oleh

Menggugat Pemerintah: Ironi Keterpurukan Ekonomi Indonesia

Banyak kecurigaan, krisis finansial hanyalah siasat kecil dari penguasa  kapital global untuk megembalikan dominasinya, melalui berbagai lembaga keuangan dunia. Target tersebut kemudian disasarkan kepada negara-negara berkembang dan terbelakang dalam skema kredit atau utang, yang beberapa tahun lalu berhasil meluluhlantakan fundamen ekonomi serta diobral habisnya aset Indonesia.

Pada dasarnya sebagian dari kita setuju, persoalan ekonomi di negeri ini mesti berani dibincang ulang, sampai pada dasar keberadaan sistemiknya hingga dasar epistemologis dan filosofisnya. Kapitalisme khususnya, sebagai dasar ideologis dari sistem ekonomi yang diakui atau tidak-diterapkan saat ini.

Pemeriksaan secara sistemik akan memberikan asumsi tepat mengapa krisis dapat menyengat begitu lama di tubuh Indonesia. Sejak pergantian millenium, raksasa ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, Eropa dan macan Asia seperti Jepang dan China memulai perang ekonomi. Dalam sepuluh tahun terakhir muncul perang baru, yakni “perang mata uang” (Forex War).

Ini merupakan turunan langsung dari perang dagang dan perang tarif yang merupakan bagian dari perang ekonomi global yang sedang terjadi. Dunia keuangan hari ini ialah hasil dari evolusi ekonomi selama empat milinia.

Uang-hubungan yang mengkristal diantara  debitor dan kreditor yang menghasilkan bank-bank, tempat-tampat kliring untuk setiap total pinjaman yang lebih besar. Pada hari ini Indonesia tengah mendapatkan ancaman serius dalam fluktuasi ekonomi yang kian terpuruk.

Ancaman serius didapatkannya akibat ketidakmampuan para pemangku kebijakan untuk menganalisis serta memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam kolapsnya ekonomi. Gejala ini secara signifikan akan terus terjadi lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Bahkan saat ini dampaknya sudah dirasakan dengan menghilangnya jutaan lahan dalam sektor energi di belahan dunia. Banyak negara pengimpor seperti China, Korea, dan negara kaya minyak Arab Saudi, Qatar sudah melakukan hampir 500 akuisisi lahannya untuk mencegah kerusuhan sosial.

Baca juga :  Firman Abadi Cagub Independen DKI Jakarta 2017

Kita perlu mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan Indonesia mengalami civilization collapse, sehingga bisa mempersiapkan diri. Perang dagang kini menjadi entitas nyata yang mengakibakan dua pertiga minyak impor dunia hilang dari pasar.

Dalam menghadapi krisis yang sangat besar, Indonesia secara tidak langsung akan mengalami defisit sistem ekonomi dan politik dari unaccountability sistem politik, sistem ekonomi dan sistem sosial akibat dominasi atau kerakusan kaptalis.

Di sisi lain patut pula dipertanyakan dalam situasi serba defisit (politik, ekonomi, sosial) seperti sekarang: Apakah konsep globalisasi saat ini dengan lembaga multilateral (PBB, IMF, World Bank, WTO) beserta sistem forum regiona (APEC, ASEAN, NAFTA, European Union/Euro Zone Currency, USD US sebagai World Currency) masih relevan untuk mengantarkan Nation and Global Wisdom Society?

Ekonomi yang berkembang meningkatkan penerimaan pajak-memungkinkan penyerapan pinjaman dan mengembalikan keuangan negara yang berkelanjutan. Kemudian pinjaman dapat dilanjutkan jika dapat mendorong pertumbuhan lebih lanjut.

Pemerintah tidak bertanggungjawab membiayai mereka sehari-hari dengan meminjam, dan investasi tetap pada tingkat yang mereka bisa bayar. Sejarah mengajarkan bahwa utang negara harus ditangani dengan hati-hati.

Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang dapat memicu krisis hutang negara, karena dalam prakteknya krisis timbul lebih banyak dari hilangnya kepercayaan subjektif. Pemerintah harus lebih bijaksana dalam mengurai pinjaman uang untuk kepentingan infrastruktur publik, transportasi, perawatan kesehatan dan pendidikan.

Kedepan semestinya strategi harus dikompromikan dengan memasukkan komponen produk dalam negeri sehingga paling tidak pada taraf terendah, pinjaman dari luar negeri bisa menjadi suatu investasi, bukan sebagai pinjaman negara, swasta atau bisnis, sehingga tidak membebani keuangan negara.

Mengutip apa yang dikatakan Bapak Reformasi Amien Rais bahwa pemerintah belum mau menyebut ekonomi hari ini sebagai sebuah kegagalan. Apabila dalam jangka waktu delapan bulan sampai Pilpres berlangsung pemerintah belum dapat menstabilkan.

Baca juga :  Begini Penjelasan Kades Kartaharja, Soal Jembatan Rusak di Cibungur

Maka akan terlihat bahwa selama beliau menjabat ada sosok yang disebut “Dajal Ekonomi, dan Dajal Intelejen”. Pasalnya lebarnya defisit transaksi yang berjalan di Indonesia adalah biang kerok utama dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD.

Emyr Mochammad Noor
Penulis Adalah, Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jurusan Hubungan Internasional.

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru