oleh

Sudah Penuh, Gudang Bulog Tak Bisa Tampung Lagi Stok Beras

KICAUNEWS.COM – Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menyatakan kapasitas gudang beras yang dimiliki perusahaan sudah tidak cukup lagi untuk menampung suplai beras yang diimpor oleh pemerintah.

Pria yang akrab disapa Buwas itu menjelaskan, Bulog hanya memiliki kapasitas untuk menyimpan sebanyak 3 juta ton, sementara saat ini stok beras di gudang telah mencapai 2,4 juta ton. Namun, karena ada kerusakan dan masih ada perbaikan, maka kapasitas terisi sebanyak 2,2 juta ton.

Sehingga, ketersediaan beras sebanyak 2,4 juta ton di gudang Bulog saat ini dianggap melebihi kapasitas. Padahal, menurut rencana pemerintah, masih ada 1 juta ton beras lagi yang akan masuk gudang lewat sistem impor.

“Kurang lebih ada 500 ribu ton beras kita, beras milik negara ini harus kami simpan di luar gudangnya Bulog. Hari ini kami masih sewa, bahkan pinjam gudangnya TNI Angkatan Udara,” Kata Buwas.

Guna mengurangi stok beras di gudang, Buwas ingin Bulog secara optimal menyalurkannya ke gudang Pasar Induk Beras Cipinang. Saat ini, stok beras di Pasar Induk Cipinang diketahui ada sebanyak 47.124 ton.

Hasil dari keputusan rapat terbatas (Ratas) Kabinet Kerja pekan lalu, Bulog diwajibkan untuk mensuplai beras ke pasar sebanyak 15 ribu ton secara nasional setiap harinya.

Namun kenyataannya, pasar tidak bisa menyerap stok seperti yang diharapkan. “Bulog ingin 15 ribu [ton] itu terealisasi. Faktanya hari ini rata-rata enggak sampai 1.000 ton yang terserap,” sampai Buwas kepada Jurnalis.

Direktur Pengadaan Bulog, Bachtiar ditempat terpisah mengatakan, uang yang dikeluarkan perusahaan untuk menyewa gudang tidak sedikit. Dia mengungkapkan, Bulog perlu membayar biaya sewa gudang sebesar Rp45 miliar selama enam bulan atau hingga akhir tahun ini.

Baca juga :  Anggota DPR RI Intan Fauzi Berbagi Beras dan Masker untuk IWO Kota Bekasi

Gudang-gudang yang disewa pun tersebar di beberapa daerah seperti Karawang, Jawa Barat, karena di Jakarta sudah penuh. “Sewa biayanya enggak sedikit, ada yang Rp90 ribu per ton, per hari, per meter. Ada yang Rp 90 ribu, ada yang Rp70 ribu. Total biaya sewa besar, sampai Rp45 miliar lebih,” kata Bachtiar.

Hal yang lain juga diutarakan oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Edhy Pravowo. Ia menyebutkan, Ketidaksesuaian kapasitas gudang Bulog terhadap rencana impor beras menimbulkan pertanyaan. Tanpa impor, Indonesia sebetulnya sudah surplus beras.

“Terus terang, mengacu yang namanya impor, saya sudah tidak setuju. DPR tidak setuju. Terlebih sekarang sudah surplus. Harus dihentikan,” ujar Edhy seperti dipetik redaksi dari beritagar.id.

Dalam rapat dengar pendapat Komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian, Edhy menyebut anggota dewan akan segera melakukan penyelidikan izin impor beras. DPR menemukan indikasi penyimpangan dalam impor itu. Beberapa izin bermasalah dan ini cukup fatal.

Dia mempertanyakan dasar Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan lagi rekomendasi importasi beras. Padahal, impor beras di awal 2018 sebanyak 1 juta ton tidak terpakai. Jika ini direalisasikan, maka total impor beras tahun ini sudah mencapai 2 juta ton, dan berpotensi tidak terpakai juga.

Sebelumnya, dalam berbagai pemberitaan, Buwas kerap mengungkapkan tidak perlu mengimpor beras. Mantan pucuk pimpinan Badan Narkotika Nasional atau BNN ini memastikan tidak akan ada impor beras hingga akhir 2018. Ia mengatakan, stok beras di Bulog masih lebih dari cukup untuk konsumsi dalam negeri.

Informasi, Bulog di bawah kepemimpinan Buwas telah dua kali meminta perpanjangan impor beras. Surat perpanjangan itu diajukan pada 13 Juli 2018 dan 23 Agustus 2018.

Baca juga :  Anak Hilang Berhasil Ditemukan, Ini Cara Orang Tua dan Polisi Bekerjasama

Awalnya, izin impor diberikan kepada Bulog dari 1 Mei 2018 sampai 31 Agustus 2018. Setelah permohonan izin diperpanjang, Kemendag memberikan waktu tambahan hingga 31 Oktober 2018 bagi Bulog untuk mengimpor.

Surat terakhir, tertanggal 23 Agustus 2018 merupakan permohonan perpanjangan persetujuan Impor sebesar 1 juta ton sampai 31 Oktober 2018.

Terpisah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan izin impor beras bukan kewenangannya sendiri. Izin tersebut dikeluarkan berdasarkan hasil rapat bersama antar kementerian dan lembaga yang berwenang di bawah koordinasi kantor Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution.

Pada awal tahun, pemerintah mengeluarkan izin kepada Bulog untuk mengimpor sebanyak 2 juta ton beras tahun ini, dengan tiga tahapan impor. Tahap pertama, impor diselenggarakan pada Februari dengan kuota 500 ribu ton disusul dengan 500 ribu ton lainnya dalam impor tahap kedua pada Mei. Sementara, sisa jatah impor 1 juta ton beras dijadwalkan akan dilakukan pada September. (Haji Merah).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru