oleh

FLS 2018, Guru dan Pustakawan Sekolah, Cerita Soal Peningkatan Minat Baca

KICAUNEWS.COM – Dalam upaya meningkatkan minat membaca para siswa, Tanoto Foundation melalui program membaca 15 menit setiap harinya, terus mendorong dan memfasilitasi sekolah yang telah menjadi mitra kerjanya.

Menumbuhkan minat membaca para siswa sekolah dasar, pada dasarkan diperlukan waktu yang lama, setidak butuh waktu selama tiga tahun. Demikian hal itu disampaikan Kepala Sekolah SDN 173 Tanjung Benanak, Mutia Lafrida, Rabu (31/10) diacara Festival Literasi Sekolah 2018 di Jakarta.

Mutia menjelaskan, dalam konteks peningkatan membaca, SDN 173, sejak tahun 2012 telah merombak habis, perpustakaan sekolah menjadi tempat membaca siswa. Para siswa, kata Mutia, dipersilahkan membaca buku yang mereka senangi setiap harinya.

Ada pun kegiatan rutin membaca ini, sambung Mutia, diwajibkan oleh sekolah setiap hari sabtu. “Awalnya kami dilatih dan didampingi Tanoto Foundation agar anak-anak senang membaca buku kesukaannya. Setelah tiga tahun saya melihat mulai ada perkembangan.” kata Mutia diacara festival, di Jakarta.

Sambung Mutia menambahkan, setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan kegiatan membaca buku 15 menit setiap hari, siswa SDN 173 Tanjung Benanak sudah terbiasa dengan kegiatan membaca.

“Siapa tokoh cerita yang ada di dalam buku? Maka siswa menceritakan tokoh pada isi buku yang dibacanya. Kegiatan ini membuat siswa lebih tertantang untuk memahami isi buku dengan kegiatan yang menyenangkan,” kata Mutia.

Setelah para siswa senang membaca, kata Mutia, para guru juga melatih ragam kreativitas siswa, yang sudah senang membaca. Ia mencontohkan, seperti dengan membuat piramida cerita, diorama, buku hasil tulisan siswa, poster bedah buku, dan masih banyak lagi.

“Semua hasil kreativitas siswa senang membaca itu, kami dipamerkan dalam Festival Literasi Sekolah 2018.” kata Mutia.

Baca juga :  Divisi Legal PT Angkasa Pura I Raih Penghargaan Terbaik In House Team of the years 2019

Tidak hanya itu, Mutia juga memamerkan buku tulisannya yang mengurai detail tantangan guru yang mengajar di sekolah pelosok perkampungan transmigrasi.

Dalam buku tersebut juga diulas dukungan Tanoto Foundation dalam mengubah sekolahnya menjadi sekolah yang konsisten melaksanakan budaya baca.

Tidak hanya pihak sekolah SDN 173, salah satu pustakawan SD RGM Bloksongo, Prasetya juga dalan acara Festival Literasi Sekolah 2018 menampilkan perpustakaan sekolah yang menjadi tempat inisiatif bagi para pelajar.

Seperti diceritakan Prasetya, ruangan perpustakaan SD RGM Bloksongo itu berukuran sekitar 23 meter persegi. Meskipun dengan tempat yang sempit, para siswa semangat dan mendapatkan juara 1 perpustakaan SD terbaik setingkat kabupaten, pada tahun 2018, dan juara 2 setingkat provinsi Sumatera Utara.

“Dampaknya sekarang lebih dalam sebulan lebih dari 70 siswa rutin meminjam buku di perpustakaan. Padahal sebelumnya tidak lebih dari 18 siswa,” kata Prasetya. (Haji Merah).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru