oleh

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Sorjo, Pendekar Pena Dan Bapak Bangsa Yang Dilupakan!

“Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?”–Pramoedya Ananta Toer

Tirto Adhi Soerjo atau lengkapnya Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Sorjo tercatat dalam lembar daftar pahlawan nasional perintis kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 3 November 2006 Melalui Keppres RI No.85/TK/2006 Tirto Adhi Soerjo tercatat sebagai pahlawan Nasional perintis kemerdekaan. Jauh sebelum itu, pada tahun 1973 pemerintah  memberikan anugerah kepada Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pers Nasional. Pencatatan sebagai pahlawan nasioanal terhadap beliau memang terkesan terlambat diberikan oleh pemerintah. Mengingat besarnya jasa beliau dalam masa-masa awal membuka kesadaran kaum Pribumi terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Tirto Adhi Soerjo terlahir dari keluarga bangsawan pada tahun 1875 (walaupun beberapa sumber menyebutkan berbeda perihal tahun kelahirnnya tetapi sebagian besar mengatakan tahun sekian) tepatnya di Blora, Jawa Tengah. Tirto Adhi Soerjo merupakan cucu dari R.M.T Tirtonoto seorang Bupati di Kadipaten Bojonegoro. Bupati yang pernah mendapatkan bintang penghargaan tertinggi kerajaan Belanda. Bintang penghargaan itu bernama “Ridder Nedherlansche Leew”. Ayahnya bernama R. Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero. Seorang pegawai pajak pada pemerintahan Hindia Belanda. Tirto Adhi Soerjo adalah anak kesembilan dari 11 bersaudara.

Dari garis ibunya, Tirto Adhi Soerjo masih merupakan trah Mangkunegara I dan memiliki derajat ke-4 dari Keraton Surakarta. Tirto Adhi Soerjo merupakan keturunan ke-4 dari Bupati Blora R.M.A.A. Tjokronegoro. Setelah orang tuanya meninggal dunia, Tirto Adhi Soerjo keluar rumah dan hidup bersama neneknya yakni Raden Ayu Tirtonoto. Dari neneknya  Djokomono muda banyak mendapat pelajaran dan pengetahuan, salah satunya adalah ia diajarkan hidup mandiri menjadi seorang enterpreneur. Sejak kecil Tirto Adhi Soerjo tidak pernah tinggal dengan saudara-saudaranya yang lain. Ia lebih banyak tinggal bersama bangsawan-bangsawan pribumi dan pembesar-pembesar Eropa.

Riwayat pendidikannya adalah beliau pernah menamatkan sekolah di Europeesch Lagere Shcool atau disingkat ELS. Sekolah Dasar pertama di Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1817. Sekolah yang diperuntukkan bagi keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing dan baru pada 1907 ELS secara resmi diperuntukkan bagi keturunan terkemuka dari bangsawan Pribumi. Setelah tamat dari ELS, Tirto Adhi Soerjo melanjutkan pendidikannya di STOVIA (School tot Opleiding van Inslandsche Artsen) sebuah sekolah dokter Jawa di Batavia. Namun pendidikannya di STOVIA tidak selesaikannya dan memilih keluar dari sekolah tersebut.

Rekam jejaknya sebagai seorang jurnalis ia mulai sejak waktu muda. Keaktifannya menulis membuat bakat ini semakin terasah. Konon karena alasan menekuni dunia jurnalistik inilah Tirto Adhi Soerjo harus keluar dari STOVIA. Pada 2 April 1902 Tirto Adhi Soerjo diangkat menjadi seorang redaktur pada salah satu surat perkabaran yakni Pembrita Betawi. Karirnya kian gemilang baru satu bulan ia diangkat menjadi redaktur ia kemudian diangkat menjadi pimpinan redaksi pada 13 Mei 1902. Namun akibat perselisihannya dengan pimpinan surat kabar tersebut, yakni F.Wiggers ia kemudian mengundurkan diri dan memutuskan untuk pindah ke Bandung pada tahun 1903.

Di Bandung, Tirto Adhi Soerjo bersama dengan Bupati Cianjur, R.A.A Prawiradireja mendirikan sebuah surat kabar pertama milik Pribumi. Terbitlah Soenda Berita pada tahun 1903. Soenda Berita juga merupakan Surat kabar pertama yang menggunakan bahasa Melayu. Sayang, surat kabar tersebut tidak bertahan lama. Pada tahun 1906 Soenda Berita berhenti terbit. Dan kemudian Tirto Adhi Soerjo memutuskan untuk pindah ke Bogor. Sebelumnya, di Bandung Tirto Adhi Soerjo menikah dengan R.A Siti Habibah, seorang gadis Pribumi.

Tirto Adhi Soerjo Sang Perintis Kesadaran

Baca juga :  Papua: Merdeka Atau Mati ?

Dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah kita akan banyak menemukan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti DR. Soetomo, H.O.S Tjokro Aminoto, DR. Tjipta Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat, Edward Douwes Dekker, Ir Soekarno, M. Hatta dan tokoh-tokoh yang lainnya. Atau organisasai-organisasi perintis kemerdekaan seperti Boedi Oetomo atau Sarekat Islam dan sejenisnya. Tentu nama-nama tersebut di atas tidak asing dari telinga kita. Namun kenalkah kita terhadap Tirto Adhi Soerjo? Seorang perintis yang sebenarnya. Saya kira memang tidak banyak yang tau tentangnya. Termasuk jurnalis-jurnalis abad 20 ini saya kira banyak yang tidak tahu tentang Tirto Adhi Soerjo seorang perintis dunia Jurnalism pertama.

Tokoh yang satu ini memang tidak banyak dikenal orang. dalam pelajaran-pelajaran sejarah Indonesia di sekolah-sekolah nama Tirto Adhi Soerjo tidak banyak disebut. Paling nama Tirto Adhi Soerjo hanya disebut sebagai tokoh pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) saja. Tokoh ini memang sengaja dihilangkan dari ingatan anak bangsa terutama memang karena Tirto Adhi Soerjo dinilai begitu vokal menyuarakan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga Tirto Adhi Soerjo dianggap mengancam kekuasan pemerintah kolonial. Tirto Adhi Soerjo melalui tulisan-tulisannya dengan tajam dan berani menyatakan kritik dan ketidaksepakatannya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dinilainya telah menindas dan menyengsarakan kaumnya.

Peranan Tirto Adhi Soerjo dalam sejarah awal kebangkitan Nasional memang begitu luar bisa dan patut dijuluki Sang Revolusioner. Terutama peran beliau dalam membuka kesadara awal bangsa indonesia terhadap penindasan pemerintah Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Ia juga yang sebenarnya perintis organisasi modern pribumi pertama di Hindia Belanda. Ia juga merupakan orang pertama yang menerbitkan surat kabar pertama Pribumi. Tirto Adhi Soerjo-lah mungkin orang pertama yang bicara sebuah Nation. Sebuah bangsa. Ia tidak hanya bicara Jawa, tetapi Sumatra, Ambon, Kalimantan dan Lain-lain.

Tirto Adhi Soerjo-lah orang pribumi pertama yang menekankan pentingnya organisasi sebagai wadah perjuangan kaum pribumi. Orang pada umumnya menganggap Boedi utomo adalah organisasi modern pertama Pribumi. Padahal dua tahun sebelum Boedi utomo berdiri, pada tahun 1906 Tirto Adhi Soerjo telah mendirikan organisasi modern bernama Sarekat Prijaji. Entah alasan apa Boedi Utomo justru yang dituliskan sebagai organisasi modern pertama Pribumi dan menjadikan 1908 sebagai tahun kebangkitan nasional. Padahal pada tahun 1906 Tirto Adhi Soerjo telah mendirikan  Sarekat Prijaji.

Nama Sarekat Prijaji diambil karena memang para pendirinya adalah para priyayi. Organisasi ini beranggotakan sekitar 700 orang dari berbagai wilayah di Hindia Belanda. Dan dari Sarekat Prijaji inilah kemudian juga lahir sebuah surat kabar bernama Medan Prijaji pada tanggal 1 Januari 1907. Sebuah surat kabar yang dijadikan corong perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tidak seperti surat kabar sebelumnya yang pernah di masuki Tirto Adhi Soerjo, yakni Soenda Berita yang tidak mau berbicara persoalan politik sama sekali. Medan Prijaji dinilai lebih banyak melakukan kritik dan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Melalui surat kabar inilah pejuangan Tirto Adhi Soerjo untuk membuka kesadaran pribumi digencarkan.

Tirto Adhi Soerjo juga merupakan pelopor gerakan wanita Pribumi. Dari Sarekat Prijaji tersebut lahir juga majalah pertama wanita Pribumi yang diberi nama Poetri Hindia pada 1 juli 1908. Bahkan lewat majalah inilah Tirto Adhi Soerjo mendapat apresiasi dan penghargaan dari kerajaan Belanda atas usahanya mempelopori berdirinya media wanita pertama pribumi. Bukan hanya itu, Tirto Adhi Soerjo juga mempelopori berdirinya Perseroan Terbatas (PT) pertama pribumi dengan NV Medan Prijaji. Lewat PT inilah Tirto Adhi Soerjo bertekat memerangi monopoli para pedagang dari China yang dinilainya telah terlalu menguasai perdagangan di Hindia Belanda.  

Tidak cukup itu saja. Pada 5 April 1909 di Bogor Tirto Adhi Soerjo juga mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI). Dalam rangka menyebarkan ide-ide dan gagasannya serta memajukan perdagangan bumi putera. Organisai ini juga sebagai antitesis dari Boedi Utomo dan Sarekat Prijaji yang dinilainya tidak mampu merangkul semua golongan di Hindia Belanda. Setelah Tirto Adhi Soerjo datang ke Surakarta ia bertemu dengan H. Samanhoedi, seorang pengusaha batik di Laweyan. H. Samanhoedi kemudian menjadi orang kepercayaan Tirto Adhi Soerjo dan ia memimpin SDI Afdeeling Solo sebagai Cabang SDI Bogor. H. Samanhoedi kemudian mendapat mandat sebagai pimpinan SDI setelah Tirto Adhi Soerjo tersandung perkara perdata karena hutang-hutangnya hingga dijatuhi hukuman pembuangan ke Ambon selama 6 Bulan.

Pada perkembangan selanjutnya H. Samanhoedi bertemu dengan seorang Cendekiawan  muslim dari Surabaya, H.O.S Tjokroaminoto dan mengajaknya bergabung dengan SDI. Atas usulan Tjokroaminoto SDI kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) agar organisasi ini tidak hanya terbatas keanggotannya dari para pedagang saja. Dua tokoh inilah yang kemudian meneruskan untuk mengurus SI semenjak Tirto Adhi Soerjo diasingkan di Ambon. Hingga SI berkembang begitu pesatnya. Sampai tahun 1914 tercatat cabang SI diseluruh Hindia Belanda sebanyak 56 Cabang SI. Dari SI ini kemudian banyak lahir tokoh-tokoh pergerakan Nasional.

Tirto Adhi Soerjo juga dikenal sebagai pelopor politik arsip. Nama Tirto Adhi Soerjo muncul sebagai pelopor arsip setelah adanya Skandal Donner. Skandal persengkongkolan antara Asisten Residen Madiun J.J. Donner dengan Patih dan Kepala Jaksa Madiun untuk melengserkan Bupati Madiun, R. Adipati Brotodiningrat. J.J. Donner menuduh Bupati Madiun tersebut sebagai otak dalam berbagai kerusuhan di Madiun. Dari kasus tersebut Tirto Adhi Soerjo berupaya mengumpulkan data dan juga arsip-arsip perihal ketidakbenaran tuduhan tersebut. Ditulisnya pembelaan tersebut pada salah satu surat kabar Pemberita Betawi dibawah rubrik Dreyfusiana dengan mengkritisi kebijakan pemerintah tersebut berdasarkan bukti-bukti yang diajukan di pengadilan yang menggunakan arsip Algemene Secretarie.

Atas tulisan Tirto Adhi Soerjo tersebut kemudian Algemene Secretarie memerintahkan kepada Adviseur voor Inslandsche Zaken (Penasehat Urusan Pribumi) DR. C. Snouck Hungronje untuk melakukan penyelidikan terhadap tuduhan dan laporan J.J. Donner pada Gubernur Jenderal. C. Snouck Hungronje dalam suratnya pada tanggal 29 Desember 1902 kepada Gubernur Jenderal Willem Roseboom mendapatkan kesimpulan bahwa tuduhan J.J. Dommer kepada R. Adipati Brotodiningrat adalah tuduhan yang salah. R. Adipati Brotodiningrat dianggapnya sebagai korban salah tafsir J.J. Dommer. Namun Surat tersebut menjadi sia-sia. Pasalnya R. Adipati Brotodiningrat telah diasingkan ke Padang. Namun dapat dikatakan bahwa perjuangan Tirto Adhi Soerjo tidaklah sia-sia untuk melakukan pembelaan terhadap R. Adipati Brotodiningrat melalui pengumpulan arsip-arsip yang kemudian ditulisnya itu mampu mempengaruhi kesadaran banyak orang atas kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Tirto Adhi Soerjo juga disebut sebagai seorang perintis fiksi modern. Beberapa karyanya seperti Doenia Pertjintaan 101 Tjerita jang songgoe terjadi di Tanah Priangan yang terbit pada tahun 1906. Kemudian Tjerita Njai Ratna yang terbit pada tahun 1909, Membeli Bini Orang terbit pada tahun yang sama, dan Busono yang terbit pada tahun 1912. Salain itu Tirto Adhi Soerjo juga menulis tentang politik, tulisan nonfiksi, yakni, Gerakan Tjina Di Soerabaja melawan Handelsverininging Amsterdam yang dimuat dalam Soenda Berita pada tahun 1904, Peladjaran Boeat Perempoean Boemipoetera yang juga dimuat dalam media yang sama, Soeratnja Orang-orang Bapangan yang dimuat dalam Medan Prijaji pada tahun 1909, Persdelict:Umpatan juga ditulis dalam Medan Prijaji tahun 1909, Satoe Politik di Banjumas dalam Medan Prijaji 1909, Omong-omong di hari lebaran dalam Medan Prijaji 1909, Drijfusiana di Madioen dalam Medan Prijaji 1909, Kekedjaman di Banten dalam Medan Prijaji 1909, Apa jang Gubermen kata dan apa jang Gubermen bikin dalam Medan Prijaji 1910, dan Oleh-oleh dari Tempat Pemboeangan dalam Harian Perniagaan dan di muat ulang dalam Medan Prijaji tahun 1910.

Gaya penulisan bacaan politik Tirto Adhi Soerjo kemudian juga mengilhami tokoh-tokoh pergerakan yang lainnya. Seperti Mas Marco Kartodikromo dan Tjipto mangoenkoesoemo yang juga melakukan perjuangan kemerdekaan melalui jalan jurnalistik. Usaha Tirto Adhi Soerjo membangkitakan kesadaran bangsanya lewat alat yang lebih modern yakni Organisasi dan Persuratkabaran dinilai sebagai sebuah kesadaran maju untuk bangkitnya gerakan pembebasan Nasional daripada metode lama yakni perlawanan secara fisik yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulunya. Lewat organisasi dan Persuratkabaran Tirto Adhi Soerjo gagasan akan kesadaran Nation disalurkan. Nasionalisme yang tidak terbatas pada perbedaan agama, suku, dan kelompok. Tirto Adhi Soerjo-lah yang juga telah menyatukan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran kebangkitan Nasional. Termasuk dengan kekuatan Arsip Tirto Adhi Soerjo melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Dan akhirnya seorang pendekar pena dan perintis kebangkitan nasional kembali ke tangan pemiliknya pada 7 Desember 1918 di batavia. Setelah menjalani masa pembuangan selama 6 bulan di Ambon. Dan berakhirlah perjuangan Sang Revolusioner dan Bapak Bangsa Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Sorjo. Nasib Tirto Adhi Soerjo tak semanis peranannya dalam membuka kesadaran pribumi atas penindasan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tirto Adhi Soerjo mengakhiri hidupnya dalam kesendirian, kesepian dan dalam bentangan tembok tinggi nan kokoh bernama Kolonialisme Belanda.

Catatan tentang perjalan perjuangan Tirto Adhi Soerjo dalam membuka kesadaran pribumi di abadikan oleh Sastrawan besar Indonesia Pramodya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru dan Sang Pemula. Walaupun dikisahkan dalam bentuk Roman tetapi tidak mengurangi makna dari seberapa hebatnya Tirto Adhi Soerjo dalam perjalanan juangnya. Artikel-artikel yang menuliskan tentang Tirto Adhi Soerjo juga sudah mulai bersebaran di media-media modern. Dan tulisan ini hanya sekedar pelengkap dari tulisan-tulisan yang telah hadir sebelumnya.

“Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita telah melupakan mereka yang mati untuk Revolusi!”- Soe Hok Gie.

Tulisan ini di Terima Redaksi lada Selasa 11 Desember 2018 oleh Erwan Dwi Wahyunanto-Ketua Umum PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Ponorogo

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

1 comment

Berita Terbaru