oleh

Gunungan Sampah Bambu Kembali Penuhi Sungai Cikeas, Walhi dan KP2C Tuding Ada Faktor Kesengajaan

BEKASI, Kicaunews.com – Belum seminggu sungai Cikeas dibersihkan dari  sampah bambu, hari ini gunungan sampah bambu kembali menutupi aliran sungai Cikeas di Bendung Koja, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Lokasinya berbatasan dengan Desa Bojongkulur, Kabupaten Bogor.

Pemerhati lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Puput D Putra, merasa prihatin dan ia menduga ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu.

“Jelas ini berbahaya, tumpukan limbah bambu ini berpotensi terjadi banjir karena akan  menjadi sumbatan aliran di kali dan menumpuk sampah lainnya,” ungkapnya prihatin.

Melihat kondisi yang berulangkali terjadi itu, Puput menilai tindakan pembuangan sampah bambu yang  bisa mencapai ribuan kubik ini, jangan dianggap sepele. “Kejadian ini harus cepat ditelusuri,  dari mana asal bambu ini, kalau diketahui ada indikasi ke sengajaan  harus ditindak tegas dan bisa dipidanakan pelakunya,” terang Puput menanggapi peristiwa langka ini dengan heran, Senin (26/112018).

Pelaku yang sengaja membuang limbah sampah bambu tersebut ke sungai dinilai aktivis lingkungan hidup ini sebagai tindakan kesalahan fatal yang dapat membahayakan lingkungan hidup dan makhluknya.

“Dampak pencemaran limbah bambu ini tentunya  merusak kondisi ekosistem lingkungan di sepanjang sungai bekasi yang terdampak dan pencemaran ini tentunya dikeluhkan oleh masyarakat karna  berdampak banjir di wilayahnya,” jelas Puput.

Pelaku yang telah mengabaikan lingkungan hidup dengan sewenang wenang merusak lingkungan hidup bisa dikenakan  UU RI No.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan
PP RI No.20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air.

“Tegakan peraturan dan berikan sangsi tegas kepada pelaku pencemaran lingkungan berdasarkan pasal 90 ayat (1) UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah berwenang meminta ganti rugi pada pelaku pencemaran.

Baca juga :  Brimob Jabar Cek Langsung Ketahanan Pangan Ke Petani Sekitar Winong, Cirebon

Merujuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 13/2011, nilai ganti rugi itu dapat dihitung dari akumulasi biaya pemulihan lingkungan, karna adanya kerugian ekosistem, serta kerugian lainnya terhadap organisme perairan yang mengakibatkan akan terganggunya proses kehidupan organisme dan mahluk hidup lainnya.

Sementara Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi -Cikeas (KP2C), Puarman mengaku pagi tadi, Senin (26/11/2018) kondisi sungai cikeas kembali dipenuhi tumpukan sampah bambu di pintu air Koja, Jatiluhur.

“Jika tidak segera dibersihkan setidaknya empat perumahan berpotensi terancam banjir,” ujar Puarman, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Senin (26/11/2018), di lokasi gunungan sampah.

Menurut Puarman, sore hari KP2C  bersama pasukan katak dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, kembali bekerjasama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan pembersihan. Kerja kali ini cukup berat karena lokasinya  sulit diakses alat berat maupun truk.

Hingga saat ini belum juga diketahui sumber asal  sampah bambu. Ditengarai, bambu-bambu tersebut bekas digunakan dan dibuang begitu saja ke badan  sungai.

Pelaku pembuangan sampah ke badan sungai terancam sanksi pidana atau denda Rp 50 juta sesuai peraturan daerah.

“Harus ada efek jera, karena kasus ini berulang terus. Kami berharap instansi terkait mengambil tindakan seperlunya sehingga tindakan pembuangan sampah ke badan  sungai Cikeas berhenti,” ujar Puarman.

Sampah bambu akhirnya kembali diangkat dan sungai Cikeas kembali bersih dan sebelumnya tim KP2C melakukan susur sungai dengan menggunakan perahu karet. “, Ada dugaan sampah bambu ini sengaja dibuang oleh pihak tertentu tapi kami belum tahu siapa pelakunya, ” pungkasnya. (fie)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru