oleh

Pergerakan Diujung Tanduk ?

KICAUNEWS.COM – Evaluasi menuju titik periode kepemerintahan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla mulai menuai kritik, serta gerakan pro dan kontra. Dinamika nasional yang terjadi dianggap mengarah kepada kekacauan, saling tuding dan saling klarifikasi.

Masifnya gerakan mahasiswa saat ini, mulai dari pinggiran di luar Kota Jakarta. Padahal berdasarkan atas kinerja kepemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, menjelaskan karya nyata yang sudah terealisasi diantaranya pemerintah membangun negeri ini mulai dari pinggiran.

Membangun Infrastruktur, layaknya pelabuhan, tol laut, jalan lintas Papua, Bendungan air dan membangun aspek kehidupan lainnya, yang dianggap sedikit banyaknya sudah dapat merubah wajah Indonesia.

Sangat memanas, ketika nilai tukar rupiah melemah yang tergilas oleh tingginya harga nilai tukar dolar, namun gerakan murni mahasiswa sangat sayang disayang apabila ditunggangi oleh kepentingan politik pilpres 2019.

Pekikan ‘Revolusi’ sampai ‘Mati’ sangatlah mengerikan. Bila mahasiswa berjuang menyampaikan aspirasi rakyat, meneriakan semangat juangnya dengan pekikan ‘Revolusi’ sampai ‘Mati’, Konotasi dari pekikan tersebut menjelma menjadi sebuah keberanian menghadapi apapun yang terjadi di medan Aksi.

Kritik Pemerintah, sangat terharu jika para pejuang mahasiswa jatuh korban, apalagi hingga berguguran. Maka yang menikmati ‘Revolusi’ adalah, tetap para kapitalis, keluarga, artis dan manusia Asing.

Baiknya ‘Revolusi’ sampai Adil dan Makmur, bukan sampai ‘Mati’. Bagaimana caranya ‘Revolusi’ sampai ‘Adil dan Makmur’ ?. Lakukan gerakan aksi yang masif, tanpa harus berbenturan dengan pihak aparat kepolisian.

Karena aktivis dan kepolisian disisi lain memiliki tugas yang sama, yaitu menjaga kesatuan NKRI dan berkebangsaan yang sama, yaitu Indonesia. Semua tunduk dan patuh dibawah panglima Konstitusi tanpa terkecuali.

Benturan antara mahasiswa dan Polisi itu, terjadi karena semangat yang tidak terkontrol. Indikasi gerakan yang berujung bentrok itu memiliki ciri Khas, dengan membawa pasta gigi (Odol), tanpa bawa sikat giginya.

Baca juga :  Mindset 80% Mahasiswa Masih Bercita cita Jadi Pekerja

Persiapan itu untuk mengatasi masalah perih dimata, ketika polisi menembakan peluru, gas air mata. Luar biasa. Tapi saat ini, Issue itu akan kabur, dan berpindah Judul. Hilang kritik, serta evaluasi kepemerintahan yang dianggap gagal, timbul Issue baru.

Sebagai contoh, satu mahasiswa terluka, enam orang diamankan dan tiga orang polisi terluka di kepala, karena terkena lemparan batu oleh mahasiswa. Akhirnya saling menuntut, yang mahasiswa meminta dan menuntut pihak polisi untuk dibebaskan teman seperjuangannya yang ditahan, dan sebaliknya.

Polisi meminta pertanggung jawaban atas tindakan dan perbuatan Mahasiswa yang dianggap melanggar ketertiban umum serta melukai aparat keamanan. Hayoooo ya kan, issue mulai bergeser dan gagal fokus deh. !

Akhirnya rakyat menonton berita ditelevisi atau membaca medsos online di grup atau Broadcast Whastap broooo. Baca berita sambil makan tahu bulat dan gorengan. #SAVE RAKYAT #SAVE MAHASISWA #SAVE POLISI #SAVE NKRI #KITA SEMUA BERSAUDARA.

Agus Harta
Penulis Adalah Koordinator Aliansi Muda Untuk Demokrasi (ALMUD).

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru