oleh

Diduga Menyelewengkan Anggaran Pembangunan Kampus, Rektor UMJ Di Tuntut Turun

JAKARTA, KICAUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang belum lama ini gencar melalukan pembangunan kampus untuk meningkatkan fasilitas proses perkuliahan sepatutnya harus di acungi jempol. Sayangnya, kondisi yang terjadi malah berbalik arah yang harusnya terserap dengan baik malah berujung memperkaya diri sendiri dengan memanipulasi anggaran.

Pantauan kicaunews dilokasi, Aksi unjuk rasa pun dilakukan para mahasiswa UMJ yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa dan Alumni Universitas Muhammadiyyah Jakarta (AMAN UMJ) di depan Rektorat Univesitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Dimana aksi tersebut dilatarbelakangi adanya dugaan penyalahgunaan anggaran dalam pembangunan gedung UMJ.

Dalam orasinya, Koordinator aksi Husein menyampaikan, pada proses pembangunan diduga telah terjadi mark up luar biasa. Kemudian, berdasarkan dari bukti-bukti yang diperoleh kuat dugaan menyatakan bahwa semua proyek pembangunan yang berjalan tidak rasional dikarenakan besarnya jumlah nominal pembangunan.

“Maka bahasa yang pantas atas dugaan penyimpangan dan penyelewengan besar-besaran ini adalah telah terjadi perampokan dalam skala besar yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur atas semua pembangunan yang terjadi di UMJ,” Ujar Husein.

Lebih rinci dikatakan Husein, Poin-poin penyelewengan yang ditelusuri di antaranya Pembangunan gapura  dan secure parking selamat datang. Fakta dan sumber yang ada oleh PT Delapan Mata Angin, Direktur Novery diperoleh data yang mengatakan pembangunan tersebut menghabiskan dana sebesar Rp 1.157.000.000 ( satu milyar seratus lima puluh tujuh juta rupiah).

Menurut pakar dan ahli kisaran pembangunan hanya menghabiskan dana sekitar Rp. 300.000.000 ( tiga ratus juta rupiah), dalam hal ini ditemukan adanya ketimpangan nominal yang sangat jauh. Sama-sama pula kita rasakan dengan pembangunan yang menghabiskan dana begitu besarnya namun tidak ditunjang dengan fasilitas yang baik karena sering ditemukan kerusakan pada Secure parking yang membuat kenyamanan terganggu.

Tidak hanya itu, lanjut husein menambahkan, Pembangunan food court  UMJ Telah diperoleh data dari pemborong CV Adhi Putra Perkasa Direktur Galihbianto Adhi P.ST dengan kisaran dana Rp. 5.153.922.000.000 (lima milyar seratus lima puluh tiga  sembilan ratus dua puluh dua ribu rupiah) tetapi menurut ahli dibidang tersebut kisaran dana yang dihabiskan dalam pembangunan ini adalah Rp. 3.000.000.000 (tiga milyar).

Pertamina mengajukan peminjaman ruangan untuk Pelatihan Volunteer ASEAN GAMES dengan sewa sebesar Rp. 493.500.000 (empat ratus sembilan puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah); namun biaya sewa tersebut tidak disetorkan ke rekening UMJ melainkan disetorkan kepada rekening pribadi a/n: Saprudin Dalih.

Setelah penyelewengan tersebut terendus dan beberapa unsur kampus mempertanyakan, barulah dana tersebut dikembalikan via transfer ke rekening UMJ namun hanya dengan jumlah Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

Pertanyaannya, ke mana sisa uang sebesar Rp. 293.500.000 tersebut? Atas perintah dan kuasa dari mana sehingga Saprudin Dalih (Nero) selaku Ka. Biro Umum UMJ sampai berani menerima uang tersebut ke rekening pribadinya?

Dalam perjanjian pembelian tanah dan pembangunan unit rumah yang diperuntukkan bagi karyawan antara UMJ dengan CV. Adhi Putra Perkasa. Aneh dan janggalnya adalah pihak Pengembang (CV. Adhi Putra Perkasa) justru meminjam uang kepada UMJ untuk dana proyek yang ditanganinya. Dengan logika dan alasan apapun hal ini sangat tidak bisa diterima oleh akal.

Ditegaskan Husein selaku korlap menyatakan bahwa aksi ini tidak ada unsur politik dalam pemilihan rektor.

“Tidak peduli siapa rektor yang terpilih bukan urusan kami, kami fokus terkait perampokan berjamaah dan aksi ini bukan yang terakhir tapi akan ada aksi yang lebih besar jika tuntutan yang telah diajukan kepada BPH badan pengurus harian UMJ tidak meng indahkan tuntutan tersebut,” kata Khusen.

Dan masih banyak lagi kasus penyelewengan kekuasaan dan keuangan yang dilakukan dengan pongah dan angkuh di tengah-tengah civitas akademik UMJ. Dan anehnya lagi adalah banyak civitas akademik UMJ yang tahu dan mengendus adanya penyelewengan dan kecurangan tersebut baik dari tingkat pimpinan, dosen, karyawan, hingga mahasiswa yang menjadi pilar terakhir penegakkan kebenaran dan keadilan namun lebih memilih untuk diam.

Maka, berdasarkan fakta dan bukti yang telah diperoleh Aliansi Alumni UMJ bersatu menyatakan dalam hal ini dengan diwakili oleh Aryo Tyasmoro  mengatakan sangat disayangkan karena pimpinan lembaga Universitas Muhammadiyah (BEM Universitas) tidak ikut dalam aksi tadi padahal sempat di ajak diskusi terkait kasus ini oleh salah satu stafnya namun beliau malah tutup telinga dan mata dalam aksi tadi dan diduga kuat ada persekongkolan di dalamnya.

Sementara itu, Salah satu dosen fakultas hukum Dr Muchtar Lutfi, menyarankan rektor dan tikus-tikus yang terlibat di dalamnya untuk turun dari jabatannya dan mengembalikan uang yang telah dirampok sehingga tidak merugikan mahasiswa dan SPP mahasiswa disesuaikan dengan prasarana dan fasilitas sesuai dengan yang dibayar oleh mahasiswa.

Atas adanya aksi tersebut, saat dimintai Tanggapan dari kampus yang diwakili oleh Ketua BPH (Badan Pengurus Harian) Universitas Muhammadiyah Jakarta berinisial HT mengatakan, “Asal mula terjadi penyelewengan sejak saya lagi sakit. Memang sebelumnya ada proyek, tapi dikawal langsung oleh saya. Namun, ada pembagian dana Rp 1 M untuk UMJ dari proyek yang saya kawal ini. Saya akan sampaikan kepada BPH yang lain karena saya tidak bisa memutuskan sendiri karena masih ada BPH yg lain,” Sabtu (10/11/2018).(Red/iglobalnews)

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru