oleh

MHR Shikka Songge : Refleksi Hari Guru Nasional, Guru, Potensi Bangsa Yang Hilang

JAKARTA,KICAUNEWS.COM – Oleh : MHR. Shikka Songge (Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Muballigh PP. BAKOMUBIN)Tawuran siswa kembali terjadi di ibu kota negara dan beberapa kota lain di tanah air. Seakan perkelahian dan tawuran siswa sudah menjadi tabiat dan tradisi yang terpelihara di kalangan siswa atau sekolah dari masa ke masa.

Tawuran antar siswa di Jakarta, ibu kota negara, bila tidak dicegah dengan mencari solusi yang terbaik, maka sekolah bisa menjadi tempat berseminya embrio premanisme dan kriminalisme di masa depan. Tentu tidak bisa dibayangkan masa depan suatu bangsa bila premanisme tumbuh di sekolah.

Peristiwa tawuran antar siswa ini terjadi dalam situasi tertentu. Saat negara dalam kondisi gonjang ganjing, diterpa oleh berbagai persoalan. Maka sesungguhnya perkelahiran atau rawuran siswa ini memberikan sebuah pesan peringatan yang amat memalukan kepada Presiden Presiden Joko Widodo. Bahwa di kepemimpinan seorang Presiden sipil yang kalam dan lembut terjadi perkelahian siswa. Ada apa itu ?

Selain itu fenomena tawuran ini peringatan bagi penyelenggara negara. Sekaligus sebagai tamparan berat bagi guru penyelenggara pendidikan, bahwa mereka gagal menjalankan misi sebagai guru dan pendidik.

Perlu ada kajian komperhensif tentang fenomena apa yang melatari peristiwa perkelahian yang mentradisi di negeri ini ? Apakah guru di sekolah tidak punya cukup moral dan wibawa lagi untuk mengedukasi sisiwa ? Atau guru telah kehilangan karakter dan tugas kesejatian pembentuk peradaban ?. Ataukah guru hanya mengajar seperti halnya guru privat yang sekedar mengisi jam ajar. Usai mengajar guru tinggalkan sekolah ?

Padahal sejarah mengisahkan narasi panjang tentang peran ideologis guru, bahwa sejatinya guru, pendidik adalah tonggak pejuang peradaban bangsa. Guru yang menentukan arash kiblat sebuah bangsa. Sekarang di mana guru mulia pemandu peradaban bangsa itu berada ? Apakah mereka hilang ditelan oleh kejahiliaan zaman ? Apakah mereka sudah menguburkan idealisme mereka sebagai pejuang ideologis ? Apakah jiwa dan fikiran mereka tergilas oleh faham kapitasme ?

Dalam perspektif idealistis pendidikan, fenomena tawuran siswa itu menunjukan rusaknya kongnisi, intelegensi, moral dan hancurnya integritas siswa Indonesia. Tentu masalah ini solusi pembenahannya terletak pada sistem pendidikan. Karena pendidikan merupakan instrumen transformasi bathin, fikiran, sikap dan keseluruhan pola prilaku siswa. Sedangkan faktor yang diperlukan dalam emplementasi tugas pendidikan adalah sekolah, guru dan kurikulum.

Baca juga :  Bhabinkamtibmas Polsek Kebayoran Lama Himbau Prokes Kepada Pekerja Proyek Pemasangan Sanitasi Air di Pondok Indah

Sementara kurikulum keilmuan yang ada saat ini tidak sanggup menerangi dan memformulasi keutuhan pandangan siswa untuk menjadi sumber daya masa depan. Untuk itu mutlak diperkukan kurukulum keilmuan yang utuh (integralistis) bertujuan untuk membentuk integritas kepribadian dan cara pandang siswa memiliki visi orang orang terpelajar ?

Bahkan boleh jadi akibat rasionalitas kurikum yang bersifat imparsial itu, orang tuapun tidak lagi menjadi panutan yang dihormat. Apalagi para orang tua yang sering melalaikan tugas utamanya, tidak lagi sungguh sungguh menjalankan perannya sebagai orang tua yang dihormati dan dipatuhi oleh anaknya.

Tentu ada hal yang yang sangat prinsipil dan substansif hilang dalam diri setiap eksistensi pelajar. Pelajar, ialah sosok seorang berilmu, terdidik cara berfikir maupun tindak tanduknya. Setiap hal yang dilakukan seorang pelajar terlebih dahulu direnungkan difirkan manfaat serta dampak yang akan terjadi.

ISLAM DAN ILMU

Islam mengajarkan bahwa setiap siswa yang akan keluar dari rumah dengan tujuan mencari ilmu maka statusnya dijamin Allah sebagai syahid hingga ia pulang ke rumah lagi (HR Imam Tarmizi). Begitu tinggi islam menghargai status orang yang sedang belajar, karena belajar merupkan kewajiban individual bagi setiap muslim.

Bahkan islam mensyaratkan bahwa tujuan kehidupan dunia dan akhirat kelak hanya bisa diarahi dengan ilmu pengetahuan. Dan Allah pun tidak akan menerima amal perbuatan seseorang bila tanpa ilmu. Olehnya berilmu bagi seorang muslim menjadi wajib hukumnya.

Secara paradigmatic islam menjelaskan bahwa Tauhid merupakan asas fundamental ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu yang berparadigma tauhid ialah bersumber pada Al-Qur’an (sumber qouliah) dan alam semesta (sumber kauniah) persentuhan dealektis antara quran dan alam semesta melahirkan empat bidang ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan humaniora, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan eksakta dan ilmu pengtahuan agama. Melalui pendekatan di atas wawasan siswa menjadi integral tidak dikhotomis.

Baca juga :  Kapolsek Sinjai Borong Polres Sinjai Hadiri Upacara Persemayaman Almarhum Mappanyukki Mading Kades Bonto Sinala

NEGARA DAN PENDIDIKAN

Di Indonesia sesuai dengan perintah UUD 1945 negara mengambil alih urusan pendidikan sebagai bentuk dari tanggung jawab untuk mencerdaskan dan meningkatan kualitas, karakter dan martabat anak- anak bangsa.

Pertanyaannya apakah negara serius mengolah pendidikan ? Artinya sarana pendidikan yang ada harus tersedia secara memadai. Kurukulum yang komperhensif, tidak parsial dan dikhotomistis, tidak memisahkan dimensi iman dalam ilmu, dan tidak memisahkan ilmu dari iman.

Bila proses pendidikan yang memisahkan dimensi iman dari ilmu, atau memisahkan dimensi ilmu dari iman, maka dampaknya dipastikan akan melahirkan lulusan sekolah yang memiliki visi yang parsial, visi dikottomistik, pribadi yang terpecah tidak kaafah. Hal ini merupakan suatu problem yang sangat serius bagi sebuah negara yang dihuni oleh para ummat yang beragama.

Walhasil pendidikan hanya menghabiskan waktu dan ongkos yang besar tapi gagal melahirkan manusia besar. Dan yang lebih mengerihkan lagi negeri ini akan kesulitan mencari pemimpin yang berilmu, berperadaban dan bermartabat.

Saya mengamati perkelahian anak sekolah yang bersifat masif di berbagai kota dan nyaris tiap hari terjadi seperti di tahun 1996 -1998 menjelang jatuhnya Pak Harto pada bulan Mei 1998. Mereka berkelahi di jalan raya saling kejar-kejaran, lemparan batu, sambil membawa benda seperti kayu, bambu, ikat pinggang bahkan senjata tajam.

Tentu perkelahian ini tidak hanya merugikan pada diri setiap siswa sendiri, tetapi juga sangat mengganggu kepentingan publik. Terutama bagi pengguna jalan raya dan transportasi umum dan transportasi pribadi menjadi terganggu.

Bahkan image sekolah dan para gurupun menjadi tercemar. Sekolah dan guru mendapat stigmatisasi buruk, dianggap tidak sanggup mengelola proses pendidikan bagi anak-anak didik. Begitu pula pandangan yang sama akan dimerekkan kepada kedua orang tua, bahwa orang tua juga tidak maksimal memerankan peran sebagai orang tua yang total untuk mengedukasikan anak, sehingga sekolah menjadi tempat penitipan atau pelarian bagi anak karena kesibukan dan hal lain pada orang tua.

Baca juga :  Warga Desa Sukaharja Geram, Adanya Penambangan di Gunung Batu

Perkelahian antar siswa itu menunjukan potret buruk wajah pendidikan Indonesia. Setiap kabinet ganti mentri ganti kurikulum tanpa tahu sesungguhnya masalah utama yang menimpa dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia hanya sekian jam dan hanya di sekolah tempatnya. Kurikulum hanya untuk mengasah ketajaman otak, ketangkasan otak, dan untuk kepentingan pragmatisme positivistis. Hal ini menunjukan bahwa kurikulum itu bersifat amat parsial tidak utuh dan tidak komperhensif.

Dalam konteks UUD bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Kemajuan pendidikan menggambarkan kesanggupan sebuah negara bisa mengungguli kompetisi peradaban masa depan. Namun apabila negara gagal mengelola pendidikan berarti hal in mengindikasikan bahwa negara tidak siap bertarung di masa depan.

KEMBALIKAN MARTABAT ILMU DAN GURU

Kita ingat bahwa sebahagian besar tokoh kebangsaan yang menghantarkan Indonesia merdeka, dan menjadi pemimpin di awal Indonesia merdeka, adalah pendidik atau guru.

Saya kira rekonstruksi ketokohan dan kepemimpinan kebangsaan, apalagi dalam konteks Indonesia yang pluralis dan menghadapi fenomena globalisasi dewasa ini, adalah para guru, pendidik berintegritas dan berkarakter. Mengingat konten masyarakat pluralis globalisasi memerlukan kehadiran identitas suatu bangsa. Di mana globalisasi telah meruntukan batas batas antar negara dan bangsa, maka identitas bangsa menjadi penting.

Pada gurulah negara akan bernurani dan beridentitas dan bermartabat ke Indonesiaan. Kembalikanlah martabat guru sebagai pemandu peradaban bangsa.

Serta hadirkan konstruksi keilmuan yang utuh tanpa dikhotomi, antara ilmu umum dan agama dalam satu sistem kurikulum pendidikan ke Indonesiaan. Ilmu agama bukanlah program komplementer yang sifatnya hanya pendukung. Bila demikian persepsi tetang ilmu yang dimaksud, maka sudah barang tentu tidak akan ada perubahan sosial fundamental yang berkeadilan selain tambal sulam.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru