oleh

Perempuan, Psikologi dan Ketahanan Keluarga

KICAUNEWS.COM – Keluarga adalah unit perkumpulan terkecil yang memiliki tujuan untuk hidup sejahtera dan bahagia. Keluarga menjadi tempat tumbuhnya tunas baru yang akan menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban manusia. Keluarga menjadi salah satu domain kehidupan yang paling menonjol berkaitan dengan kebahagiaan bagi orang-orang di semua budaya.

Studi di Barat menunjukkan bukti kuat bahwa kehidupan keluarga sangat memengaruhi kebahagiaan (Argyle, 1987; Chilman, 1982; Rodgers dan Bachman, 1988, dalam Luo Lu, 1998). Chilman (1982, dalam Luo Lu,1998) memperhatikan hasil survei nasional dari tahun 1957 hingga akhir 1970-an dan menyimpulkan meskipun pandangan masyarakat tentang pernikahan dan keluarga telah mengalami perubahan dramatis dan transformasi yang mendasar, kehidupan keluarga masih secara luas dilihat sebagai pusat kepuasan hidup dan kebahagiaan.

Bahkan lebih jauh lagi, orang yang sudah menikah memiliki hasil yang lebih rendah, pada indeks kecemasan dan ketidakbahagiaan, atas mereka yang masih lajang, bercerai atau terpisah (Luo Lu, 1998). Keluarga yang bahagia berasal dari keluarga yang memiliki ketahanan.

Undang- undang Nomor 52 Tahun 2009 mendefinisikan bahwa ketahanan keluarga sebagai kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.

Ketahanan ini perlu diupayakan untuk diraih dengan mefungsikan keluarga sebagai sebuah sistem. Drs. Mardiya menyatakan bahwa terdapat delapan karakteristik yang harus difungsikan dalam sistem keluarga, petama, Fungsi Keagamaan, kedua, Fungsi Sosial Budaya, ketiga, Fungsi Cinta Kasih, keempat, Fungsi Melindungi, kelima, Fungsi Reproduksi, keenam, Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, ketujuh, Fungsi ekonomi, dan kedelapan, Fungsi Pembinaan Lingkungan.

Kedelapan fungsi tersebut harus utuh dijalankan tanpa cacat atau timpang demi terwujudnya keseimbangan dalam mewujudkan keluarga bahagia. Peran anggota keluarga seperti Ayah, Ibu dan Anak harus saling mengisi, merespon dan menjalankan fungsi tersebut dengan baik. Peran Ayah dan Ibu menjadi penting dalam menjalankan kedelapan fungsi tersebut dalam upaya ketahanan keluarga.

Baca juga :  Agar Tidak Ada Persepsi Buruk di Masyarakat, Pemkab Tangerang di Minta Lakukan Tes Urine Seluruh Kades

Sering kali ditemukan, Ayah sebagai kepala rumah tangga merasa cukup perannya hanya dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi dan hal itu dipersepsi paling penting dalam proses ketahanan keluarga, meskipun tidak melaksanakan fungsi- fungsi lainya dengan baik.

Berbeda halnya dengan Ibu yang kerap berusaha menjalankan kedelapan fungsi tersebut dengan baik dan mengabaikan kepentingan pribadi demi kebahagiaan keluarga. Sementara kondisi globalisasi sekarang ini, menjadi tantangan besar bagi manusia untuk bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin mencekik maupun kehadiran masalah-masalah sosial, seperti narkoba, pergaulan bebas, radikalisme, dll.

Peran Ibu sebagai seorang perempuan yang terlahir dengan nilai feminitas dominan, memiliki kepedulian dan empati alami yang lebih terkait kondisi sekitarnya, termasuk tentang bagaimana menjalankan kedelapan fungsi keluarga semaksimal mungkin diera globalisasi hari ini.

Perempuan kerap dihadapkan pada situasi-situasi dimana ia harus menjalankan fungsi pemenuhan kebutuhan ekonomi, yang selama ini lebih ditekankan pada peran laki-laki/suami. Kebutuhan yang semakin meningkat, misalnya biaya sekolah anak yang tinggi, kebutuhan bahan pokok yang kian membuat frustasi, menuntut perempuan untuk kreatif, inovatif dan mandiri agar bisa mewujudkan ketahanan keluarga yang baik.

Laki- laki terkadang abstain dalam hal tersebut, karena sebagian besar dunia patriarkhi menganggap bahwa urusan rumah dan anak menjadi tanggung jawab besar perempuan, namun meniadakan kondisi dan fakta sosial yang terjadi di lapangan. Kebahagiaan perempuan sebagai istri dan sekaligus ibu, terletak pada bagaimana kebutuhan rumah tangga dapat tercukupi dengan baik.

Padahal, perempuan juga banyak yang mendambakan agar laki- laki peduli terhadap fungsi lainya dalam membangun sebuah keluarga bahagia. Hal ini tergambar dalam penelitian Luo Lu (1998) yang menunjukkan sesungguhnya salah satu sumber kebahagiaan yang penting bagi istri adalah hadirnya peran suami yang mendukungnya dalam keluarga.

Baca juga :  Makaroni pedas mengigit hadir di Parung Panjang

Bukti lain menunjukkan bila remaja mempersepsi adanya hubungan yang baik antara Ayah, Ibu dan Anak dalam keluarga, akan lebih rendah memiliki tendensi merokok (Luk, Wang, Leung, Wu,Chen, Lam & Ho, 2017), yang diketahui merokok merupakan salah satu pintu masuk penggunaan narkoba.

Laki- laki dan perempuan atau Ayah dan Ibu dapat berbagi peran dan saling mendukung dalam kedelapan fungsi diatas secara seimbang. Oleh karenanya, perlu adanya komunikasi timbal balik dari semua pihak.

Komunikasi tersebut diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa semua pihak berperan penting untuk bisa menghadirkan ketahanan keluarga, sehingga apa yang menjadi tujuan bersama yakni keluarga bahagia dapat terwujud nyata. Mengingat, keluarga menjadi tonggak penting pencapaian derajat kemajuan hidup manusia, baik bagi dirinya, tempat tinggalnya, yang kelak akan berpengaruh bagi negara dan juga dunia.

Tia Rahmania, M.Psi.,
Penulis Adalah Akademisi dan Psikolog

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru