oleh

Tantangan Kampanye Zaman Now

EDITORIAL, KICAUNEWS.COM — Pemilu sudah di depan mata. Gambar diri para calon sudah tersebar di mana-mana. Para calon dituntut menemukan cara kreatif dalam menggaet suara pemilih. Saat ini, pemaparan visi misi dan program kerja para calon dengan cara menggelar rapat terbuka, menyebarkan pamflet atau spanduk mungking sudah tidak efektif. Mereka dihadapkan pada para pemlih abad 21 yang sehari-hari “bercakap-cakap” melalui media sosial. Medsos menjadi sumber informasi utama.

Kehadiran ponsel cerdas saat ini membuat para pelajar, pekerja, maupun ibu rumah tangga makin mudah mengakses media sosial. Di Indonesia, pengguna media sosial sekitar  130 juta, yang berarti sekitar 48% dari jumlah seluruh penduduk. Maka, para calon perlu menaruh perhatian khusus kepada para pengguna medsos tersebut. Saat ini jika dicermati, media sosial diramaikan dengan keberadaan akun-akun buzzer. Akun-akun ini – yang biasanya anonim – berperan untuk mengarahkan suatu opini tertentu menjadi booming dan viral di dunia maya. Opini-opini yang berdasarkan fakta maupun yang tidak. Jika berita-berita yang diolah oleh para buzzer adalah berita hoax dan mengarah pada ujaran kebencian bernuansa SARA, hal ini akan membuat gaduh dunia maya dan bahkan bisa berimbas di kehidupan nyata.

Dalam melakukan aksinya, para buzzer biasanya menggunakan dua akun anonim sekaligus; akun pro dan kontra untuk “menggoreng” opini yang akan diviralkan, sehingga akan lebih banyak follower diikuti komentar-komentar yang hanya akan berakhir sebagai debat kusir tanpa solusi kongkret. Dengan viralnya opini, tujuan mereka mengabarkan, mengaburkan, dan menguburkan fakta sudah tercapai.

Tujuan tersebut mudah dicapai karena target mereka adalah kaum muda yang sedang dalam masa semangat untuk berpendapat. Kelompok ini ingin suaranya didengar bahkan tak jarang ingin dianggap paling cerdas.

Selain keberadaan buzzer, pengguna media sosial di Indonesia ingin dilihat sebagai paling eksis di dunia maya dalam segala hal. Mereka kurang peduli dengan isi berita apakah baik, buruk, benar atau salah. Tanpa mencerna dan menelaah, mereka langsung menyebarluaskannya dengan harapan menjadi sumber pertama penyampaian berita dalam komunitas mereka.

Antisipasi Media Sosial

Baca juga :  Pengamat: Bukan Hanya Debutan, Sachrudin Juga Adalah Petarung !!!

Akan sangat berbahaya jika media sosial berkembang tanpa aturan. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, penyelenggara Pemilu sudah membuat aturan tentang mekanisme kampanye di media sosial, di antaranya membatasi dan mengawasi akun resmi paslon di media sosial. Hal ini berguna agar ada informasi yang jelas di dunia maya untuk mengetahui sumber – sumber berita yang tervalidasi.

Selain itu, penyelenggara pemilu juga bekerjasama dengan Menkominfo untuk mengawasi dan melakukan filtrasi akun serta konten yang beredar di media sosial; apakah konten yang berhubungan dengan kepemiluan sudah sesuai aturan yang berlaku atau masuk kategori hoax bahkan menjurus sebagai ujaran kebencian bernuansa SARA.

Paslon seharusnya bisa berfikir dengan cerdas untuk melakukan kampanye di media sosial dengan cara yang bijak. Mereka perlu mempertimbangkan bahwa warganet makin cerdas untuk bisa menilai suatu berita, apakah hoax atau fakta.

Dalam berkampanye di media sosial, Paslon harus punya gagasan yang bersentuhan dengan problem sosial ekonomi yang orisinil. Gagasan dan ide tersebut bisa dilempar ke media sosial sehingga mendapat respon dari pemilih, baik pemilih yang pro maupun yang kontra dengan gagasan itu. Lebih dari itu, mereka juga harus cepat dalam menanggapi komentar-komentar dari warganet sehingga terjalin komunikasi yang baik antara paslon dengan pemilih.

Karena kebutuhan fast response di dunia maya ini, Paslon tak mungkin sendiri dalam melakukan aktifitas atau mengelola media sosial. Mereka membutuhkan tim kampanye media sosial yang handal dan mengetahui detail tentang dunia maya. Tim ini berperan mengelola sehari-hari pada akun Paslon di media sosial, menganalisa jalannya kampanye di media sosial, dan mengamati pergerakan Paslon lainnya.

Ibarat dalam peperangan, jika dikelola dengan baik, media sosial akan mejadi salah satu senjata mutakhir untuk memenangi peperangan.  Selain itu semua, yang harus diingat adalah Pemilu hanya sebuah wadah kompetisi untuk memilih yang terbaik. Perjuangan sesungguhnya adalah ketika Paslon menang dan menjabat; bagaimana bisa memajukan wilayah yang dipimpinnya dengan program-program yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh: M Machruz (Pemerhati proses demokrasi)

Bagikan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

Berita Terbaru