oleh

Pilpres 2019: Fenomena Politik Cap Binatang

KICAUNEWS.COM — Menjelang pesta demokrasi 2019, yakni pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Kini masyarakat telah ramai-ramai membincangkan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang tersebut.

Keramaian tersebut tidak hanya terjadi pada keseharian dikehidupan nyata masyarakat, Tetapi juga media sosial.
Kita tahu bahwa dalam pesta demokrasi tersebut muncul dua nama pasangan calon Presiden dan Wakil presiden yaitu Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin sebagai pasangan calon nomor urut satu dan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahiddin Uno pada nomor urut dua.

Tentu kedua-duanya memiliki pendukung setia masing-masing.
Di media sosial muncul sektarianisasi diantara kedua pendukung pasangan calon tersebut yang sangat fanatik terhadap masing-masing calon yang didukungnya.

Tetapi yang paling memprihatinkan menurut saya adalah munculnya label pada kedua pendukung pasangan calon tersebut dimana Saya mengistilahkan “Politik Cap Binatang”.

Di kubu Jokowi-Ma’ruf menggunakan istilah “Kampret” untuk melabeli pendukung Prabowo-Sandi. Begitu juga sebaliknya, kubu Prabowo-Sandi memberikan label “Kecebong/Cebong” kepada pendukung pasangan calon Jokowi-Ma’ruf.

Ada juga yang menyebut pendukung Prabowo-Sandi dengan julukan onta. Intinya label binatang saling di tempelkan pada kedua kubu tersebut.

Saya sendiri kurang mengetahui dan memahami sejak kapan dan mengapa julukan tersebut muncul sebagai label pada masing-masing kelompok pendukung. Tetapi memang cukup nyleneh memang fenomena politik cap binatang yang sedang ramai dan hingar bingar di media sosial tersebut.

Saya melihat fenomena politik cap binatang tersebut dalam beberapa sudut pandang.

Yang pertama adalah dari sudut pandang moral kemanusiaan.

Menurut saya fenomena tersebut merupakan kejala tumbuhnya degradasi moral kemanusiaan masyarakat kita.
Bagaimana tidak? Saling ejek, saling menghina dan melabeli sesama manusia dengan hal yang derajatnya dibawah kita dengan label julukan binatang.

Baca juga :  Pengamat: Pilpres 2019, Tiga Figur Ini Yang Harus Diperhitungkan

Kita semua tahu bahwa manusia dengan seperangkat kesempurnaannya atas karunia Tuhan semesta alam diciptakan dan diberi keistimewaan berupa akal fikiran untuk membedakan derajat manusia dengan makhluk-makhluk tuhan yang lainnya, Lebih-lebih binatang yang tidak memiliki akal dan fikiran.

Tetapi fenomena yang terjadi sekarang ini manusia disamakan atau dijuluki dengan nama binatang. Padahal dengan akal dan fikirannya manusia disebut dalam firmannya Allah SWT sebagai makhluk paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang Allah ciptakan di alam semesta ini. Dengan demikian berarti saling melabeli nama binatang sedemikian itu adalah menghina ciptaan Allah SWT.

Menghina makhluk, menghina manusia berarti sama saja dengan menghina penciptanya.

Seperti yang di sampaikan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). “Bahwa menghina dan melecehkan manusia berarti dia telah menghina dan melecehkan penciptanya. Allah, tuhan semesta alam.

Dalam kaca mata lain, Kaca mata budaya bangsa. Bangsa indonesia dikenal selama berabad-abad lamanya oleh bangsa-bangsa lain sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang memiliki toleransi tinggi, bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan.

Tetapi fenomena politik cap binatang yang terjadi sekarang di media sosial tidak mencerminkan sebagi bangsa yang beradab, bangsa yang menjunjung toleransi diatas perbedaan.

Memang tidak semua masyarakat kita menggunakan beberapa istilah nama binatang tersebut untuk melabeli salah satu dari pendukung pasangan calon. Tetapi arus kencang media sosial mau tidak mau sedikit banyak akan juga mempengaruhi masyarakat luas kita. Mengingat media sosial bisa di akses dan menjadi konsumsi publik.

Cukup memprihatinkan bukan? Dan saya sendiri juga mengkhawatirkan atas fenomena politik cap binatang tersebut. Walau mungkin sikap khawatir saya di anggap berlebihan atau lebay oleh orang lain. Bahwa fenomena yang kian ramai dan memanasnya ditengah-tengah masyarakat kita tersebut, kefanatikan terhadap calon yang didukungnya akan berfek pada keterpecahan anak bangsa.

Baca juga :  Pernah Kena Sanksi, Acep-Jajuli Lolos Jadi Panwas Tangsel

Yang awalnya hanya bersifat celaan, cacian dan saling melabeli tersebut akan berdampak terjadinya chaos pada masyarakat indonesia. Bisa saja itu terjadi bila saling ejek tersebut tidak berhenti dan bahkan semakin memanas seperti sekarang yang terjadi ini.

Kita tidak tahu bagaimana fenomena politik binatang “Cebong vs Kampret” ini akan mencapai klimaksnya seperti apa. Tetapi naluri saya sebagai anak bangsa menghawatirkan keadaan tersebut adalah hal yang wajar.

Menurut saya seharusnya fenomena tersebut jangan diterus-teruskan. Mengingat bahwa memilih pemimpin negera itu adalah dengan saling memunculkan ide dan gagasan segar guna pembangunan bangsa dan kemaslahatan bersama. Bukan saling melabeli binatang, saling olok dan hina seperti itu.

Sampai disini kita menyadari bahwa tingkat kedewasaan berdemokrasi masyarakat kita masih belum sesuai dengan harapan bersama. Masih jauh dari makna demokrasi itu sendiri.

Terbukti dengan adanya politik cap binatang tersebut. Kita harus berani mengakui keadaan tersebut Dan mengevaluasi proses berdemokrasi kita sehingga hasil dari pesta demokrasi yang kita lakukan juga bisa kita rasakan hasilnya.

Beda pilihan silahkan tetapi keutuhan bangsa dan negara harus kita jaga.

Teringat seperti pesan Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya (Pekalongan). “Beda baju silahkan, beda pilihan silahkan, beda partai silahkan. Tetapi menjaga keutuhan NKRI wajib dilaksanakan”. Jangan sampai beda pilihan akan menghancurkan bangsa dan negara.

Hargai perbedaan, hargai pilihan orang lain/kelompok lain. Jangan saling hina dan cela. Karena kita adalah bangsa yang beradab. Kita jaga bersama keutuhan bangsa dan negara. Mari kita kawal pesta demokrasi dengan saling tukar ide dan gagasan guna pembangunan bangsa dan negara.

Artikel ini diterima redaksi pada 06 Desember 2018 yang dikirim dan di tulis oleh:
Erwan Dwi Wahyunanto, Ketua PC PMII Ponorogo.

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru