oleh

Mengintip Metode Pembelajaran Aktif di Nusa Tenggara Timur

KICAUNEWS.COM – Kualitas pendidikan yang berada di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) di Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini memang masih menjadi perhatian dan keprihatinan.

Selain lokasi sekolah belum tersambung dengan listrik, letak sekolah di daerah ini juga sangat jauh dari kampung penduduk, serta belum terkoneksi dengan jaringan internet dan jaringan telepon.

Meskipun begitu, semangat para tenaga pendidik di daerah tersebut, tidak surut. Semua tenaga pengajar masih tetap konsisten menerapkan metode pembelajaran yang modern.

Dengan pendekatan yang membuat para siswa senang dan mampuh membangkitkan semangat dan rasa percaya diri siswa. Para murid ini juga diarahkan untuk kritis.

Model pembelajaran yang telah diuraikan tersebut, adalah metode pembelajaran aktif. Metode belajar mengajar ini di Sumba Timur digunakan oleh semua tenaga pendidik.

Misalnya Sarvina Mbali Rima salah satu tenaga pendidik honorer di Sekolah Dasar (SD) Kadahang Nusa Tenggara Timur. Guru yang sudag mengajar selama 13 tahun ini, sepenuhnya mengajar dengan metode pembelajaran aktif.

“Berkat penerapan pembelajaran aktif, kini anak-anak  bertambah berani. Mereka  berebutan untuk maju ke depan menjawab pertanyaan atau presentasi kecil-kecilan.” kata Sarvina.

Ia membandingkan, antara metode pembelajar biasa dengan metode pembelajaran aktif, secara kalkulasi memiliki perbedaan. Menurutnya, metode pembelajaran gaya ceramah, membuat para murid tidak berani untuk bertanya.

“Tidak seperti dahulu saat saya mengajar dengan metode kebanyakan ceramah. Mereka pemalu, takut-takut dan jarang berani yang maju,” terang Sarvina.

Sama halnya dengan di Sumba Barat Daya, Heronima Gole Rere salah satu guru honorer yang aktif mengajar di SDN Potogena. Ia menggunakan metode pembelajaran aktif, dan dapat menunjang kemampuan literasi anak didiknya.

Baca juga :  Banyak Ketimpangan Lahan, Salah Siapa ?

Menurut Heronima, sekolah tempat Ia mengajar terletak di Padang Savana, yang lokasinya jauh dari perkampungan. Meskipun dengan nominal gaji sebesar 200 ribu setiap bulan, Heronima tidak patah arang untuk tetap mengajar di sekolah tersebut.

Ia menjelaskan, metode pembelajaran aktif tersebut sangat bermanfaat bagi lingkungan dan sunber belajar. “Misalnya, bagaimana  menjadikan binatang-binatang ternak seperti kambing dan babi yang sering menerabas masuk ke sekolahnya menjadi sumber belajar.” kata Heronima.

Pada saat mengajar, demikian Heronima menceritakan, para siswa diajak untuk mengamati binatang-binatang tersebut  sambil belajar menuliskan nama-namanya dan anggota tubuhnya.

“Dengan cara langsung bersentuhan dengan objek,  para siswa  ternyata lebih senang belajar dan dua kali lipat lebih cepat menguasai suku kata dan kata.” kata Heronima.

Itulah sepucuk cerita serta contoh-contoh para guru di daerah terluar, terdepan dan tertinggal, yang saat ini mulai mengenal cara mengajar menggunakan metode pembelajaran aktif. (Haji Merah).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru