oleh

Diskusi Peringati Anti Korupsi Disayangkan Tak Bahas Kaitannya Kota Cerdas dengan Korupsi yang Mungkin Terjadi

Kota Bekasi,  Kicaunews.com – Dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi diskusi publik yang digagas oleh Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) dan Indonesia Fight Corruption (IFC) tak membahas lebih intens soal kaitannya kota bekasi cerdas yang mampu mencerdaskan pemerintah dan masyarakat untuk tak berprilaku korupsi di segala bidang, Senin (10/12/2018) di Balai Patriot Pemkot Bekasi.

Diskusi lebih banyak menyoroti pro dan kontra apakah kota bekasi layak menyandang sebagai kota cerdas. Seperti yang dikatakan Zulkarnaen Aregar yang hadir diacara tersebut menyayangkan jika diskusi tidak menyinggung soal upaya preventif dan penindakan hukum agar korupsi tidak menjadi budaya di dalam pemerintahan kota bekasi dan masyarakat pada umumnya.

“Sayang kalau hanya membahas pro dan kontranya saja kota bekasi sebagai kota cerdas,  padahal untuk menuju kota cerdas juga menyangkut transparansi penggunaan anggaran dan implementasinya ke masyarakat. Karena aplikasi online yang ada di kota bekasi kan digerakan oleh manusia juga yang bisa saja mental ingin korupsinya masih ada, ” terang Zulkarnaen.

Menanggapi hal ini Kepala Kesbangpol Kota Bekasi, Abdillah Hamta yang mewakili Pemkot Bekasi mengatakan bahwa Kota Bekasi sudah memasuki Kota Cerdas dan sudah menerapkan berbagai aplikasi IT yang menunjang dan berbagai penghargaan pun sudah diraihnya seperti Kota Toleransi,  Kota Berintegrasi dan sebagainya.

Bahkan kata Abdillah, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan kota bekasi mampu bebas korupsi dengan programnya yang sudah diterapkan di 12 kecamatan.

Namun kata Abdillah kembali lagi kepada individu masing -masing “Integritas setiap individunya dan kembali kepada niatnya untuk bisa mencegah melakukan korupsi karena untuk menuju Kota Bekasi Cerdaa tidak hanya tugas Pemkot Bekasi tapi semua elemen masyarakat dan memang perlu proses bertahap,” ungkap Abdillah.

Kepala Kesbangpol Kota Bekasi, Abdillah Hamta

Mengingat selama ini predikat Kota Cerdas dinilai masih kurang ideal karena penghargaan yang disandang kota bekasi seperti kota integrasi,  ITE dan Toleransi tidak serta merta dianggap bahwa kota bekasi sebagai kota cerdas terutama juga soal transparansi penggunaan anggaran dan penyerapannya di masyarakat.

Menurut Yoseph dari Ormas  GNPK yang hadir dalam acara itu pembahasan kota bekasi sebagai kota cerdas masih jauh dari harapan masyarakat diantaranya fasilitas online dalam pelayanan E -KTP, dirinya merasakan sendiri, aplikasi di mall pelayanan publik tak bisa digunakan.

Begitu juga, Ketua IWO Kota Bekasi yang menyoroti soal transportasi seperti bajaj tak relevan diterapkan di Kota Bekasi karena bajaj sudah ketinggalan jaman diera digital seperti sekarang ini.” Kalah dengan sarana trasportasi online yang lebih smart dan bus tranaportasi masih belum ideal karena kultur dan budaya masyarakatnya, apalagi fasilitas dan infrastrukturnya belum menunjang, saya rasa ini perlu dipertanyakan kota cerdasnya Kota Bekasi, ” beber Iwan.

Hal senada pun dikatakan Ketua IFC,  Intan Sarigeny yang menegaskan kota cerdas yang saat ini diklaim Pemkot Bekasi belum bisa dikatakan cerdas karena menurut Intan, hal yang penting adalah bagaimana kesiapan sunberdaya manusianya.

“Karena SDM belum mampu mengimbangi dan menggunakan pelayananan publik digitalisasi yang serba smart,” ucapnya.

Sementara pemerhati kebijakan publik Yayat Priyatna lebih menitik beratkan bagaimana kota cerdas mampu memberikan kemudahan dan transparansi pelayanan publik yang bisa lebih efisiensi waktu dan tenaga serta menghemat anggaran sehingga masyarakat merasakan manfaat kota cerdas dengan berbagai sarana dan prasarana yang disediakan Pemkot Bekasi. (fie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru