oleh

Perang Jargon, Dari Pilkada Rasa Pilpres, Sampai Pilpres Rasa Hoax

EDITORIAL, KICAUNEWS.COM –Dikalangan sebagian politikus, pendidikan politik yang paling efektif adalah mengedepankan kepentingan jangka pendek, secara kasar, yang penting berkuasa.

Dengan adanya tindakan tersebut, “Jargon’ menjadi pembelah kehidupan bersama, dianggap sah. Adanya pembelah antara ‘kami’ dan ‘mereka’ telah terwujud.

Tepat pada hari kedua setelah idul fitri, muncul penggolongan poros sebanyak dua poros, diantaranya Poros Mekkah, dan Poros Peking, meskipun dua istilah poros itu dari nama luar negeri, namun tidak mejadi urusan.

Dua penyebutan dari istilah kata dalam Poros itu, sangat membingkai secara tajam, kenapa demikian, sebab Peking- penyebutan ejaan lama, untuk Beijing yang notabenenya merupakan ibu kota Tiongkok, yang dalam sejarah, negeri ini paling banyak menganut paham komunisme, negeri yang tak berasaskan Islam.

Diantara dua Poros itu, salah satu orang yang mencetuskan adanya Poros Mekkah dan Peking itu adalah Muhammad Idrus, yang merupakan Sekertaris Jenderal Bersama Indonesia.

Kelompok ini beranggotakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Partai Gerindra, dan Partai Amanat Nasional (PAN) tiga partai ini secara garis politik pada Pilpres 2014 kemarin adalah barisan pendukung Prabowo Subianto.

Meski sempat ramai, akan ada Poros ketiga pada Pilpres 2019 mendatang, namun bagi Muhammad Idrus, Pilpres 2019 tidak perlu tiga Poros, dua Poros lebih cukup. Dinamikan politik menjelang 2019 sangatlah gaduh, sebelum adanya Jargo Poros, muncul sebuah penyebutan, partai Allah versus partai setan oleh sesepuh PAN Amien Rais.

Jauh sebelum itu, muncul pula, dan masih laku, soal cebong lawan kampret. Pernah pula mekar label kafirun dan munafikun dalam Pilkada DKI 2017, padahal pencalonan resmi pilpres belum dibuka.

Kampanye resmi belum dibuka. Tapi mengelompokkan calon pendukung, untuk kemudian mengutubkannya, itu penting-apa pun risikonya. Bel pertandingan belum berbunyi tapi sejumlah poltikus sudah garang.

Baca juga :  BPP Kemendagri Tetapkan 10 Zona Integritas

Dalam politik luar negeri, istilah poros pernah laku. Pada masa Presiden Soekarno (1964) ada Poros Jakarta-Peking. Amerika pada masa Presiden George Bush (2002) melabelkan Poros Setan untuk Libya-Kuba-Suriah. (Haji Merah/Tagar).

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru