oleh

Tanggapan Ustadz Sayyidi Marzuqi,SH.MH Anggota Pengacara Sunan Kalijaga SH Terkait Dengan Dakwah Yang Santun

JAKARTA,KICAUNEWS.COM-Menanggapi banyaknya pertanyaan yang datang kepada ustadz muda yang berkiprah di bidang dakwah dan advokat ini, prihal bagaimana metode dakwah yang baik khususnya dalam konteks situasi di Indonesia saat ini. Ustadz Lawyer (sebutan untuk Sayyidi Marzuqi) memberikan jawabannya dari berbagai macam literatur Islam dimulai dari Al Qur’an, As Sunnah dan Qaul-qaul ‘ulama salaf. Dalam konteks Indonesia saat ini menurut Ustadz Lawyer, Negara Republik Indonesia tidak sedang di jajah, sebagaimana yang diketahui secara istilah penjajahan merupakan kelompok/ bangsa/ negara yang memperlakukan suatu kelompok bangsa atau negara seperti memeras harta, sumber daya alam, sumber daya manusia, membuat pengertian HAM hilang dan tentu saja melakukan tindakan-tindakan kekerasan pada kelompok/ bangsa/ negara yang dijajah.

Bahkan menurut Sayyidi Marzuqi, bukti lain bahwa Indonesia tidak sedang dijajah adalah bagaimana mengenal Indonesia dari sudut pandang syarat-syarat terbentuknya Negara. Ada empat syarat, yaitu: Rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat dan pengakuan dari negara lain (unsur deklaratif). Dari semua syarat tersebut, Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah negara yang memiliki kedaulatan baik ke dalam maupun ke luar, bahkan baik Indonesia saat ini maupun berharap untuk kedepannya tidak sedang dijajah oleh negara lain. Oleh karena itu menurut Ustadz Lawyer, karena Indonesia berada dalam keadaan damai maka sebagai pendakwah harus mengetahui bagaimana cara / metode menyampaikan yang baik yaitu sesuai dengan keadaan dan waktu. Jangan ketika berdakwah, tidak tepat kondisinya seperti halnya ketika negara dalam kondisi di jajah menyampaikan hal-hal yang membuat masyarakat untuk tidak terbakar semangat juangnya dalam merebut kemerdekaan dan jangan pula sebaliknya ketika negara sedang damai, kita sebagai pendakwah menyampaikan hal-hal yang mendorong masyarakat seperti dalam kondisi dijajah menganggap pemerintah zholim, pengkhianat negara dan lain sebagainya yang mendorong masyarakat dapat merasa tidak aman tinggal di negaranya sendiri.

Oleh karena itu H. Sayyidi Marzuqi mengatakan seorang pendakwah adalah bagian dari ‘Ulama maka jadilah ‘ulama yang santun dan cerdas, sebagaimana dikatakan dalam Hadits Nabi Saw “Al ‘Ulama warotsatul anbiyaa’ artinya ‘ulama adalah pewaris para nabi”. Oleh karena ‘ulama adalah pewaris para nabi dalam hal memiliki tugas khusus untuk mengajak umat pada kebaikan maka sangat dipandang perlu seorang ulama mewarisi sifat para nabi salah satunya yaitu Fathonah, yang dalam hal ini seorang ulama harus cerdas untuk memiliki startegi dakwah yang baik dalam merangkul umat untuk menciptakan situasi yang kondusif, aman dan tentram tanpa memandang perbedaan dari segi ras, etnis dan agama untuk mencapai arti penting dari sebuah tujuan Negara.

Baca juga :  Penataan Terus Dilakukan Jelang Festival Danau Sunter

Maka dari itu menurut Sayyidi Marzuqi yang merupakan anggota HAMI (Himpunan Advokat Muda Indonesia) Bersatu yang diketuai oleh Pengacara Sunan Kalijaga,S.H. untuk mencapai fungsi ‘ulama sebagai pewaris para nabi, sudah sepatutnya dalam berdakwah mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah swt, Sebagaimana Firman Allah swt dalam Al Qur’an “ Ud’uu ilaa sabili rabbika bil hikmah wal mau’izhotil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan, artinya serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan al hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S An Nahl: 125). Melalui firman Allah tersebut, sangatlah jelas dakwah yang santun adalah mengajak manusia dalam kebaikan dengan hikmah dan cara yang baik , apabila subyek yang kita ajak tidak sesuai dengan jalan Allah maka janganlah kita sebagai pendakwah menghina bahkan mendiskreditkan/ menjatuhkan wibawa seseorang karena akhir-akhir ini banyak kita temukan seseorang naik ke mimbar-mimbar dan panggung-panggung untuk mengkritik kinerja pemerintah bahkan menyerang pribadi seseorang dengan penyampaian menggunakan kata-kata yang tidak baik dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Rasulullah SAW bersabda “Laysal mu’minu bittho’aani wa laal la’aani wa laal faahisyi wa laal badziyii, artinya bukan lah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat keji dan orang yang berkata-kata kotor” (H.R. At Turmudziy). Dari penjelasan dalil tersebut, jika ada seseorang yang mengaku-ngaku beriman lalu ia gemar mencela dan mengutuk orang lain karena tidak sepaham dan tidak pula segolongan dengan nya maka keimanannya pantas diragukan. Jangankan mengaku sebagai ‘ulama , keimanannya saja sudah patut untuk diragukan jika ia suka mencela apalagi ia gemar mencela pribadi seseorang di khalayak umum ujar Sayyidi Marzuqi ketika menjelaskan muatan hadits tersebut . oleh karena itu jika seorang warga negara merasa ada sikap dan kebijakan pemerintah yang tidak sesuai maka seorang warga negara dapat mengajukan usulan-usulannya atau suaranya kepada DPR atau membuat surat kepada instansi terkait agar diadakan pertemuan guna untuk menemukan penyelesaian yang damai karena khusunya agama Islam mengajarkan tabayun untuk saling mendengar bukan dengan ujaran ujaran kebencian apalagi disampaikan secara terbuka.

Baca juga :  Dinas Pendidikan dan BNN Tangsel gelar Penyuluhan P4GN

Al Imam As Syafi’i pernah berkata sebagaimana dikutip dalam Syarah Qami’ut Thugyaan karangan Syaikh Nawawi Al Bantani “ Idzaa araada ahadukum al kalaama fa’alaihi an yufakkir fii kalaamihi fain zhoharot al mashlahatu takallam wa in syakka lam yatakallam hatta tazharo. Artinya, jika kau ingin berbicara maka kau harus menimbang ucapanmu. Jika itu mengandung maslahat, maka bicaralah. Tetapai jika kau ragu, maka tahan ucapan mu hingga kau benar-benar yakin itu akan mengandung maslahat”. Dari maqolah tersebut sangat lah jelas bahwa menjaga lisan sangatlah penting apalagi dalam menilai orang lain, tentu kita yakin menurut Sayyidi Marzuqi bahwa dampak lisan lebih sensitif dari perbuatan, jika luka ada diluar mungkin obat masih bisa dicari namun jika luka di hati kemakah kita ingin mencari obatnya. Oleh karenanya menurut Ustadz Lawyer (sapaan untuk Sayyidi Marzuqi) dalam berdakwah minimal ada tiga macam metode yang dapat kita berikan untuk orang lain yakni yang pertama, dakwah bil lisaan yaitu dakwah dengan lisan atau berkata yang baik, santun dan penyayang sehingga dakwah kita mudah diterima dari segala macam lapisan masyarakat. Terlebih jika kita memberikan nasihat dalam hal yang tidak sefaham dengan diri kita terutama keluar dari ajaran Islam, maka janganlah kita tegur ia dalam khalayak ramai apalagi menjelek-jelekannya, sebagaimana dikatakan dalam syair Imam Syafi’i “ta’ammadanii binushika fin firoodii, wajannibnin nashiihatu fil jama’ah. Artinya, berilah nasihat kepada ku ketika aku sendiri, jauhilah memberikan nasihat ditengah-tengah keramaian”. Oleh karenanya jika ada suatu permasalahanan, Islam mengajarkan untuk tabayun terlebih dahulu atau melakukan klarifikasi agar bisa ditemukan jalan keluarnya sehingga tidak ada kecurigaan yang dapat menimbulkan hasud dan fitnah.
Masih dalam dakwah bil lisaan menurut Ustadz Sayyidi Marzuqi, tidak sedikit pada saat ini banyak orang yang naik ke panggung-panggung dengan mengatas namakan agama namun mengajak ummat untuk membenci pemimpinnya, padahal Rasulullah Saw bersabda “ Man arooda an yanshoha lishultonin bi amrin falaa yubdilahu ‘alaaniyatan. Artinya, barangsaiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakan di khalayak ramai”. (HR. Ahmad). Sungguh kita berlindung kepada Allah Swt dari murkanya jika kita masuk dalam hal seperti itu.
Yang kedua, dakwah bil qolam yaitu menggunakan metode dakwah dengan tulisan yakni dengan cara kita membuat suatu artikel, buku ataupun kitab yang memuat sejarah-sejarah para Nabi, Rasul, auliya dan salafus sholih dalam menjalankan strategi dakwah ataupun menjalankan roda pemerintahan yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, sehingga dengan kreatifitas kita sebagai pendakwah untuk menggunakan metode dakwah dengan membuat sebuah tulisan melalui buku atau kitab kitab yang sesuai dengan keadaan atau konstemporer dapat mudah di fahami oleh masyarakat luas pada umumnya dan ummat islam pada khususnya.
Yang ketiga, menggunakan metode dakwah bil haal yaitu dakwah dengan keadaan atau bisa di analogikan dengan akhlaq seorang pendakwah. Bagimana mungkin dakwah dari seorang yang buruk akhlaqnya bisa diterima oleh banyak masyarakat, minimal menurut Sayyidi Marzuqi sebelum menasihati orang lain berusaha untuk menasihati diri sendiri. Sebagai contoh bagaimana mungkin kita menasihati pemerintah dalam skala yang masif namun kita sebagai pendakwah masih belum baik dalam urusan internal rumah tangga, minimal apapun yang ada pada seorang pendakwah akan menjadi cerminan bagi masyarakat luas. Oleh karenanya Allah swt mengutus Nabi Muhammad SAW karena diri Nabi adalah sebagai sebuah panutan dengan didasarkan akhlaq Nabi Saw yang baik, sebagaimana firman Allah Swt “Laqod kaana lakum fii rosulillahi uswatun hasanah. Artinya: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Saw itu suri tauladan yang baik” (Q.s. Al Ahzab ayat 21). Dalam metode dakwah bil haal (keadaan) tidak sedikit yang salah mengartikan, yaitu tidak mudah untuk membuat perbandingan keadaan dimana Rasulullah SAW berperang melawan kaum kafir pada saat perang badar, uhud dan lain sebagainya, lantas kemudian di buat perbandingan atau persamaan pada konteks politik Indonesia saat ini, kemudian tidak sama kita membandingkan antara terbunuhnya Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Karamaallahu wajhah oleh Ibnju Muljam, perang jamal dan lain sebagainnya karena faktor kronologi saat itu tidak sama dan sangat berbeda jauh dengan keadaan Indonesia pada saat ini.

Baca juga :  Polres Kota Bandara Soekarno Hatta Kembali Jalankan “Promise”

Dilain hal, sebagai penutup Ustadz H. Sayyidi Marzuqi,S.H.,M.H. menyampaikan bahwa para Da’i untuk berdakwah selain harus berpedoman pada Alqur’an, Assunah dan Qaul para ‘ulama baik salaf maupun kholaf maka alngkah baik nya para Da’i juga memperhatikan dan berpegang pada Pedoman Dakwah yang diterbitkan oleh Komisi Dakwah MUI Se-Indonesia tertanggal 5 September 2017, yang didalamnya bertujuan untuk salah satunya terbentuknya umat Islam yang berkomitmen kepadan pancasila dan bhineka tunggal ika, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru