oleh

Stok Masih Kurang, Indonesia Krisis Darah

KICAUNEWS.COM – Palang Merah Indonesia (PMI), senin (17/09) resmi memasuki usia 73 Tahun. Organisasi perhimpunan nasional yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan ini resmi didirikan pada 17 September 1945, satu bulan setelah Indonesia merdeka.

PMI pun menjadi ujung tombak kebutuhan darah di Indonesia. Namun, pemerintah sebenarnya juga berandil dalam memenuhi kebutuhan itu.

Kewajiban itu disebutkan dalam PP Nomor 7 Tahun 2011 tentang pelayanan darah. Salah satunya mengatur tanggung jawab pemerintah terhadap kegiatan pelayanan darah dalam rangka menjamin ketersediaan darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Pelayanan penyedia darah di Indonesia saat ini dilaksanakan oleh Unit Transfusi Darah (UTD) dan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). UTD menyelenggarakan donor darah, penyediaan darah dan pendistribusian darah. Kegiatannya pun bisa digelar oleh pemerintah/pemerintah daerah dan PMI.

Saat ini ada 421 UTD yang tersebar secara tidak merata di 514 kabupaten/kota di Indonesia. UTD tersebut sebagian besar merupakan milik PMI, yakni 222 buah. Sedangkan sisanya sebanyak 199 merupakan milik pemerintah.

Jumlah total UTD saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan stok darah di Indonesia. Kebutuhan darah nasional mencapai angka 5.174.100 kantong, sedangkan UTD hanya sanggup menghasilkan 4.201.578 kantong.

Angka tersebut diperoleh dari UTD PMI yang menyumbangkan 92 persen. Sisanya merupakan perolehan UTD pemerintah/pemerintah daerah. Itu berarti ada sekitar 18,8 persen atau sebanyak 972.522 kantong darah yang masih dibutuhkan.

Salah satu daerah dengan kebutuhan darah paling besar ialah Jawa barat, mencapai 947.588 kantong. Namun, hanya 62% persen atau sebanyak 589.999 kantong darah yang mampu dipenuhi oleh 24 UTD.

Banten tak jauh berbeda. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 12 juta jiwa, UTD hanya mampu memenuhi kebutuhan darah sekitar 58 persen. Sementara pemenuhan kebutuhan darah Nusa Tenggara Timur merupakan paling kecil, hanya 4,46 persen.

Baca juga :  Guna Penataan Kawasan Wisata Pangandaran, SatpolPP Terus Tertibkan Bangunan Liar

Sedangkan persentase pemenuhan kebutuhan darah yang dimiliki DKI Jakarta adalah yang paling besar. Ibu Kota Indonesia ini memiliki stok 622.136 kantong darah dan pemenuhannya mencapai 300 persen dari kebutuhan yang hanya 205.553 kantong untuk sekitar 10 juta penduduknya. Padahal Jakarta hanya punya empat UTD–tiga milik PMI dan satu punya pemerintah.

Jumlah ketersediaan UTD yang tak merata di Indonesia pun dipengaruhi beberapa faktor. Antara lain syarat dan aturan masing-masing daerah, tenaga medis, hingga peralatan yang tidak memadai.

Sedangkan dari kalangan kedokteran; khususnya teknologi pelayanan darah, pengelolaan komponen darah, dan pemanfaatannya dalam pelayanan kesehatan, harus mempunyai landasan hukum.

Pelayanan darah pun hanya bisa dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi persyaratan. Ini untuk mencegah timbulnya berbagai risiko seperti penularan penyakit bagi penerima pelayanan darah dan bagi tenaga kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan (PP Nomer 7 Tahun 2011).

Namun, kesuksesan donor darah yang diselenggarakan juga bisa dipengaruhi oleh paparan informasi pada para calon pendonor. Misalnya dengan cara komunikasi yang tepat sasaran.

PMI yang kerap menggandeng komunitas atau instansi tertentu kala menggelar donor darah bisa menjadi contoh. Organisasi yang memiliki sekitar 1,8 juta relawan milenial ini juga luwes dalam memanfaatkan media sosial.

Hal ini tentu dapat membantu membangun kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah dan meningkatkan stoknya di Indonesia.

Meski jumlah UTD di setiap daerah belum memadai, tak lantas membuat darah hasil donor dihargai begitu mahal. Hal ini menjawab tuduhan kepada PMI soal harga sekantong darah.

“Semua darah dari PMI itu gratis, enggak harus bayar. Tapi, memang ada biaya yang harus di keluarkan, tapi untuk BPD atau Biaya Pemrosesan darah itu sendiri karena nggak bisa langsung disalurkan dari pendonor ke penerima. Bukan buat bayar darahnya,” tegas Dr. Farid selaku Ketua Pengurus Pusat PMI Bidang Kesehatan, Bantuan Sosial, Donor Darah dan Rumah Sakit PMI, seperti dilansir beritagar.id.

Baca juga :  Pimpin Apel Pilkada 2018 Kapolsek Karawaci : POLRI dan TNI harus bersikap Netral

Saat ini untuk mendapat sekantong darah dari stok PMI, seseorang harus membayar Rp360 ribu. Harga tersebut akumulasi dari banyak faktor. Misalnya uji kelayakan dan bebas penyakit yang dilakukan enam jam sebelum darah diberikan kepada penerima. (beritagar/HM)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru