oleh

Pemilih Milenial Jangan Pilih Partai Yang Mendukung Perda Berdasarkan Agama

 

KICAUNEWS.COM – Peraturan daerah berbasis agama tertentu yang menjadi polemik belakangan ini telah menggugah rasa nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa yang utuh. Hal itu disampaikan Koordinator Jaringan Anti Intoleransi dan Anti Korupsi, Alan Singkali, minggu (25/11) di Tebet Jakarta.

Sebagai produk hukum, Alan menilai, perda berbasis agama, baik perda berdasarkan Injil, Syariah, dan lainnya justru bertentangan dengan prinsip ekualitas (kesamaan di depan hukum) karena aturan agama tertentu seharusnya tidak berlaku bagi pemeluk agama lain.

“Perda berbasis agama rentan terhadap terjadinya diskriminasi, sebab yurisdiksi hukum mengatur warga dalam sebuah kawasan tertentu, konteks perda, berarti di kawasan suatu daerah,” kata Alan Singkali.

Menurutnya, menjelang pemilu serentak tahun 2019, kita akan memiliki pemilih pemula baru sekitar 14 juta orang, dan ada sekitar 40% pemilih milenial dari total keseluruhan Daftar Pemilih Tetap. “Mereka yang disebut milenial ini harus diselamatkan pemahamannya tentang kehidupan berkebangsaan.” Kata Alan.

Politik identitas, sambung Alan, tidak boleh menjadi konsumsi politik mereka. Oleh karena itu perlu untuk segera menghentikan kriminalisasi terhadap sikap politik atas perda berdasarkan agama tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie Louisa, dilaporkan karena pidato politiknya yang konsisten menolak Perda Injil dan Perda Syariah pada rangkaian acara ulang tahun partai.

“Pasca pidato tersebut, ada banyak partai yang menyatakan mendukung perda-perda berbasis agama. Kami menghimbau pemilih milenial untuk tidak memilih partai yang mendukung perda berdasarkan agama, karena itu tidak sesuai dengan komitmen kebangsaan kita” tutur Alan. (HM).

Alan Singkali, Adalah Koordinator Jaringan Milennial. Ia juga sebelumnya adalah Sekertaris Jenderal Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru