In Chinese

0
Bagikan :

EDITORIAL, KUCAUNEWS.COM – Term atau Istilah, ‘Tuan Rumah’ adalah maksud dari asal-muasal seseorang atau sekelompok orang yang di perbolehkan, mengeksploitasi bumi dan seluruh isinya, asalkan di negaranya.

Cita-cita pemerintah di bawah kepemimpinan Joko Widodo dalam berkampanye Pilpres 2014 kemarin, memberikan angin segar untuk kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan amanat Pancasila.

Sehingga hastag #Saya Indonesia, #Saya Pancasila, adalah penegasan bahwa Presiden Joko Widodo, berjanji akan mengejawantahkan, cita-cita Pancasila, berpihak kepada rakyat.
Dari sikap itu munculah sebuah klaim, bahwa Joko Widodo, adalah pemimpin merakyat.

Sementara itu, dalam faktanya, yang terjadi yaitu regulasi yang berpihak kepada, warga negara asing oleh Pemerintahan Joko Widodo, yang membludak, yaitu warga ‘China’ menyerbu Indonesia untuk bekerja.

Dari banyaknya tenaga kerja asing itu, mereka bekerja sebagai tukang pemasang listrik di rumah-rumah akyat, sebagai tukang sensor kayu, Tukang Las dan sebagai driver eksefator, memiliki gaji per/bulan sebanyak Rp.11.000.000,00 hingga Rp.16.000.000,00.

Disisi lain, warga asli, untuk mencari gaji 2 s/d 3 juta saja, sulitnya tidak dapat di terima. Lantas dimana ‘keberpihakan’ yang di gembar-gemborkan sebagai pemimpin merakyat dan nasionalis itu ?.

Sebagai seorang pemuda dan mahasiswa, saya Ultimantumkan kepada seluruh, Pemuda dan Pelajar Se-Indonesia. Ayo mari kita bersatu dan rebut kembali negeri kita dari tangan Jokowi, yang menuju negara, In Chinese itu ?.

Tuan Rumah mati lapar, karena tak memiliki pekerjaan berbang terbalik, dengan tamu, yang bergelimang Harta hanya bermodalkan sebagai tukang las.

Berikut ini janji Joko Widodo yang gagal

Pertama, Pembangunan Jalan Toll Laut yang Anomali (Maksudnya MARITIME) BAHARI (Pelabuhan) dan NAVIGASI (Kapal Laut).

Kedua, Anggaran Pembuatan Kapal Laut 400 M dengan Tujuan menciptakan 100 Kapal adalah Onani Wacana karena yang Baru berhasil ada 6 Buah, Jauh dari Target.

Ketiga, Reforma Agraria yang menurut penerjemahan kami sangat Politis dan Nuansa Nepotisme yang besar adalah Faktor dari Kegagalan Proyek ini.

Keempat, Negara Indonesia Sebagai Negara Maritim Dunia bisa jadi hanya sebagai Mimpi yang SUSTAINABLE.

Kelima, Banyak Undang2 Organik yang Sangat Jelas Mengancam Kebebasan yang ada pada UUD 1946 Pasal 38 Huruf E.

Dari Kegagalan tersebut kami simpulkan Bahwa 2019 GANTI Presiden adalah Sikap Nasionalisme serta Sikap Merakyat yang nyata dari seorang Warga Negara Indonesia. ‘Indonesia Tanah Air Beta’.

A. Aziz.Fadirubun
Ketua Bidang Kemaritiman dan Agraria, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam.

Bagikan :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*