir perlawanan rakyat Maluku.

Itulah beberapa kisah perlawanan yang dilakukan oleh para raja sultan di negeri ini. Selebihnya masih banyak lagi perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh raja sultan di berbagai daerah. Seperti Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, dan lain-lain.

Pertanyaannya kembali, sudahkan kita berterimakasih kepada beliau-beliau? Atas tindakan berani yang dilakukannya untuk menentang segala bentuk praktik kolonialisme di bumi pertiwi. Yang sudah memberikan tanah kekuasaannya untuk menjadi indonesia. Walaupun mungkin generasi penerusnya tidak menuntut kita sebagai rakyat biasa yang bukan bangsawan untuk menghormati. Tetapi akal dan etika kita seharusnya memahami itu.

Benar, memang tidak semua para bangsawan dan raja sultan melawan kompeni. Tak sedikit pula diantara mereka justru berkoloni dengan pihak VOC. Tetapi itu saya yakin bukan dilakukan tanpa sadar.

Saya sangat berharap negara juga turut serta melibatkan putra puteri raja sultan tersebut yang masih ada sampai saat ini untuk selalu diminta gagasan dan pendapatnya dalam banyak hal yang berkaitan dengan negara. Bukan apa-apa, tapi memang itu harus. Kalaupun toh mungkin sudah dilakukan semoga hal tersebut tetap terjaga.

Tulisan ini diterima redaksi pada Senin 10 Desember 2018 oleh Erwan Dwi Wahyuananto-Ketua Umum PMII Cabang Ponorogo.

Baca juga :  Pendidikan Suspa Radar A-23 di Lanud Adi Soemarmo Resmi di Tutup

Sumber: Refrensi dari beberapa sumber

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru