oleh

Ini Faktor Utama Kekalahan PDIP di Pilkada 2018

 

KICAUNEWS.COM – Kekalahan calon kepala daerah yang diusung PDI Perjuangan, disebabkan karena faktor tokoh calon yang diusungnya. Sebagai partai pemenang pemilu 2014, ada kemungkinan calon yang diusung oleh PDI Perjuangan kurang positif.

Demikian hal itu dikatakan Direktur Riset Lembaga Survei, Saiful Mujani Reasearch and Consulting (SMRC),  Deni Irvan, seperti dipetik redaksi dari Media Indonesia, kamis (28/06) di Jakarta.

“Pilkada ini lebih ke pertarungan tokoh dan bukan partai, jadi orang lebih melihat tokohnya. Lagi-lagi ini belum mencerminkan elektabiliatas partai di 2019 tetapi karena calon dari PDIP mungkin kurang dianggap positif maka bisa kalah,” kata Deni.

Menurut Deni, hal itu pun tidak hanya terjadi untuk pasangan PDI Perjuangan, tetapi juga dialami oleh Partai Gerindra pada Pilkada 2018 itu.

Berdasarkan hasil survei quick count atau hitung cepat, hanya satu calon kepala daerah yang berhasil memenangkan suara pemilih yakni di Pilkada Sumatera Utara, sementara untuk pasangan yang diusung PDIP hanya menang di dua daerah, yakni di Jawa Tengah dan Bali.

Lebih jauh, Deni menjelaskan, dalam kontestasi Pilkada, publik masih melihat faktor elektabilitas, baik dari segi track record, maupun karakter tokoh, sebagai hal utama dalam pertimbangan pemilih.

“PDIP cenderung memilih figur dalam segi elektabilitas survei cukup rendah. Padahal, karekteristik pemilih dalam ajang Pilkada 2018 ini cenderung melihat sosok figur calon kepala daerahnya meski di daerah tersebut basis masa partai tersebut kuat,” kata Deni.

Gambaran kontestasi Pilkada semacam itu, sambung Deni, tidak dapat dijadikan acuan dalam kontestasi Pilpres dan Pileg 2019 mendatang. Sebab, tambah Deni, masih ada waktu satu tahun lagi guna mengevaluasi serta melakukan rekonsilidasi mesin partai di lapangan.

Baca juga :  Jhon Alang Kecewa, Ijin Gedung untuk Deklarasi Dukungan Prabowo Sandi di Kota Bekasi Dipersulit

“Faktor figur masih lebih dominan ketimbang faktor lain di Pilkada 2018 tapi itu bukan berarti daya mesin partai tidak penting, kedua faktor itu tidak bisa dipisahkan meski pemilihan figur masih lebih mempengaruhi pemilih,” tambah Deni. (Haji Merah).

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru